Pagi itu 16 April 2003. Syamsiah baru saja selesai mencuci pakaian. Dua ember cucian siap dijemur. Dia membawa ember-ember itu ke dekat tiang jemuran. Tiba-tiba dia melihat suaminya, Ben Prang dan tetangga mereka Tukiman sedang bercakap-cakap dengan suara rendah. Tapi telinga Syamsiah cukup tajam. Dia sempat mendengar mereka menyebut-nyebut nama anaknya.
“Tapi Man, kakakmu belum tahu tentang hal ini, jangan dikasih tahu dulu,” kata Ben pada Tukiman.
Syamsiah langsung menjerit, “Kenapa dengan anak saya? Anak saya sudah diambil ya?” tanyanya.
Dia menangis histeris. Lutut-lututnya lemas dan dia jatuh di halaman itu.
Ben membopong istrinya masuk ke rumah.
“Anakku tak bersalah!” ratap Syamsiah, sambil berguling-guling di lantai.
Anak suami-istri ini bernama Syamsul Bahri bin Ben Prang, Usianya 23 tahun.
“Kalau Makcik terus meratap, kami tak mau mencari Bahri,” kata salah seorang tetangganya yang hadir saat itu.
Setelah Syamsiah mampu menenangkan dirinya, suami dan para tetangganya yang tadi berkumpul di rumahnya pun pergi ke arah balai pengajian tempat Syamsul menginap semalam. Jaraknya sekitar 400 meter dari rumah Syamsiah.
Dengan rambut kusut tak tersisir dan dibiarkan tergerai, Syamsiah ke luar rumah dan duduk mencangkung dengan bertopang dagu di bangku yang terletak di halaman rumahnya. Dia berselimut kain sarung.
Sementara itu beberapa hektar dari rumah Syamsiah, Nyak Gade, adik iparnya, tengah memetik kopi. Perasaan Nyak tidak tentram. Penganan yang telah dia sediakan untuk dibawa ke lokasi gotong royong hari ini belum juga diambil anaknya, Burhanuddin.
Nyak kemudian mendatangi rumah Ben Prang, abangnya. Rumah itu sepi. Dia melihat Syamsiah yang sedang duduk melamun di bangku halaman.
Nyak menegur Syamsiah beberapa kali, tetapi yang ditegur tak menjawab.
Tiba-tiba muncul Siti Hajar, keponakan Syamsiah.
“Mak Sidi, anak-anak itu sudah tidak ada lagi, ya?” tanya Hajar.
Mak Sidi adalah panggilan akrab untuk Syamsiah karena anak sulungnya bernama Sidi.
Mendengar pertanyaan Hajar tersebut, Nyak terkejut. Dia pun menjerit, kemudian berlari ke arah balai pengajian sambil memanggil-manggil, “Anakkuuuu! Anakkuuuu!”
Beberapa warga mencoba memegang Nyak dan menenangkannya.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Anakkuuuuuu …..!” Nyak meronta.
Hampir seminggu dia hilang ingatan dan berkali-kali pingsan.
Sebelum kejadian itu Nyak ingat peristiwa yang dialaminya bersama anaknya di kebun kopi mereka. Ia dan Burhanuddin bin Bachtiar, putranya, bersama-sama memetik buah kopi. Burhanuddin baru saja selesai ujian akhir di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Lampahan, kecamatan Timang Gajah dan sedang menunggu pengumuman kelulusannya.
“Kalau ditakdirkan ayah meninggal nantinya, adik tidak akan saya biarkan kemana-mana, saya yang akan bertanggung jawab, saya yang akan mengurus adik-adik,” janji Burhan kala itu kepada ibunya.
Selagi ibu dan anak ini bercerita, tiba-tiba kayu yang digunakan Burhan sebagai penyangga untuk memetik buah kopi itu patah berderak. Dia jatuh. Pecakapan mereka terhenti, lalu keduanya memutuskan pulang ke rumah.
