• Bukan Cuak, Bukan Inong Balee
    Perempuan - 2010-11-06 | 1369 Kata | 1057 Hits
    Oleh : Mustawalad


    SAPIAH binti Ahmad, perempuan paruh baya ini, hendak menyeberang jalan menuju rumahnya ketika seorang lelaki yang mengendarai sepeda motor Yamaha RX King mendekat dan berhenti di depannya.

    “Naik, ada hal penting yang ingin saya bicarakan,” kata lelaki itu. Tanpa membantah, Sapiah duduk di boncengan. “Mau ke mana membawa saya, Nak?” Sapiah bertanya, agak cemas.

    Pengemudi sepeda motor ini membawanya ke arah timur, ke kawasan hutan Cot Glumpang yang berjarak sekitar 20 menit berkendaraan dari desa Darussalam, tempat ia tinggal. Desa ini terletak di kecamatan Nisam (sekarang Nisam Antara), kabupaten Aceh Utara.

    Begitu sampai di pinggir hutan, lelaki ini menghentikan motor, menyuruhnya turun, lalu membawanya ke dalam hutan. “Kamu cuak. Sudah banyak teman saya yang mati gara-gara kamu,” tuduhnya.

    Sapiah benar-benar kaget. Tuduhan itu bisa membuat nyawanya melayang.

    “Nyoe ken biek cuak,” balas perempuan ini dengan nada marah.

    Cuak dianggap kasta terendah di kalangan para pelaku konflik di Aceh, julukan yang memalukan. Cuak artinya musuh dalam selimut atau mereka yang bekerja sebagai mata-mata pihak musuh, baik untuk penjajah maupun militer Indonesia. Ini bukan istilah baru, tetapi sudah ada sejak masa kerajaan Aceh dulu. Bahkan cuak dianggap semacam penyakit keturunan sehingga Sapiah menangkis tuduhan itu dengan ungkapan “Nyoe ken biek cuak” yang artinya “Ini (saya) bukan keturunan cuak.”

    Lelaki maupun perempuan bisa menjadi cuak. Di masa Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan di Aceh, para cuak yang pada umumnya lelaki terkenal kejam. Pejabat dan militer Indonesia punya sebutan sendiri untuk mereka, yaitu Tenaga Pembantu Operasi atau disingkat TPO. Para cuak ini bukan hanya memberikan informasi atau sebagai penunjuk jalan dalam operasi-operasi yang dilakukan polisi dan tentara Indonesia, tetapi mereka terlibat langsung dalam penyiksaan bahkan melaksanakan eksekusi terhadap orang-orang yang dituduhkan sebagai musuh Negara Indonesia.

    Setelah pemerintah Indonesia mencabut status DOM di Aceh pada 7 Agustus 1998, dalam hitungan hari para cuak diamuk orang-orang yang merasa dirugikan. Kasus pembunuhan terhadap cuak juga ada, tapi tidak terungkap siapa pelakunya. Muncul anggapan saat itu bahwa sejumlah cuak sengaja dibunuh oleh yang memerintah mereka untuk menghilangkan jejak kejahatan kemanusiaan.

    Lelaki yang membawa Sapiah ini sekampung dengannya. Rumah mereka berjarak sekitar 200 meter. Sapiah tidak tahu jabatan lelaki ini dalam struktur Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia menyebutnya, “GAM Atom.”

    Atom adalah sebutan sebagian orang Aceh di pesisir utara untuk material dari plastik. Bahan plastik sukar hancur atau menyatu dengan tanah, sehingga julukan Atom ini dikaitkan dengan mereka yang bebal. “GAM Atom” juga julukan untuk orang yang mengaku-aku GAM padahal tidak tahu sejarah dan apapun tentang GAM itu sendiri.

    Lelaki ini hendak mengikat Sapiah di sebatang pohon.

    “Nak, di sini dekat jalan. Kalau nanti ada tentara lewat, mereka akan menembak. Bukan hanya aku yang mati, kamu juga akan mati. Ikat saja saya di tengah hutan yang jauh dari jalan, biar aku yang mati sendiri,” kata Sapiah, pasrah.

