• Nama Saya, Wanda
    LGBTIQ - 2010-10-23 | 914 Kata | 934 Hits
    Oleh : Linda Christanty


    PERTAMA kali kami bertemu,  saya mengira Wanda Kalalo asal Maluku. Tapi ia ternyata tak punya darah Maluku sedikit pun. Ayahnya asli Aceh, ibunya Batak Mandailing. Usia Wanda menginjak 33 tahun. Ia mengenakan celana ketat dan kardigan motif garis-garis horisontal putih-hijau sore itu. Cara bertuturnya lembut dan teratur. Gerak-geriknya anggun. Beberapa kali ia mengambil telepon seluler dari tas tangannya, memeriksa pesan yang masuk dan membalasnya.

    Ia  merasa dirinya perempuan sejak di taman kanak-kanak.

    “Waktu itu model rambut bob lagi ngetren dan Wanda sudah berambut seperti itu tapi lebih panjang lagi,” kenangnya.

    “Mungkin sejak Ibu mengandung Wanda pun Ibu memang berkeinginan punya anak perempuan. Lucunya lagi, selama kehamilan itu Ibu sudah membeli perlengkapan untuk menyambut bayi perempuan,” lanjutnya.

    Wanda lahir sebagai anak laki-laki dengan nama Irwan Febri. Ketika di sekolah dasar, ia mulai merasa bahwa keperempuanannya dipertanyakan.

    “Guru menegur Wanda, ‘Wanda, kamu perempuan atau laki-laki? Kenapa teman-temanmu perempuan semua? Kenapa rambut kamu panjang? Itu kata guru Wanda. Akhirnya waktu pulang sekolah, Wanda menangis dan mengadu pada ibu.”

    Tidak hanya itu, ia juga malu untuk buang air kecil di kamar mandi anak laki-laki.

    “Karena Wanda ini perempuan.”

    Rambutnya kemudian dipotong pendek.  “Setelah potong rambut, Wanda sakit,” katanya.  Di rumahnya sendiri ia kerap mendengar abangnya yang sulung bertanya kenapa sebagai laki-laki ia berdandan seperti perempuan.  Wanda lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Ia punya dua kakak laki-laki dan satu adik perempuan.

    “Waktu masih anak-anak itulah Wanda sempat berpikir betapa Tuhan tidak adil. Tuhan, kalau kau menciptakan laki-laki dan perempuan, kenapa engkau tidak menciptakan aku seutuhnya. Itu yang ada dalam hati Wanda.”

    Kisah Wanda mengingatkan saya pada adegan dan dialog dalam My Secret Self: A Story of  Transgender Children, film dokumenter tentang anak-anak transgender di Australia. Jazz, bocah yang terlahir dengan kelamin laki-laki itu menyatakan dirinya anak perempuan saat ia berusia I,5 tahun. Di usia dua tahun, ia berkata pada ibunya, “Mama, kapan peri yang baik hati akan datang dengan tongkat sihirnya dan mengubah penis saya jadi vagina?” Psikiater yang didatangi keluarganya menyebut Jazz mengalami penyimpangan identitas gender. Orangtua Jazz tidak puas, lalu membawa anak mereka ke ahli terapi yang memahami isu seks dan gender. Ketika bertemu dengan Jazz, sang ahli terapi membawa boneka laki-laki dan perempuan, lalu meminta Jazz menunjuk boneka mana yang seperti tubuhnya. Ia menunjuk boneka laki-laki dan berkata, “Ini saya yang sekarang,” lalu menunjuk boneka perempuan dan berkata, “Ini apa yang saya inginkan.”  Namun, kelompok konservatif dalam masyarakat tak menerima keadaan ini. Ibu Jazz, Renee Jenning, memperoleh banyak email yang menuduhnya sebagai orangtua yang buruk dan ada pula yang menyebutnya setan. Ia dan anaknya diancam untuk dibunuh.

    Di hati Wanda pernah tebersit keinginan untuk mengoperasi payudara dan kelaminnya, terutama menjelang dewasa.

    “Tapi sekali lagi melihat risikonya, lebih baik hal itu tidak saya lakukan. Kalau memang ada yang mau dengan Wanda, mereka harus menerima Wanda apa adanya.”