Tiga hari setelah kejadian tersebut Nyak bermimpi. Dalam mimpinya Nyak serasa mengawinkan Burhan dengan seorang gadis pilihan anaknya, tetapi Nyak tidak menyukai gadis itu. Dia lalu meminta saran ke abangnya, Ben Prang. Ben menyarankan Nyak untuk segera mengawinkan anaknya, walaupun tidak menyukai calon menantunya itu. Pesta pernikahan digelar meriah. Di tengah pesta tiba-tiba bertiup angin sangat kencang dan merobohkan kayu besar di samping rumahnya. Kayu menimpa rumah dan menghancurkan separuh dari rumah itu.
Dua hari setelah mimpi Nyak, Burhan hilang.
Ben ingat suasana sebelum anaknya, Bahri, hilang. Pada 1965 Ben pernah jadi anggota pertahanan sipil atau hansip. Kini dia lebih banyak mengurus kebun.
Setelah maghrib, Bahri dan adik sepupunya Burhan berangkat ke balai pengajian ditemani seorang temannya, yang Ben lupa namanya. Mereka berangkat bersama dari rumah Ben. Anak-anak itu akan menginap di balai setelah selesai mengaji.
Sekitar pukul 02.00, bulan bersinar terang. Sekawanan anjing tak henti-hentinya menggonggong. Ben terbangun dari tidurnya, dengan hanya memakai sarung dia pergi ke luar rumah untuk mengetahui apa yang terjadi.
Ben menuju pos jaga yang tidak jauh dari rumahnya, Tapi tak ada orang di sana. Di kejauhan disinari remang cahaya purnama dia melihat bayangan dua orang bergerak perlahan menuju balai pengajian.
Dia merinding. Rasa takut muncul. Dia masuk lagi ke rumah. Anehnya, perasaannya gelisah ketika sudah di dalam. Dia lantas keluar lagi dan duduk di halaman.
“Geudebrak ……!” Ben mendengar suara hantaman di dinding. Kemudian terdengar jeritan dari arah balai. “Tolong! Toloooong!
Jeritan itu tak lama. Gonggongan anjing makin nyaring dan kini arahnya menuju persawahan.
Ben buru-buru masuk ke rumah dan menceritakan apa yang baru didengarnya kepada Syamsiah, istrinya.
Syamsiah menyahut, “Orang sudah takut, ditakut-takuti lagi. Besok pagi aja cerita.”
Malam itu juga, di rumah Abdullah yang jaraknya sekitar 200 meter dari balai pengajian, Kamaliah sedang tidur bersama suaminya. Gonggongan anjing membangunkan Kamaliah. Dia mencoba untuk membangunkan Abdullah, suaminya. Tapi sampai tiga kali dia berusaha membuat mata suaminya terbuka, Abdullah tetap tidur dengan pulas.
Di pagi hari Abdullah bangun. Dia memasak dan mempersiapkan bekal untuk dibawa anak-anaknya ke lokasi gotong royong. Di dusun ini warga membentuk kelompok gotong-royong. Mereka bersama-sama membersihkan lahan kebun anggotanya secara bergiliran. Lokasi gotong-royong kali ini adalah kebun milik Ben Prang.
Matahari sudah mulai tinggi
“Yuti! Yuti! Yuk berangkat kita sudah telat,” suara Sukiman terdengar dari luar rumah.
“Mereka belum pulang!” seru Abdullah.
Yuti adalah panggilan untuk Sayuti bin Abdullah, anak keduanya. Sukiman tetangga Abdullah. Dia ketua kelompok gotong-royong itu.
Biasanya sekitar pukul 06.30, jalan di muka rumah Abdullah sudah ramai oleh suara canda anak-anak yang pulang mengaji. Pagi ini suara mereka tak terdengar sama sekali. Letak rumah Abdullah paling dekat dengan balai pengajian dan di jalur yang dilalui anak-anak yang pergi dan pulang mengaji.
