SUARA Ummi Salamah Gani meninggi atau tepatnya, melengking tiap kali dia bercerita tentang masa konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia. Dia telah mengalami berbagai kehilangan dan siksaan fisik selama itu. Tapi lebih banyak nada marah dalam suaranya, bukan kesedihan. Usia perempuan ini 65 tahun. Dia kelahiran Lancang Timur, kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, kabupaten yang dikenal sebagai tempat kelahiran dan basis utama GAM.
Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya: Kartu Tanda Penduduk (KTP) berwarna merah-putih. Di situ juga tertera lambang negara Indonesia, burung garuda, dan lima sila Pancasila. KTP Merah Putih ini berlaku saat Darurat Militer (DM) di Aceh. Mereka yang tidak memilikinya dianggap Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Nasib buruk pasti datang sesudah itu, ditangkap atau dibunuh. KTP merah putih dicetak Penguasa Militer dan Pemerintah Daerah Aceh.
Ummi berjilbab putih, berbaju panjang berwarna hijau pudar. Kulitnya hitam, seperti orang-orang Aceh pada umumnya.
“Nyoe, nyoe, nyoe KTP nyoe, (Ini, ini, ini KTP ini),” ujarnya, sambil menunjuk-nunjuk KTP di tangannya.
“KTP nyoe lon simpan untuk kenang-kenangan konflik, bah diteupu di aneuk cuco kiban saket udep dalam prang, (KTP ini saya simpan untuk kenang-kenangan, agar anak cucu tahu susahnya hidup dalam perang),” lanjutnya.
Tapi dia menganggap GAM yang sekarang berbeda dengan generasinya dulu.
“GAM bagi saya hanya orang jeungek-jeungek (melihat-lihat atau sekedar lewat saja). Bukan orang yang ikut berperang. Nggak usah tanya sejarah perang sama mereka, tanya sama saya. Semua tersimpan dalam kepala ini,” ujar Ummi, menunjuk kepalanya.
Sebelum dijuluki GAM oleh pemerintah Suharto, gerakan kemerdekaan Aceh ini dinamai Aceh Merdeka atau AM oleh para pendukungnya.
Ummi membantu AM yang dijuluki GPK atau Gerakan Pengacau Keamanan oleh pemerintah Indonesia saat itu sejak tiga kabupaten di Aceh, yaitu Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur ditetapkan sebagai DOM pada 1989.
Dia ikut pasukan Abdullah Syafi’i atau Tengku Lah, panglima tertinggi Teuntra Neugara Aceh, bergerilya di hutan-hutan. Tengku Lah kelak gugur dalam satu penyergapan di Jiem Jiem, Pidie pada 2003. Akibat kegiatan politiknya, Ummi dikejar-kejar tentara. Tak jarang dia kelaparan dalam hutan. Wilayah gerilyanya bersama Tengku Lah, mulai dari Tapak Tuan di Aceh Selatan hingga Meulaboh, Aceh Barat.
Dia menganggap GAM menyerah. “Koh-koh beude kon menyerah, toh cit yang awak meuprang,” serunya. (Potong-potong senjata itu kan menyerah namanya, yang mana juga yang berperang) Kalimatnya merujuk pada proses pemotongan senjata yang dilakukan Aceh Monitoring Mission, lembaga internasional yang bertugas mengawasi perdamaian di Aceh pasca Perjanjian Helsinki.
“Lon awak AM, Phon that peujuang,” lanjutnya. (Saya orang AM, yang pertama sekali berjuang) Suaranya lantang.
Ummi pernah diberi tugas membeli senjata untuk pasukan AM. Tapi dia juga masih punya tugas lain yang tak kalah penting: berkeliling mencari gadis-gadis muda yang berasal dari pedalaman Aceh untuk dinikahkan dengan petinggi-petinggi AM di luar negeri.
