Dia menceritakan kembali peristiwa itu dengan tatapan kosong. Selendang hitam membalut kepalanya. Kematian suaminya telah mengubah hidup Ruayyah.
Saat itu tahun 2004. Ruayyah sedang menemani suaminya, Ali, mengajar mengaji di rumah mereka di desa Kaseh Sayang, Aceh Timur. Tiba-tiba tentara datang. Jumlah mereka sekitar 11 orang. Tanpa basa-basi, tentara langsung mengepung dan memaksa Ali keluar rumah. Tak berapa lama Ruayyah menyaksikan suaminya ditembak. Tak sampai di situ, para serdadu itu mematahkan leher Ali, lalu memasukkan mayatnya dalam karung.
“Dibawa ke Langsa. Saya ambil mayatnya di rumah sakit Langsa. Mayat saya bawa pulang supaya anak-anak bisa melihatnya,” ujarnya dalam bahasa Aceh, dengan tangannya yang terus meremas-remas ujung selendang.
Sampai hari ini dia tidak tahu alasan militer membunuh suaminya, yang juga seorang keuchik atau kepala desa.
Namun, Ruayyah tidak mendendam. “Sekarang keadaan sudah aman, biarlah aman selama-lamanya,” katanya.
Setelah kematian suaminya, Ruayyah jadi tulang punggung keluarga. Enam anaknya membutuhkan kasih sayang, biaya hidup dan pendidikan. Ali juga tidak banyak meninggalkan warisan.
Ruayyah berkebun. Dia menanam rambutan dan coklat. Tapi hasilnya tidak seberapa.
“Kadang-kadang kalau sedang musim panen buah-buahan bisa dapat Rp.1 juta. Kalau nggak ada, sampai tiga bulan nggak ada penghasilan sepeserpun,” ujarnya, masih meremas ujung selendang.
Dua tahun lalu dia memperolah dana diyat dari pemerintah. Jumlahnya pun tidak banyak, Rp.2.900.000
“Sebenarnya tiga juta, tapi saya nggak tahu kenapa kurang Rp.100 ribu,” tutur perempuan paruh baya ini.
Dia juga sudah tiga kali menerima tamu yang datang ke rumahnya untuk mendata anak-anaknya. Alasan si tamu, anak-anak ini akan diberikan biaya pendidikan. Tapi sampai sekarang tidak sepeser dana pendidikan pun diterima anak-anak Ruayyah.
“Saya tidak tahan kalau anak-anak meminta melanjutkan sekolah, tapi saya enggak punya uang. Perasaan saya hancur,” katanya.
Sekarang dua anaknya sudah menikah, sedangkan tiga orang lagi sudah lulus sekolah menengah pertama dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Satu orang lagi sedang belajar di dayah atau pesantren.
“Saya tidak mengharap bantuan sedikitpun, biar saya usaha sendiri. Orang lain buat proposal, saya tidak mengerti caranya, biarlah saya ke sawah saja,” tuturnya.
Seperti Ruayyah, Darwati jadi kepala keluarga setelah suaminya ditembak tentara.
Di hari itu Darwati tengah menggendong bayi yang baru berumur enam bulan dan menuntun anak sulungnya yang masih belajar di kelas tiga sekolah dasar. Dia ikut demo perdamaian. Tapi dia sendiri tidak paham tujuan yang lebih jelas dari demonstrasi tersebut. Suaminya berada di barisan yang terpisah, bergabung dengan para lelaki. Tentara mulai menembaki mereka, membabi buta.
Darwati melihat banyak sekali helikopter terbang sangat rendah. Rasa takut membuatnya tak sanggup lari. Lututnya mendadak lemas. Dia melangkah di antara desingan peluru dan menyaksikan warga yang jadi korban terjangan timah panas itu. Di tengah kepanikan, dia berpesan pada anak sulungnya untuk lari menyelamatkan diri, tapi si anak tetap ingin bersama ibu dan adiknya. Akhirnya mereka bertiga terus berjalan. Satu tangan Darwati menggendong si bungsu, sedang tangan sebelahnya menuntun si sulung.
“Bek mak, dak mate-mate sigo (jangan mak, kalaupun mati, kita mati bersama),” ujar anak sulungnya.
Pada pukul 11.00 Darwati sampai di masjid kampungnya, tapi dia tidak melihat Idris, sang suami. Kepada siapa saja yang datang, dia menanyakan suaminya. Pukul 16.00 Darwati pulang ke rumah. Namun, Idris tidak ada di rumah.
