• Natal di Negeri Syariat
    Sosial - 2011-01-06 | 1058 Kata | 1357 Hits
    Oleh : Yuli Rahmad


     

    KOTA Banda Aceh gerimis pada 25 Desember 2010 itu. Sejumlah polisi berjaga-jaga dekat satu gereja di Kampung Keramat. Mereka mengawal sekitar seribu jemaat Huria Kristen Batak Protestan atau HKBP yang tengah melakukan kebaktian.

    Meski Aceh terkenal dengan sebutan Serambi Mekah, tapi kehidupan antar umat beragama telah berlangsung lama di sini. Sentimen antar agama atau isu Kristenisasi mulai berembus dan diembuskan ketika banyak lembaga bantuan asing datang ke Aceh pascatsunami.

    Suratkabar The Washington Post misalnya pernah memberitakan tentang
    300 anak yatim piatu korban tsunami yang dibawa ke Jakarta oleh World Help, organisasi Kristen yang berpusat di Amerika. Pihak World Help sendiri yang memberi pernyataan itu.

    “Padahal itu khan hanya klaim sepihak dari World Help di Amerika untuk menunjukkan bahwa mereka telah melakukan ‘penyelamatan’ terhadap anak-anak di Aceh”, tulis Noor Huda Ismail dalam emailnya. Dia wartawan The Washington Post yang meliput berita itu. Tapi, “Beberapa hari setelah itu, World Help kemudian menarik ulang pernyataan itu. Padahal, berita sudah bergulir dan ditelan mentah-mentah oleh banyak kalangan. Untuk pertama kalinya saya bekerja di Washington Post mendapatkan telepon dari beberapa narasumber Islam garis keras dan mengatakan ‘anda telah berjasa pada Islam, teruskan perjuangan’,” tulis Noor Huda
    .

    Dia hanya diam dan tertawa geli dalam hati mendengar kata-kata para penelepon ini.

    Pada pertengahan 2010 lalu, isu Kristenisasi kembali muncul di suratkabar Aceh. Peristiwanya terjadi di Aceh Barat. Ada tiga orang yang mengaku dihipnotis untuk masuk Kristen. Ketiganya beragama Islam. Selama delapan bulan mereka jadi pengikut Isa Almasih.

    Pendeta Amrin Sihotang yang memimpin kebaktian malam ini menganggap peristiwa tersebut ibarat cambuk terhadap umat Kristen di Aceh. Tindakan pelaku Kristenisasi dianggapnya dapat memicu tekanan kalangan tertentu terhadap umat Kristen. Padahal HKBP sendiri lebih mengutamakan peningkatan akidah umatnya sendiri.

    “Mengatur umat yang sudah ada saja sulit,” ujar Sihotang.

    Kristenisasi, menurut Sihotang, tidak saja terjadi pada pemeluk Islam seperti di Aceh Barat itu.

    “Sesama Kristen saja juga ada upaya Kristenisasi. Bahkan HKBP juga dianggap tidak beragama oleh kelompok tertentu,” sambungnya, pelan. Tapi dia tidak memberi penjelasan rinci tentang kelompok tertentu dalam Kristen yang menganggap dia dan para pemeluk HKBP tidak beragama.

    Pasalnya, praktik ajaran Kristen tidak tunggal. Ada berbagai aliran. Ada garis keras dan ada garis lunak. Ini menurut Sihotang. Dia kemudian mencontohkan juga bagaimana tarik-menarik dua aliran ini berlangsung juga dalam Islam. Kaum Islam fundamentalis menggunakan cara kekerasan untuk menegakkan keyakinannya. Begitu pula kaum Kristen fundamentalis.

    “Dan saya sangat bangga pada masyarakat Aceh. Kendati negeri Syariat ini dirundung isu Kristenisasi, mereka tetap menghargai Natal kami,” katanya.

    Awal Desember 2010 lalu, pihak kepolisian Kota Banda Aceh mengunjungi Sihotang. Mereka meminta catatan kegiatan perayaan Natal, lalu menyebutkan akan berupaya memberikan pengawalan. Itulah sebabnya sejumlah polisi berjaga di sekitar gereja malam ini.

    “Sekali lagi, kalaupun tidak dikawal, kami yakin Natal bisa berjalan dengan baik karena masyarakat kita sangat menghargai sesama pemeluk agama,” tutur Sihotang.

    Pemimpin gereja Katolik Hati Kudus di Banda Aceh, Pastor Ramli Robertus Simarmata, juga berpendapat serupa dengan Sihotang. Pengamanan tersebut inisiatif pihak kepolisian. Tanpa pengawalan polisi pun, dia yakin misa dan perayaan Natal tahun ini akan berjalan lancar.

    Simarmata menyatakan tidak pernah ada teror terhadap dirinya dan gerejanya kendati isu Kristenisasi sempat ramai di Aceh.

    Dia baru lima bulan diangkat sebagai pemimpin gereja Katolik ini dan sebelumnya sempat khawatir terhadap reaksi kaum Islam fanatik. Namun, kekhawatiran Simarmata sejauh ini belum terbukti.

    Dia tidak setuju dengan upaya orang ataupun kelompok tertentu yang memperdaya kaum muslim untuk memeluk agama Kristen. Penyebaran agama tidak boleh dilakukan kepada orang-orang yang sudah beragama.

    “Soal agama itu kan kesadaran,” tandasnya.

