• Perjuangan Alia
    Perempuan - 2011-07-22 | 1606 Kata | 641 Hits
    Oleh : Indarwati Aminuddin


    ALIA Rahman datang dari Shad Dand atau Shaheen Muslim Town, Pershawar, Pakistan. Usianya 30 tahun, bertubuh semampai dengan jilbab panjang menutupi separuh tubuh. Ia tiba di Wageningen, Netherland, delapan bulan lalu untuk meneruskan kuliah yang tertunda empat tahun, dan menempati salah satu kamar di lantai 3 gedung Fire House, Haarweg. Saya tidak mengenalnya hingga suatu ketika, di malam kelima ia di Fire House, ia datang mengetuk kamar dan berkata pelan, boleh masuk? Saya mengangguk. Ia duduk hati-hati dan tak sampai sedetik, airmatanya jatuh. “Saya hanya mau bicara, saya benar-benar kesepian.”

    Lahir dari keluarga konvensional di Shad Dand, ayahnya, pria pencari uang dalam keluarga, Ibunya kolot, penggerutu, tak bahagia, selalu menyakiti anak-anaknya. Bila ia marah pada suaminya, anak-anak menjadi sasaran utama. Suatu ketika, setelah berhari-hari terperangkap amarah pada suaminya, perempuan itu melempar kaleng berisi minyak tanah ke Alia, 8 tahun, yang duduk dekat kompor menyala. Dalam sekejap, api kompor menyambar minyak, dan berpindah ke tubuh Alia yang terlumuri minyak. Tak ada yang bisa merasakan sesakit apa Alia kecil yang meloncat, menjerit dengan tubuh menyala-nyala.

    Tak sampai sehari hidup Alia berubah. Wajah, dada, kaki, dan tangannya membengkak. Kantung matanya melorot, matanya tak bisa lagi dikedipkan. Pipinya dipenuhi barut, berwarna coklat. Dagu dan lehernya menjadi satu. Ia kehilangan refleks mendongak, menoleh, menggeleng. Barut bekas panggang api juga penuh di leher,dada, lengan, paha dan kakinya. Ibunya berkata, ini takdir Tuhan. Tuhan menjadi tertuduh.


    Takdir Tuhan itu mengubah segala-galanya. Alia berhenti bermain. Teman-temannya menjauh. Ia seperti monster kecil. Ia membenci Ibu dan saudara-saudaranya. Ia tak percaya siapapun. Ia menjadi satu dari perempuan-perempuan di Pakistan yang kehilangan keberanian, hidup tak tersentuh, dipenuhi mitos dan ketakutan atas nama agama. Ia bekerja di dapur tanpa berani menatap orang lain, mencuci pakaian saudara-saudaranya, dan membiarkan rasa benci, sendu, kesepian melekat seperti lintah dalam hatinya. Setiap melihat wajahnya di cermin, ia melihat api yang menyala-nyala.

    Suatu ketika, Ayahnya yang dipenuhi rasa bersalah berkata, bersekolahlah, dimanapun, sampai kapanpun. Alia pun bersekolah, menamatkan kuliahnya, lalu bertemu pria melalui internet, yang berkata hai saat melihat seorang perempuan
    Pakistan berseri-seri berani menerobos dunia maya untuk berteman. Komunikasi mereka mengalir, tak terbendung. Alia tak bisa menahan jebolnya sisi lain dari dirinya yang kritis dan berani. Pria itu, setelah bertahun-tahun menghadapi banyak perempuan penurut di keluarganya, terpesona oleh kecerdasan Alia. Ia terburu-buru ingin bertemu. Pertemuan pertama mereka dipenuhi kekagetan. Mana perempuan berseri-seri di internet itu? Itu ternyata foto adik Alia. Mereka berdua beristigfar. Namun pria itu jatuh cinta pada email-email Alia yang kuat dan bertenaga. Ia tak peduli dengan pemalsuan wajah. Mereka lalu menikah.

    Pernikahan itu mencengangkan keluarga, kerabat dan sebagian besar penghuni desa baik dari pengantin pria yang kaya raya maupun keluarga pengantin perempuan yang tak percaya nasib baik menghampiri Alia. “Ayah saya menganggap sekolah adalah tempat melarikan diri bagi perempuan yang telah kehilangan takdir menikahnya. Karena itu ia mau melakukannya untuk saya,” katanya. Menikah merupakan status tertinggi bagi perempuan-perempuan
    Pakistan. Sekolah adalah hal lain.

    Alia lalu dianggap menerima anugerah, dan suaminya dinilai ‘salah pilih’. Tahun pertama pernikahan, Alia bisa merasakan tubuhnya dihangati rasa percaya diri. Ia mencantumkan satu kata dalam CV-nya. “Menikah”, dan mengirimkan banyak CV ke perusahaan-perusahaan untuk mencari kerja. Ia memperoleh kesempatan wawancara dalam suatu kesempatan. Perempuan di depannya dengan kening berkerut, membolak balik CV-nya, bertanya, “Kamu punya suami?”