    Mereka hanya berdua di hutan. Lelaki tersebut tidak jadi mengikatnya di pohon. Sapiah dibawa lebih jauh ke dalam hutan.

    Lelaki ini melanjutkan niatnya dan mengikat Sapiah di sebatang pinang menggunakan kain yang sebelumnya digunakan Sapiah sebagai penutup kepalanya.

    Sapiah pernah jatuh di kamarnya sendiri, sehingga tulang di lengan kanannya patah. Ia tengah dalam tahap penyembuhan. Karena itu, tangannya masih dibalut dan digendongnya dengan menggunakan kain. Akibat ikatan tali yang erat di tangannya sewaktu diikat ke pohon pinang, cedera yang hampir sembuh itu kembali parah. Akibatnya, sampai sekarang tangan kanan Sapiah tidak bisa berfungsi normal.

    Perempuan ini diikat selama dua jam, mulai pukul 16.00 sampai pukul 18.00.

    Selama dua jam itu banyak percakapan yang terjadi antara Sapiah dan tetangganya, terutama tentang tuduhan bahwa ia cuak. Di sela-sela percakapan, lelaki itu sesekali menelepon dan menerima telepon dari seseorang. Hutan yang sunyi membuat Sapiah bisa mendengar suara laki-laki yang berbicara dengan penculiknya, “Jangan kau sentuh dan segera bawa dia pulang.” Kemudian Sapiah dibebaskan.

    “Aku tidak benci dan tidak dendam kepada GAM, tetapi aku benci dan dendam kepada orang yang mengikat aku,” katanya kepada saya. Ia menyeka air matanya dengan jilbabnya.

    Kalau melihat latar belakang keluarganya, tuduhan terhadap Sapiah ini tidak beralasan. Putra sulungnya, Jamaluddin Hanafiah, adalah anggota GAM. Pada 15 September 2002, putranya gugur bersama tiga temannya dalam kontak senjata dengan tentara Indonesia di kawasan Kilometer 26, Krueng Tuan Alue Dua, Nisam.

    Saat kejadian itu Sapiah sedang sibuk menyediakan makanan untuk orang-orang GAM yang datang ke rumahnya. Ia sudah beberapa kali memasak untuk mereka sebelum ini. Tidak seperti biasanya, para gerilyawan GAM tidak menyentuh makanan yang dihidangkannya. Mereka malah saling berbisik, membicarakan sesuatu. Ia sempat mendengar nama putranya disebut. Sapiah merasa hal buruk sudah terjadi, sehingga ia kemudian bertanya, “Anak saya kena tembak ya?” Orang-orang GAM saling berpandangan dan salah seorang di antara mereka menjelaskan bahwa anaknya hanya tertembak di kaki.

    Di belakang rumah Sapiah, ada sebidang kebun dan di situ dulu berdiri gubuk yang dibangun anaknya, Hanafiah. Kelak gubuk tadi dibakar tentara. Gubuk itu pernah jadi tempat anggota GAM beristirahat, bukan hanya mereka yang berasal dari desanya, tapi juga GAM dari wilayah Linge, yang meliputi kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Anggota-anggota GAM ini sering makan masakannya dan meminta Sapiah membuatkan kopi.

    Semuanya menjadi jelas ketika seseorang menemui dan menyuruh Sapiah datang ke meunasah desa Darussalam. Dengan perasaan campur aduk, ia bergegas menuju meunasah. Puluhan warga ternyata telah berkumpul. Di lantai Meunasah yang dilapisi tikar, ia melihat jenazah putranya. Tubuh Hanafiah diselimuti kain batik dan hanya di bagian wajah saja yang terbuka.

    “Mukanya bersih, matanya tertutup, di lehernya ada lubang bekas peluru, tak ada lagi darah mengalir dari luka itu,” katanya.

    “Dia tidak tertembak di kaki,” tambahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

    Ia tidak sempat menyaksikan pemakaman Hanafiah. Sapiah pingsan tak berapa lama setelah mengamati wajah putranya. Saat ia siuman, putranya telah selesai dimakamkan.