Balai pengajian ini terletak di dusun Pantan Gajah, Blang Rongka, kecamatan Timang Gajah kabupaten Aceh Tengah, yang kini masuk wilayah Kabupaten Bener Meriah. Dusun Pantan sekitar dua kilometer dari desa Bale Keramat, yang berada di dekat jalan raya Takengon – Bireuen.
Siapa pun yang menuju dusun itu akan melewati hamparan sawah dan jembatan kecil yang di bawahnya mengalir sebatang sungai. Setelah jembatan, orang akan bertemu kompleks balai pengajian.
Dusun Pantan Gajah merupakan perkampungan terakhir, yang berbatasan langsung dengan kebun dan kaki pegunungan Bukit Barisan. Dulunya kampung ini dihuni 22 kepala keluarga dan sekarang ini hanya tinggal 10 keluarga yang bermukim di situ. Sisanya pindah dan menempati rumah di kampung Bale Keramat, yang lebih dekat dengan jalan raya. Rumah-rumah di dusun Pantan Gajah saling berjauhan dan berlokasi di petakan tanah kebun masing-masing pemiliknya.
Di balai pengajian Pantan Gajah juga tinggal Tengku Syukri bin Abdul Rahman, sang guru mengaji. Istri Syukri bernama Asyiah binti Umar. Suami istri ini dikaruniai dua anak.
Rasyidi, adik Syukri, dan adik iparnya yang juga bernama Syukri alias Kunyil juga tinggal di rumah dalam kompleks balai pengajian itu.
Namun, Asyiah tidak berada di rumah saat kejadian. Dia berada di rumah mertuanya bersama dua anaknya. Asyiah tengah menunggu kelahiran anak ketiganya.
Pengajian dilaksanakan di malam hari setelah maghrib. Ada dua kelompok yang mengikuti pengajian. Kelompok pertama adalah anak-anak yang mengaji setelah selesai maghrib sampai shalat Isya. Jumlah mereka sekitar 15 orang. Anak-anak ini akan dijemput oleh keluarga mereka ketika selesai mengaji. kelompok kedua adalah remaja laki-laki yang biasanya akan tidur di balai itu. Bagi remaja, selain diajarkan membaca Alquran, mereka juga mengkaji kitab-kitab. Pengkajian kitab dilaksanakan tiap Rabu malam. Ada 14 orang yang rutin mengikuti pengkajian ini. Mereka adalah Rasyidi bin Abdul Rahman, Syukri bin Umar alias Kunyil, Hasan Basri bin Ben Prang, Burhanuddin bin Bachtiar, Zamzami bin Nurdin, Muntasir bin Abdullah, Sayuti bin Abdullah, Edi Saputra bin Abdullah, Syamsul Bahri, Irawan, Rahmat, Adi Zainun, Win Ali dan Ruswadi bin Ben Prang.
Setelah anak-anak pengajian tidak juga melewati rumahnya, Abdullah memutuskan pergi ke balai dengan tujuan menjemput anak-anaknya. Tiga anak Abdullah mengaji di balai itu. Muntasir, 19 tahun, Sayuti, 17 tahun, dan Edi Saputra, 15 tahun. Edy juga sedang menunggu hasil kelulusannya dari SMP Negeri Lampahan.
“Lailahailallah,” ucap Abdullah, begitu sampai di dekat balai.
Pikirannya mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang mengerikan di balai itu.
Dia terus melangkah ke dalam.
Sepi. Tak ada siapapun. Anak-anak dan guru mengaji seperti lenyap. Tapi dia sempat melihat jejak berbagai jenis alas kaki tercetak jelas di tanah di sekitar balai, Rerumputan patah dan layu terinjak. Sebuah lampu teplok teronggok di luar balai. Pintu balai rusak. Sebuah senter yang tidak ada lagi baterainya tercecer di sudut,
Abdullah terus masuk. Tak ada siapa-siapa. Baju, Alquran, kitab-kitab dan lembaran buku tulis berserakan di lantai. Sebuah dompet tergeletak di lantai. Tak ada apa-apa di dalamnya, selain selembar surat bukti pembelian emas.