    Dia juga mengomentari cara media memberitakan soal Kristenisasi di Aceh Barat itu.  Pembaptisan tidak semudah yang digembar-gemborkan media.

    “Mereka (calon pemeluk Kristen) harus mampu menunjukkan Katekumenat (ketekunan dan keseriusan) minimal satu tahun,” ujarnya.

    Setelah itu pun orang-orang tersebut tidak langsung dibaptis. Tokoh-tokoh gereja akan mengevaluasi keseriusannya lagi. “Dan yang membaptis haruslah pendeta, pastor atau sejenisnya.  Selain itu tidak sah,” tambahnya lagi.

    Jadi siapa yang membaptis tiga orang di Aceh Barat itu dan apa motifnya?  Hal tersebut tidak pernah ditelusuri media.

    Karena itu, Simarmata juga meminta warga tidak terprovokasi atau menelan mentah-mentah isu pemurtadan yang diberitakan media. Sebab agama kerap dijadikan senjata pemecah-belah, khususnya di  Aceh yang baru saja menikmati perdamaian.

    “Kendati Aceh pernah mengalami konflik, namun tidak berlatar belakang agama,” katanya, lagi.

    Bagi pengikut Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB), mereka memiliki beberapa cara menyiarkan agamanya. Pemimpin GPIB Pendeta Sandino menuturkan salah satunya berupa kebaktian rumah tangga. Mereka memiliki kewajiban untuk menjalankan kebaktian dari rumah ke  rumah warga.  Tapi di Aceh hal itu tidak bisa dijalankan.

    “Alasannya, karena ada saudara-saudara kita yang belum bisa menerimanya,” tutur alumnus Sekolah Tinggi Teologi Jakarta ini.

    Kebaktian identik dengan menyanyikan lagu-lagu pujian rohani. Pelaksanaannya di rumah salah satu jemaat dikhawatirkan membuat tetangga-tetangganya merasa terganggu dan tidak nyaman.

    Kebaktian pun hanya dijalankan di gereja pada hari Minggu dan Kamis.

    Pentingnya pelaksanaan kebaktian itu, kata Sandino, karena kualitas iman pengikut GPIB  masih perlu dipupuk lagi. Banyak umat yang memilih Protestan, namun sikap dan perilakunya jauh dari ajaran gereja.

    Dia menyadari bahwa  peristiwa seperti di Aceh Barat itu bakal memicu permusuhan antara umat Kristen dengan Islam. Dia pun meminta umat Kristen di Aceh untuk menjalin komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat. Dengan begitu, para penganut agama berbeda dapat memahami keberagaman yang ada.

    Kepala Humas Kantor Wilayah Departemen Agama Aceh, Juniazi, memberi penjelasan yang menarik untuk menjawab kekhawatiran sebagian kalangan Islam di Aceh terhadap dampak Kristenisasi.

    Menurut Juniazi, perkembangan Kristen di Aceh tidak mengalami perkembangan apapun. Selama ini umat Kristiani ada di Aceh akibat migrasi penduduk dari daerah tetangga yang mayoritas beragama Kristen, seperti dari provinsi Sumatera Utara.

    “Sejauh yang kami ketahui, tidak ada orang Aceh yang beragama Kristen, kecuali kasus yang terjadi di Aceh Barat Kemarin. Tapi itu kan sudah di-syahadat (di-Islam-kan) lagi,” jelasnya.

    Saat ini jumlah umat Kristen di Aceh mencapai 42.183 jiwa. 26.212 jiwa memeluk Protestan dan 15.971 beragama Katolik. Dari 23 Kabupaten dan kota, Aceh Tenggara memiliki umat Kristen terbanyak, diikuti Aceh Singkil dan Lhokseumawe, Aceh Utara.

    Setara dengan jumlah penganut agama Kristen yang minim, jumlah rumah ibadah umat Kristen di Aceh pun sedikit. Penganut Protestan memiliki 11 rumah ibadah di berbagai kabupaten dan kota, sedang umat Katolik memiliki 21 rumah ibadah.

    Bandingkan misalnya dengan pemeluk agama Islam yang mayoritas di Aceh yang berjumlah 4.356.624 jiwa. Karena itu ada 3.574 Mesjid, 6.705 langgar dan 2.372 mushola di Aceh.

    Juniazi pun tidak menganggap Kristenisasi sebagai persoalan besar dan tidak menganggap perayaan Natal 2010 ini sebagai ancaman. Tapi anehnya, Natal kali ini tak dapat dirayakan secara terbuka, begitu pula kegiatan yang berhubungan dengan perayaan hari lahir Isa Almasih itu, nabi dan rasul sebelum Muhammad. Dulu umat Katolik yang hendak mengikuti misa akan masuk lewat pintu depan gereja Hati Kudus dan sekarang tidak lagi. Pintu depan gereja itu selalu tertutup, seperti tidak pernah ada kegiatan apa pun.

    Lagipula apa yang salah dengan Kristenisasi atau Budhaisasi atau Hinduisasi atau Katolikisasi atau Hong Hu Cuisasi dibanding Islamisasi? Selama tidak ada pemaksaan atau kekerasan, hal itu sah saja terjadi. Orang sering lupa bahwa Indonesia bukan negara Islam. Undang-undang dasar  negara ini mencantumkan enam agama resmi negara. Agama Islam merupakan salah satu dari keenam agama resmi tadi.***


    *) Yuli Rahmad merupakan kontributor Aceh Feature yang juga wartawan The Globe Journal di Banda Aceh.