Dia mulai gelisah. Saat dia hendak pergi mencari suaminya ke rumah sakit, seorang yang dituakan di kampungnya, Abu Sayed Amad melarangnya. Abu Sayed khawatir dia ikut hilang seperti beberapa korban lain. Akhirnya Abu Sayed dan beberapa orang bergerak mencari Idris.
Setelah Ashar, ambulan berhenti di depan rumah Darwati dan ternyata membawa jenazah Idris. Di kepala suaminya Darwati melihat luka besar, begitu pula dada kirinya yang tertembus peluru. Anaknya yang sulung melihat keadaan ayahnya.
“Uang dan KTP dirampas,” Darwati mulai terisak.
Kejadian tersebut dikenal dengan tragedi KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Ratusan orang dikumpulkan di gedung KNPI dan disiksa. Militer menuduh mereka sebagai pengikut Muhammad bin Rasyid alias Ahmad Kandang, salah seorang panglima Gerakan Aceh Merdeka atau GAM.
Darwati mengungsi selama satu bulan setelah suaminya meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian, dia mendapat bantuan uang sebesar Rp.900.000 melalui keuchik, kemudian Rp.2,5 juta dari kantor walikota. Selain itu, dia memperoleh Rp. 3 juta lagi yang ditransfer melalui rekening bank. Tapi sesudah perdamaian, dia menyatakan belum mendapatkan bantuan apa pun.
Sekarang, anak sulungnya telah dewasa dan si bungsu duduk di kelas satu sekolah menengah pertama. Dia membutuhkan biaya untuk pendidikan anaknya.
Darwati mencari nafkah sebagai buruh cuci. Beberapa tahun yang lalu dia sempat menjalankan usaha ikan asin.
“Karena tidak ada biaya untuk pendidikan anak,” katanya. Tapi kelak usaha itu terhenti akibat uang tidak ada lagi.
“Sekarang sering lapar daripada kenyang,” ujarnya, menggambarkan keadaan ekonomi keluarganya.
Setelah 11 tahun berlalu, tragedi KNPI baru dua tahun diperingati. Itupun dilaksanakan di masjid desa, karena sebagian warga masih trauma dan tak mau datang ke gedung itu.
Tapi tidak hanya di wilayah pesisir Aceh para perempuan terpaksa jadi pencari nafkah tunggal akibat konflik. Di Aceh Tengah atau daerah pedalaman pun hal itu terjadi.
Suami Suriyani ditembak gara-gara dituduh GAM. Sejak itu suaminya tidak dapat bekerja lagi. Peristiwa tersebut masih melekat di benak Suriyani.
Suaminya sedang bekerja di kebun kopi. Tiba-tiba sejumlah orang datang ke rumahnya dan berteriak-teriak memerintahkan Suriyani memanggil suaminya. Tiba-tiba salah seorang dari para lelaki tersebut menembak suaminya di depan empat anak mereka.
Suriyani bertubuh gemuk pendek, Tutur bahasanya lembut dan teratur.
“Padahal suami saya bukan GAM. Dia difitnah. Empat kali tembakan di pahanya, sampai sekarang serpihannya masih tertinggal di paha suami saya,” ceritanya.
Kebun satu-satunya sudah digadaikannya demi mengobati sang suami. Suriyani bekerja sebagai buruh pemetik kopi di kebun orang lain untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Dari tahun 2000 sampai 2003 dia sempat mengajar di Taman Kanak-Kanak (TK) Pondok Sayur yang hanya berjarak dua kilometer dari rumahnya. Konflik yang memanas membuatnya berhenti mengajar pada 2004.
“Tidak ada yang berani, lagipula bayarannya tidak berupa uang hanya beras, sayur dan kebutuhan pokok lainnya, tapi karena saya butuh mau bagaimana lagi,” ujarnya.
Dia membutuhkan bantuan. Namun, tidak harus uang. Dia senang bisa memperoleh mesin jahit, becak atau hewan ternak. Tapi dia tidak suka diiming-imingi bantuan dengan motif politik dalam pemilihan kepala daerah. “Dijadikan umpan agar mereka bisa mendapat jabatan yang diinginkan,” ujarnya.
*) Mellyan adalah kontributor Aceh Feature di Banda Aceh.