    “Hey, maam, apa yang salah dengan cinta? Cinta membuat pria itu melihat kecantikan lain dari saya, dan cinta meluruhkan rasa malu yang berkarat bertahun-tahun di jiwa saya. Bukan perkara gampang membuka seluruh pakaian, memperlihatkan tubuh penuh luka pada pria yang kau temui di internet dan kemudian melamarmu jadi istri,” tutur Alia, mengenang kejadian itu. Ia di tolak bekerja. Wawancara lain pun sama dengan komentar, “Kamu menikah? Wah beruntung sekali.” Separuh orang yang ia temui membenci nasib baiknya, sekaligus mengasihani nasib buruknya. Hidup bukan perkara gampang di negara yang dalil-dalil agama diputarbalikkan, politik yang diguncang-guncang dan hak azasi manusia tertutupi.

    Pakistan
    berpisah dari India-Inggris pada 1947 dan membentuk negara Federal Demokratik Islam. Di tahun 1956, Pakistan menyatakan diri merdeka secara penuh. Selama kurun 30 tahun itu, warga Pakistan menyaksikan dua kali percobaan kudeta militer, dua kudeta quasi militer dan tiga kudeta militer penuh. Pergolakan tersebut tak membuat Pakistan menemukan bentuk negaranya, jauh dari demokrasi, tidak pula teokrasi, bukan pula diktator militer permanen.

    Sistem yang kacau menyebabkan frustasi panjang. Gaung Talibanisasi muncul dari sekelompok nasionalis di provinsi Balochistan. Ketegangan etnik juga menyebar di dua provinsi,
    Punjab, wilayah yang terkenal dengan beras, dan Sindh, pusat industri dan perdagangan.

    Bantuan Amerika terus mengalir saat
    Pakistan dikuasai rezim militer, termasuk untuk menjadikannya basis mencetak para pejuang jihad melawan komunisme Soviet.  Miliaran dolar mengalir ke negara ini. Puncaknya, di masa Jenderal Perves Musharraf. Hubungan Amerika-Pakistan naik turun saat dua mantan perdana menteri Pakistan, Benazir Bhutto dan Nawaz Sharif berniat menggerakkan perubahan rezim. Dalil-dalil keagamaan ekstrim digunakan oleh kelompok militer berkuasa Perves. Nasib Bhutto berakhir tragis. Ia terbunuh tahun 2007, setelah sebelumnya berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan. Kematian Bhutto terjadi saat Alia memasuki tahun pertama pernikahannya. Ia menonton di televisi, menangisi Bhutto seakan-akan ia sendiri yang tertembak.

    Pada 2008, Alia  meneruskan kuliahnya.  Ia tak melihat harapan apapun untuk melanjutkan masa depannya di
    Pakistan. Suaminya setuju membiayainya. Wageningen University menjadi pilihan Alia.  Saat tiba di Belanda,  rasa percaya dirinya yang terpupuk di bandara, pupus tiba-tiba saat menyaksikan betapa beruntungnya mahasiswa-mahasiswi negara berkembang ini. “Mereka selalu tertawa dan tampak bahagia, saya sendiri nyaris lupa apa bahagia itu,” katanya.

    Terjepit rasa keagamaan ekstrim untuk tidak bersosialisasi dengan non muhrim, dan non Islam, Alia mengurung diri di kamarnya.  Ia ke dapur komunal terburu-buru, dan lari tanpa menyapa penghuni lain yang terheran-heran menatapnya. Alia memindahkan rasa sedih Pakistannya ke Wageningen. Namun, ia hamil saat kuliah memasuki tahun pertama. Ia cuti kuliah, lalu pulang, melahirkan putri cantiknya (mata Alia ada di gadis kecil ini) dan menunda kuliahnya empat tahun.

    Selama empat tahun, hidupnya bergerak ke arah-arah yang tak ia bayangkan.  Suaminya, pria ber-uang banyak yang ternyata berpikir pendek kali ini.  Ia takut istrinya ikut arus zaman yang terus bergerak,  tapi ia sendiri, sembunyi-sembunyi menikmati chating-chating mesra dengan perempuan lain di internet. Ia akhirnya dirayapi kejengkelan pada sikap kritis istrinya; karena perempuan baik menurut dalil yang ia ketahui adalah perempuan penurut.

    “Tiba-tiba saya menyadari pernikahan bukan jalan keluar. Saya melihat hidup saya meloncat ke situasi yang nyaris sama, namun kali ini aktor utamanya adalah suami dan saya sendiri.”

    Setelah anaknya berusia 4 tahun, dan mulai dihinggapi rasa gentar atas pandangan-pandangan picik suaminya, ia memutuskan kuliah kembali. “Saya ingin melarikan diri, bukan saja dari mereka, tapi dari diri saya sendiri.” Ia memperoleh gelar master di Wageningen setelah 8 bulan.