    Sejak 2008 Wanda aktif di Perkumpulan Waria Sumatera Utara atau Perwari. Di Medan, sudah 50 waria terinfeksi HIV-AIDS. Meskipun masih banyak orang yang menganggap hubungan homoseksual sebagai penyebar utama virus tadi, tapi ternyata kaum heteroseksual yang terbukti paling banyak menularkannya.  Selama 20 tahun ini sudah lebih dari 19 ribu orang mengidap HIV AIDS di Indonesia. Setengah dari jumlah tersebut adalah heteroseksual. Sekitar delapan ribu penderita tertular lewat jarum suntik dan  sisanya, kaum homoseksual.

    Wanda mulai tertarik pada lelaki saat kelas lima sekolah dasar.

    “Senang melihat guru olahraga. Biasalah waktu seumur itu kan anak-anak suka pada gurunya. Baru di SMP mulai ada keinginan untuk punya pacar.”

    Selama belajar di sekolah menengah pertama di Cot Gapu, Bireuen, Wanda punya geng yang terdiri dari anak-anak perempuan dan mereka membuat kesepakatan untuk tidak saling menyakiti dalam hal apa pun. Wanda juga minta agar mereka tidak memanggilnya “bencong”.

    “Guru juga menerima keadaan Wanda. Ada beberapa waria di sekolah. Tapi kami tidak akrab. Kami hanya say hello saja.”

    Hubungan seksnya yang pertama terjadi ketika Wanda di kelas tiga sekolah menengah atas. Pasangannya adalah gurunya sendiri.

    “Hubungan ini suka sama suka. Dia cowok yang Wanda impikan, baik, sabar, perhatian dan dewasa. Usia guru Wanda sekitar 36 tahun. Dia juga datang apel ke rumah. Kami seperti orang pacaran, tapi tidak ada pernyataan apa-apa tentang cinta.  Orangtua semula menyangka Wanda bikin masalah atau apa di sekolah, sehingga guru ini datang.”

    Setamat SMA, Wanda memutuskan pindah ke Medan. Guru yang juga kekasihnya khawatir.

    “Dia bilang, takutnya orang yang jadi tumpuan Wanda di sana itu tidak seperti dia.”

    Beberapa tahun lalu Wanda pernah datang ke sekolahnya ini dan bertemu dengan guru-guru.

    “Mereka menyebut Wanda makin cantik. Tapi guru yang dulu dekat dengan Wanda tidak ada hari itu,” kisahnya.

    Di Medan, ia kuliah sampai semester dua di Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Sumatera Utara.

    “Setelah berhenti kuliah, main ke sebuah salon, ada pelanggan yang ke salon dan Wanda sering jalan sama dia. Terus kepada dia Wanda bilang ingin belajar salon. Dia yang membiayai Wanda kursus sampai dapat sertifikat.”

    Namun, Wanda tidak pernah tahu latar belakang tiap lelaki yang berhubungan dengannya. Ia tidak tahu di mana mereka tinggal dan apa pekerjaan mereka.

    “Laki-laki sangat sensitif bila berpasangan dengan waria. Tidak mau diketahui orang, misalnya. Mungkin dia menjaga jangan sampai kalau ada apa-apa, Wanda tiba-tiba mendatangi dia di rumahnya.”

    Kekasih Wanda yang sekarang berusia 19 tahun, orang Aceh, dan pelayan di satu restoran. Mereka sudah satu tahun menjalin hubungan. Ia juga sudah mengenalkan lelaki itu pada keluarganya.

    “Ibu yang paling memahami Wanda. Ibu menyebut pacar Wanda sebagai teman hati Wanda. Kalau Wanda ajak pasangan ke rumah, Ibu akan berkata, ‘Apa teman hati Wanda sudah makan? Ajak makan teman hati Wanda.’ Ibu bilang begitu.”



    *) Linda Christanty adalah pemimpin redaksi Aceh Feature. Selain menulis dua buku fiksi, Kuda Terbang Maria Pinto dan Rahasia Selma, ia juga menulis buku esai tentang politik, Islam dan gay Dari Jawa Menuju Atjeh. Bukunya tentang Islam dan hak asasi manusia akan terbit di bulan November tahun ini.