Para petinggi tersebut mengajukan kriteria bagi calon istri mereka, yaitu suku Aceh, santri pesantren dan miskin. Syarat lain, sanggup tahan lapar dalam keadaan perang. Persyaratan yang sebenarnya membuat perempuan yang sudah miskin serta menderita itu akan makin senggara lagi nasibnya akibat pilihan politik suami mereka.
Dia mengantar sendiri gadis-gadis itu ke calon-calon suami mereka, yang ada di Medan, Sumatra Utara maupun Tanjung Bale, Malaysia.
Di Aceh, orang-orang yang melakukan pekerjaan seperti Ummi digelari seulangkee atau mak comblang atau penghubung antara keluarga calon pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.
Salah seorang putranya sama seperti Ummi, ikut dalam gerakan kemerdekaan Aceh. Dia diminta Hasan Tiro untuk merelakan anaknya untuk dilatih perang di Libya.
Pada 1995 sampai 1996 Ummi ditangkap dan ditahan di Rumoh Geudong selama empat bulan kurang lima hari. Rumoh Geudong atau dalam Bahasa Indonesia berarti “rumah besar”, terkenal sebagai rumah penyiksaan dan tempat para perempuan diperkosa. Letaknya di Teupin Raya, Pidie. Ada cuak atau mata-mata yang melaporkan Ummi pada militer, sehingga dia diangkut ke sana.
“Saya ditanya tentang Wali Nanggroe, Daud Paneuk, dan Abdullah Syafi’i,” tuturnya, dalam Bahasa Aceh. Wali Nanggroe adalah Hasan Tiro, sedang Daud Paneuk tak lain dari panglima perang pertama AM.
Selain korban, Ummi juga saksi penyiksaan tawanan lain yang berada di Rumoh Geudong.
Dia melihat seorang perempuan muda ditarik pahanya sampai terkoyak dan akhirnya meninggal dunia gara-gara melawan cuak yang hendak memperkosanya malam itu.
“Na yang dikoh puteng mom. Nyan dak jeut, bek le tarasa (Bahkan ada yang puting payudaranya dipotong, Kalau bisa jangan kita rasakan lagi yang seperti itu),” katanya.
Ummi pernah melihat para laki-laki dari satu kampung bernama Cot Murong dibawa ke situ. Mereka dituduh menyimpan senjata. Beberapa tawanan lain ada yang dikenalnya, seperti Him Laweung. Lelaki ini setahunya tidak terlibat AM, tapi pernah membonceng orang AM di sepeda motornya. Seorang cuak mengadu pada tentara bahwa Him Laweung itu pemberontak dan akhirnya dia pun diangkut ke Rumoh Geudong.
Berapa jumlah tahanan di tempat itu? Ummi tidak dapat memastikannya, karena terlalu banyak, terutama laki-laki.
“Saya rasa hampir semua laki-laki di Pidie,” katanya. Para keuchik atau kepala desa juga jadi korban. “Keuchik Lamlo, Tangse, Gempang, Ulee Glee, Ujong Rimba, pokoknya semua keuchik,” lanjutnya, dalam Bahasa Aceh.
Keadaan dalam rumah tersebut cenderung gelap. Ada delapan kamar penyiksaan, yang masing-masing dinamai dengan nama-nama binatang. Bilik Anjing, Bilik Kerbau, Bilik Harimau, Bilik Monyet, Bilik Kambing dan selebihnya dia tidak ingat lagi.
Menurut Ummi, banyak sekali korban yang meninggal dunia dan dikubur di pekarangan rumah.
Para penyiksa adalah cuak yang berasal dari beberapa desa di Pidie. Mereka bekerja sesuai perintah tentara. Sampai saat ini dia masih ingat mereka yang pernah menyiksanya.
Selama ditahan Ummi tidak pernah mandi, sehingga rambutnya mengembang dan tinggi. Tiga minggu sekali dia diminta membersihkan halaman. Di rumah itu dia bertemu Pocut Sari, istri salah seorang petinggi AM Teungku Usman Lampoh Awe, yang juga ditahan dan disiksa akibat kegiatan politik suaminya.