    Februari 2010, Alia memutuskan kembali ke
    Pakistan. Minggu pertama di Pakistan, surat elektroniknya tiba, tentang anaknya yang cerdas dan bercita-cita tinggi tapi sering keceplosan berkata-kata kasar. “Ia melihat tante-tantenya berbicara begitu, jadi ia ikut,” tulisnya. Bulan berikutnya, emailnya menceritakan hal lain, suaminya meminta izin menikah untuk kedua kalinya.

    “Duh, betapa buruknya nasib perempuan di negara kami, betapa buruknya kami diperlakukan. Ia menggunakan dalil agama untuk pernikahan kedua ini. Saya berada pada posisi yang teramat menyedihkan, karena tak memiliki keberuntungan fisik untuk mempertahankan hak saya. Namun, saya tak mau memberinya izin.”

    Pria di keluarga Alia dan keluarga suaminya adalah sosok yang memiliki hak lebih dibanding perempuan. Mereka boleh belajar naik sepeda saat kecil, dan perempuan menatap dari balik jendela atau pintu rumah. Mereka boleh sekolah, sedang perempuan cukup paham baca tulis saja. Mereka boleh menyakiti perempuan. “Tapi saya bukan satu-satunya yang bernasib begini, banyak yang lebih parah,” tulis Alia.

    Riwayat ketidakadilan terhadap perempuan bukan hal baru di
    Pakistan. “Seorang perempuan yang kerja di rumah kami mengalami nasib buruk saat suaminya pergi begitu saja, dan ia tak boleh menikah setelahnya. Suatu ketika ia jatuh cinta dan melakukan hubungan seks. Hidupnya berubah total. Cinta yang didapatinya dengan susah payah membuatnya kehilangan seluruh masa depannya,” kisah Alia suatu ketika.

    Situasi politik di
    Pakistan mempengaruhi nasib perempuan hingga ke tingkatan dramatis. Shaban Arif van Rozan, seorang aktivis organisasi perempuan Islamabad, menjelaskan sejumlah undang-undang dikeluarkan untuk mengatur perempuan dan bukan mengatur pria. Di antaranya  undang-undang Hudud bagi kasus zina.  Hadd Zina Ordinance (HZO) yang mulai berlaku tahun 1979 saat Jenderal Ziaul Haq berkuasa. Dengan undang-undang ini, hukuman mati akan dijatuhkan pada pelaku zina yang berstatus menikah, atau cambuk 100 kali bila pelakunya lajang. Sebelum hukuman dijatuhkan, perempuan selaku korban perkosaan akan dihadapkan di persidangan, hakim memintanya menghadirkan empat saksi laki-laki untuk membuktikan apa ia benar di perkosa atau tidak. “Dan..amat kecil kemungkinan membuktikannya,” ujar  Shaban. Bila perempuan tak bisa membuktikan ia diperkosa, maka ia menjadi terdakwa berzina, karena berhubungan seks di luar nikah. Ancamannya hukuman mati atau lima tahun penjara.

    Shirkat Gah, organisasi perempuan yang berdiri tahun 1975 melaporkan, undang-undang ini telah memakan korban tak tanggung-tanggung. Saat ini dari sekitar 306 perempuan di penjara
    Punjab, 47 persen di antaranya terdakwa karena dituduh berzina.

    “Perempuan seperti saya memiliki resiko terbanting-banting dalam hidup. Kami memiliki tangungjawab sejak lahir. Begitu membuka mata, kami tahu hidup kami akan keras..sangat keras,” kata Alia.  “Saya membenci orang yang mengatasnamakan agama. Memburukkan segalanya.”

    “Saya selalu melihat harapan. Seperti menatap bintang yang berpendar-pendar, terang, jauh, tapi tak terjangkau. Sulit bagi perempuan seperti saya keluar dari lingkungan yang konvensional. Kecuali pergi dari negara ini. Tapi ke mana?Di mana? Apa harus sekolah lagi? Tapi sampai kapan sekolah terus? Bekerja? Di mana?” tulisnya pada saya.

    Bulan berikutnya Alia mengabarkan bahwa ia telah melakukan operasi di bagian kantung matanya. Matanya kini tak lagi melotot.  Ia berjanji mengirimkan foto-namun tak pernah dikirimkannya. Lalu sebuah email lagi: I am fine, still struggling
    , please be patient with your thesis work, it is always stressfull. All the best, with love and hugs, Alia (Ia tahu saya tengah berkejaran dengan proposal tesis).

    Bila hidupmu telah disesaki kehidupan dan perjuangan dari rasa sedih, apa makna perjuangan di sini?


    *) Indarwati Aminuddin adalah kontributor Aceh Feature di Belanda. Ia tengah belajar di Wageningen Universiteit.