Di Kampung Bale Keramat pagi itu juga, Aminah berangkat ke kebunnya di dusun Pantan Gajah. Dia hendak memetik buah kopi. Dia mengenakan pakaian kebun yang biasa dia kenakan, menyandang wadah tempat menyimpan buah kopi di bahunya dan membawa sebilah parang. Dia berjalan kaki menuju kebun.
Sesampai di seberang jembatan yang biasa dilewatinya, Aminah melihat ada hal yang tak biasa di pinggir sungai. Di tanahnya banyak sekali jejak bekas kaki dan alas kaki. Jejak itu mengarah dari balai. Di sekitar itu ada sebuah sandal yang tertinggal. Dia juga melihat rumput yang berantakan berinjak-injak, seolah di antara pemilik jejak itu ada yang meronta dan melawan.
Aminah lalu melangkah mengikuti jejak –jejak itu, betul, jejak itu berasal dari balai, tetapi dia tidak masuk ke area tersebut. Dia terus saja melangkahkan kakinya menuju kebunnya, lalu berjalan sampai di muka rumah Ben Prang. Saat itu Ben sedang menyapu di halaman rumah.
“Apa tadi sempat melempar ke pintu balai waktu lewat. Apa tu…. sampai sekarang anak-anak itu belum pulang, hari ini kan gotong royong,” kata Ben kepada Aminah.
Keakraban membuat mereka biasa bercanda.
Aminah menceritakan apa yang dia lihat di tepi sungai.
Ben menanggapinya dengan bercanda, “Jangan-jangan anak-anak itu udah disapu sama mereka.”
Ketika percakapan ini berlangsung, istri Lek Madi, tetangga Ben muncul dan menceritakan tentang hilangnya anak-anak di pengajian tersebut. Mendengar cerita perempuan ini, Ben tanpa masuk lagi ke dalam rumah langsung bergegas ke balai.
Di tengah jalan, Ben bertemu Abdullah yang tengah berjalan pulang dari lokasi itu. Dalam perjalanan pulang dari balai ini pula, Ben berbicara dengan Tukiman di depan rumahnya dan kemudian didengar oleh Syamsiah yang langsung histeris.
Aminah langsung kembali ke dusun Bale Keramat dan menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya kepada warga. Mereka langsung heboh. Ada yang menangis. Beberapa orang menutup pintu tokonya dan bergegas ke balai pengajian.
Abdullah juga tidak lama di rumahnya. Dia langsung berinisiatif untuk mencari tahu keberadaan anak-anak pengajian itu di kampung sebelah. Dari pencarian itu dia tahu bahwa yang mengaji pada malam kemarin ada sembilan orang: Rasyidi bin Abdul Rahman, Syukri bin Umar alias Kunyil, Hasan Basri bin Ben Prang, Burhanuddin bin Bachtiar, Zamzami bin Nurdin, Muntasir bin Abdullah, Sayuti bin Abdullah, Edi Saputra bin Abdullah dan guru mereka Teungku Syukri bin Abdul Rahman. Sembilan orang ini hilang sampai sekarang.
Peristiwa hilangnya sembilan orang ini dikenal sebagai peristiwa “aneuk Sikureung”, yang artinya anak sembilan.
Sebelum tiga anaknya hilang, Abdullah pernah dipanggil oleh salah seorang guru SMP Negeri 1 Lampahan. Ketika dia sampai di sekolah, guru tersebut menanyakan tentang anaknya Edy Saputra yang sudah beberapa hari bolos. Padahal ujian akhir sudah dekat.
Abdullah berterus-terang bahwa dia tidak punya biaya untuk ongkos sekolah Edy. Guru itu terenyuh dan mengumpulkan uang dari beberapa guru lainnya untuk muridnya. Uang yang terkumpul sejumlah Rp. 45 ribu dan diberikan pada Abdullah.