Setelah beberapa hari di rumah tersebut, dia dan tiga tahanan dibawa pergi dari Rumoh Geudong, Mereka dibawa ke tempat yang terpisah.
Ummi dibawa ke Rancong, sebuah kamp penyiksaan yang terkenal kejam. Siapa pun yang dibawa ke Rancong dipastikan tidak akan kembali dalam keadaan hidup. Biasanya tahanan langsung ditembak atau disembelih.
Setelah 15 hari mengalami penyiksaan di Rancong, Ummi diminta tentara masuk ke sebuah lubang yang telah digali untuknya. Tentara itu sudah siap-siap mengeksekusinya, tapi entah kenapa mendadak gagal menarik pelatuk senjatanya. Ummi pun kembali dibawa ke Rumoh Geudong.
“Saya juga bingung kenapa seperti itu, artinya nyawa memang di tangan Allah. Buktinya setelah disiksa dan mau dibunuh saya masih tetap hidup sampai hari ini,” kenangnya.
Apa saja jenis penyiksaan yang telah dialaminya? Dia ditelanjangi, digantung, diiris dengan pisau, dipukul dengan balok, disalib dengan kaki-kaki dipaku dan disetrum payudara dan kemaluannya. Kalau dia berteriak saat disetrum itu, volume listrik justru dinaikkan penyiksanya sampai dia pingsan. Bekas luka di kakinya juga masih tampak.
Para tahanan hanya diberi nasi tanpa lauk tiap pukul 11.00 dan syukur-syukur masih diberi nasi lagi pada pukul 23.00. Menurut tentara, itu agar luka-luka bekas penyiksaan cepat pulih. Air minum sudah berlendir. Saat makan mereka sering ditendang dari belakang.
Entah siapa yang memulai, pada pertengahan 1998 tiba-tiba warga marah dan membakar Rumoh Geudong. Di tahun itu presiden Suharto mundur dari jabatannya setelah berkuasa hampir 32 tahun.
Setelah lima tahun perdamaian, Ummi masih merasakan ketidakadilan. Kalau dulu dari pemerintah Indonesia, sekarang dari kalangan GAM sendiri.
“Satu kilogram daging saya minta menjelang Lebaran, mereka bilang ‘maaf’. Apa nggak sedih,” ujarnya.
Dia pernah menerima bantuan Rp. 10 juta dari Badan Reintegrasi Damai Aceh atau BRDA.
“Apa cukup dengan uang itu? Mereka (mantan kombatan) berapa ratus juta (rupiah), proyek ini dan itu. Ketika lebaran kan nggak ada salahnya memberi kain sarung dan sirup,” katanya, lalu kembali mengulang kisah tentang sekilo daging itu.
“Jino ka leu peng, deuh tanyoe di peu ek kaca moto. Hana dituri lon le, kana moto puteh saboh sapo (sekarang udah banyak uang, kalau lihat kita, kaca mobil dinaikkan. Mereka (mantan GAM) udah enggak kenal saya, masing-masing udah punya mobil),” ujar Ummi, yang juga berharap ada bantuan untuknya berobat. Akibat penyiksaan di Rumoh Geudong dia sering sakit di dada dan kepala.
Rumahnya pernah dibakar pada 1990. Setelah melapor ke BRDA, dia menerima rumah bantuan sebagai korban tsunami. Sebelum itu dia tinggal bersama anak perempuannya, karena tidak punya rumah.
Dari 35 pemuda yang dulu bergerilya bersamanya di hutan-hutan Aceh, kini jumlah mereka hanya tinggal tiga orang.
“Saya berharap tidak ada lagi perang, tetapi nasib masyarakat juga harus diperjuangkan,” katanya.
*) Mellyan adalah kontributor Aceh Feature di Aceh.