    Namun, pengalaman buruk terus menyertainya. Sebelum percobaan pembunuhan dilakukan oleh lelaki yang menuduhnya cuak, Sapiah berhadapan dengan militer Indonesia.

    Pada 9 November 2004, pukul 11.00 siang, truk-truk berisi tentara berhenti di muka rumah Sapiah. Ia masih sempat menghitung jumlah truk itu. “Ada 17 truk,” kenangnya.

    Prajurit bersenjata lengkap berlompatan dari dalam truk, mengepung rumahnya.

    Sapiah menyongsong mereka dengan berani. Ketika mendekat ke salah satu truk, ia mendengar suara lelaki yang dikenalnya, “Iya saya pernah tidur di rumah ini dan saya selalu diberi makan oleh dia.” Ternyata orang yang pernah ditolongnya telah melaporkannya kepada militer Indonesia.

    Ia kemudian dibawa beberapa prajurit ke rumah warga yang terletak 10 meter dari rumahnya.

    Ia diinterogasi. Tentara menuduhnya Inong Balee, pasukan perempuan GAM. Nasib Inong Balee di tangan tentara sama seperti nasib cuak di tangan GAM: dieksekusi. Tapi hari itu juga Sapiah dilepaskan, karena tidak terbukti sebagai Inong Balee.

    Ketika diinterogasi, ia mengatakan terus terang bahwa pernah memasak dan memberi makan pasukan GAM. Ia tidak mungkin menolak orang-orang yang lapar ini demi keselamatan dirinya.

    Kemampuannya berbahasa Indonesia sangat berguna saat menjawab pertanyaan para prajurit tersebut.

    Tekanan perang, ancaman-ancaman, dan kematian putranya meninggalkan trauma serta kesedihan mendalam.

    Kematian putra sulungnya, terutama, mengubah kondisi jiwa Sapiah.

    Ketika langit mendung ia akan buru-buru menutup semua jendela kaca dengan kain, lalu berlari ke kamar dan tidur di bawah kasur. Ia begitu ketakutan, sampai mengeluarkan keringat dingin. Ia pernah mencoba bersembunyi dalam lemari, tapi takut kehabisan napas. Suara petir yang paling ditakutinya. Suara itu mengingatkannya pada suara kontak senjata antara militer Indonesia dan GAM yang sering terjadi di kampungnya.

    “Kalau tentara datang dan meminta kelapa saya akan kasih, kalau mereka datang minta ayam saya kasih. Tapi saya tak pernah memberikan nyawa orang kepada tentara,” katanya.

    Setelah penculikan dan tuduhan cuak atas dirinya yang dilakukan anggota GAM itu, Sapiah takut melihat lelaki berpostur tinggi besar, berewokan. Ia juga ketakutan tiap kali mendengar bunyi sepeda motor “Yamaha RX King”, yang memang nyaring. Dalam pikirannya orang yang berbadan besar itu membawa pisau tajam dan akan membunuhnya, sedang suara sepeda motor membuatnya berpikir bahwa seseorang hendak menjemputnya untuk dibunuh.

    Ketika perasaan kecewanya memuncak, di benaknya terlintas perintah, “Bakar, lempari rumah lelaki itu.” Lelaki yang dimaksud adalah lelaki yang telah mengikatnya di pohon dan menuduhnya cuak.

    Namun, keluarganya mencegah Sapiah melampiaskan kemarahannya tiap kali ia hendak melangkah ke rumah lelaki itu. Mereka juga membawanya ke kampung asalnya di Samalanga, kabupaten Bireuen untuk menjalani pengobatan alternatif, meskipun Sapiah membutuhkan penanganan yang jauh lebih serius dari itu. Ia memerlukan bantuan ahli jiwa yang dapat membantunya lepas dari trauma berat.***


    *) Mustawalad adalah kontributor Aceh Feature di Aceh. Ia supervisor untuk Komunitas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Aceh Utara atau K2HAU.