"SEBENARNYA saya sudah mengurus semua surat yang dibutuhkan untuk ke Irlandia. Tetapi saya bertemu teman. Waktu tahu saya akan ke Irlandia, dia tanya: lalu, untuk apa kamu berjuang untuk kemerdekaan? Saya pikir, iya juga ya. Jadi saya batal berangkat. Biar di Timor gaji saya kecil, saya tidak jadi budak di negeri orang."
Anjelika adalah satu-satunya satpam perempuan di tempat kerja saya. Usianya 31 tahun, lulusan SMP. Tubuhnya pendek dan kekar. Tahun 1999, tepat sebelum Timor Leste merdeka, Anjelika sebenarnya sudah selesai ujian SMA. Tapi karena dituduh ikut dalam gerakan Klandestin, dia bersama 17 orang kawannya tidak lulus dari SMA N 1 Lautem.
Ayahnya adalah seorang pendeta gereja Pantekosta di Suco Laivai, sekitar 50 kilometer sebelah barat Los Palos. Gara-gara profesi ayahnya ini, nyawa Anjelika pernah terselamatkan. Suatu hari Anjelika ditangkap setelah menjalankan tugas sebagai pengantar surat dari kota ke orang gunung (Falintil, sayap bersenjata Fretilin). Dia dibawa ke Markas Kodim. Setelah diinterogasi dan disiksa dua hari dua malam, Anjelika dibebaskan. Pasalnya, sang komandan Kodim ternyata jemaat di gereja ayahnya. Tapi si intel yang menangkapnya terlanjur dibunuh kawan-kawan Anjelika di kampung.
Selepas kemerdekaan, dia bekerja di warung makan di Dili. Tapi warung itu bangkrut. Dia lalu melamar ke sebuah usaha garmen. Tapi pemilik usaha minta ijazah asli. Padahal, semua ijazah Anjelika sudah terbakar bersama rumahnya di kampung. Sekolahnya juga sudah tidak ada.
Ada banyak cerita seperti Anjelika. Mereka bekerja menyapu jalan atau memotong rumput, menyopir mobil-mobil mewah milik lembaga internasional, atau sedang berjualan ikan di perempatan toko. Tapi, tidak sedikit juga yang sedang duduk di deker sambil minum sopi putih.
Pengangguran memang masalah serius yang dihadapi negara seumur jagung ini. Sensus Nasional Timor Leste tahun 2010 menujukkan struktur demografi negara dengan penduduk 1,1 juta orang ini tergolong muda. Median age 21,8 tahun. Pengangguran absolut mencapai 20 persen dari angkatan kerja, sementara pengangguran teselubung 40 persen. Hampir 90 persen penduduk hidup dari bertani, berkebun dan beternak. Sisanya, 7 persen adalah pegawai di lembaga PBB dan 2 persen pegawai negeri.
Anjelika termasuk dalam golongan 7 persen itu. Tapi dia jauh dari kemewahan. Gajinya US$ 135 per bulan, hanya 1/45 dari gaji program manajernya yang orang Irlandia. Sebagai anak sulung, Anjelika harus membiayai tiga orang adiknya yang masih bersekolah, setelah ayahnya meninggal tiga tahun lalu. Jarak Los Palos yang lima jam perjalanan dari ibukota Dili, membuat harga barang lebih tinggi. Harga BBM mahal, mengikuti harga dunia. Jadi bila harga minyak dunia tinggi, harga kangkung pun ikut naik.
Tidak ada Pos Satpam di kantor. Hanya sebuah teras kecil 1 x 1.5 meter persegi tanpa dinding sama sekali. Kalau hujan dengan sedikit saja angin, dia otomatis basah. Padahal, Los Palos terletak di hamparan datar pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Dinginnya pada malam hari, sangat menusuk tulang.
Bila jam kantor usai, semua pintu dikunci. Akibatnya, para Satpam tidak bisa ke toilet kalau panggilan alam datang. Mudah bagi yang laki-laki, tapi bagaimana dengan Anjelika?
"Saya biasanya ke rumah tua di belakang kantor. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Nanti ketahuan saya pernah meninggalkan kantor,” ujarnya.
Rumah tua berjarak 200 meter di belakang kantor itu dibakar tahun 1999. Hanya tinggal tiga atau empat lempeng tembok dengan bekas-bekas hangus yang masih berdiri. Untungnya, atau justru bahayanya, tempat itu gelap sekali. Sehingga Anjelika merasa aman menuntaskan hajatnya.
"Jadi sekarang banyak anak muda yang pergi ke Irlandia untuk mencari hidup. Hidup yang enak,” cerita Anjelika.
Junior, anak sulung pemilik rumah tempat saya tinggal adalah contohnya. Dia bekerja di Irlandia sebagai pencabut bulu ayam di peternakan ayam potong besar sejak 2002 lalu.
Mama Junior masih ingat, tahun 2006 Junior datang ke Los Palos. Hanya sebulan. Orangtuanya diberi uang banyak untuk membangun rumah dan modal usaha. Rumah dua tingkat, berdinding beton, berlantai keramik. Lantai bawah untuk toko dan tempat tinggal. Lantai atas disewakan seharga US$ 600 per bulan. Saat ini Mama Junior mengelola usaha jual beli hasil bumi, memiliki empat truk pengangkut. Dua adik perempuan Junior sering saya temui di warnet Timor Telecom, sedang bermain Facebook di laptop.
Uma mutin (rumah putih, istilah untuk rumah beton) adalah impian kebanyakan anak muda di Los Palos. Anjelika bilang, kalau lihat ada uma mutin baru, artinya itu hasil Irlandia.
Tidak hanya Irlandia yang jadi jalan keluar pemerintah Timor Leste mengatasi pengangguran. Bulan Mei 2010 yang lalu, Ministerio Turismo, Comercio e Industria mengumumkan pembaruan Nota Kesepakatan dengan Pemerintah Korea Selatan untuk mengirim tenaga kerja Timor Leste ke negeri ginseng itu. Kesepakatan awal di tahun 2009, RDTL akan mengirim 515 tenaga kerja sampai 2010. Sekretaris Negara, Bendito Freitas, dalam acara itu menyatakan, “Dalam kaitannya dengan kesepakatan ini, kami dan Kementerian Tenaga Kerja Korea Selatan akan bekerja sama untuk meningkatkan jumlah pekerja Timor Leste ke Korea Selatan, sampai angka seribu, dua ribu atau tiga ribu diakhir 2012.” Dia juga mengingatkan para pemuda tersebut untuk “menjaga nama baik Timor Leste selama berada di luar negeri”.
Bercerita dengan Anjelika adalah pengusir dingin Los Palos. Dia tetap bersemangat. Kadang matanya menerawang mengingat teman dekatnya yang mati ditembak dalam suatu demonstrasi menuntut kemerdekaan di Dili. Tapi Anjelika tertawa, masih merasa lucu, bahwa dia pernah berniat meninggalkan Timor Leste demi uma mutin.
*) Silvia Fanggidae, direktur PIKUL, sebuah lembaga pemberdayaan warga di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