Setelah menerima uang itu, Abdullah pulang ke rumahnya. Tapi di simpang menuju rumahnya, dia bertemu Muzakir, tetangganya. Muzakir menyarankan Abdullah untuk tidak masuk ke kampung dulu. Dia melihat beberapa tentara masuk ke kampung mereka. Abdullah mengikuti saran Muzakir.
Tindakan itu tepat. Sebab tentara-tentara tadi ternyata mencari Abdullah.
Kamaliah tengah ditemani dua anaknya, Edy dan Muntasir, saat kejadian. Muntasir sedang memasak di dapur, Edy hanya duduk-dukuk. Sayuti, anaknya yang tadi di kebun, kini ada di rumah.
Kamaliah mendengar dua orang masuk ke rumah. Kelak dia mendengar bahwa mereka adalah tentara.
Kamaliah diminta ke luar rumah oleh orang-orang itu. Dia membalas perintah tersebut dengan berkata, “Saya tak dapat melihat.” Mereka tidak peduli. Akhirnya, dengan meraba-raba, Kamaliah terus melangkah sampai ke halaman rumahnya.
Kamaliah mengalami kehilangan penglihatan secara perlahan-lahan. Menurut dokter yang dia temui, penyakit ini muncul akibat diabetes atau kencing manis yang dideritanya. Kini dia buta total.
Di halaman dia juga mendengar lima suara yang lain. Dia sempat menyimak percakapan seorang tentara dengan anaknya, Sayuti.
“Apakah kita pernah bertemu?” tanya tentara itu kepada Sayuti
“Pernah di Bale Keramat, waktu mobil bapak mogok karena terhalang lumpur, Kami membantu mendorong mobil bapak,” jawab Sayuti.
Tentara-tentara ini menggeledah rumah Abdullah, Sampai dua kali mereka keluar masuk rumah. Mereka mencari senjata yang menurut mereka disembunyikan Abdullah di rumah itu. Setelah gagal memperoleh senjata, salah seorang berjalan ke luar rumah seraya berkata, “Informasi yang kita dapatkan salah.”
Kamaliah kemudian mendengar bahwa tentara yang berbicara dengan Sayuti tadi bernama Anwar. Dia komandan SGI yang datang dari posnya di desa Conto, Lampahan.
SGI kependekan Satuan Gabungan Intelijen. Kesatuan ini tidak dikenal di daerah-daerah lain, kecuali di daerah-daerah konflik seperti Timor Leste (bekas jajahan Indonesia dulu), Papua dan Aceh.
Anwar terkenal kejam. Suatu ketika warga melihat Anwar mengenakan kalung dari rangkaian telinga manusia dengan liontin alat kelamin laki-laki.
Ben Prang, Abdullah dan Aminah ditemani beberapa warga berusaha mencari keberadaan mereka yang hilang.
Ben Prang melapor ke kepolisian sektor (Polsek) dan komando rayon militer (Koramil) Lampahan. Ben kecewa sekali pada saat itu, karena kepala desa tidak mau menemaninya menemui aparat. Alasannya? Takut.
Abdullah dan Aminah dengan beberapa warga melapor ke pos Tentara Nasional Indonesia atau TNI di Kampung Digul, yang berjarak setengah jam dari kampung Bale Keramat. Tentara di pos Kampung Digul merupakan tentara nonorganik, yaitu tentara yang dikirim pemerintah Indonesia dari daerah lain ke Aceh untuk mematahkan perlawanan Gerakan Aceh Merdeka atau biasa disingkat GAM. Mereka menanggapi laporan warga.
Tentara-tentara ini dengan dipimpin komandan posnya langsung mengunjungi balai pengajian di Pantan Gajah.
Abdullah pun meminta izin untuk mencari mereka yang hilang. Komandan tentara itu mengizinkan dengan satu syarat, “Pencarian tidak boleh menyusuri kali dan mengarah ke Kampung Digul.”***
*) Mustawalad adalah kontributor Aceh Feature di Aceh. Ia supervisor Komunitas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Aceh Utara atau K2HAU
