"ADAKAH yang bisa menjelaskan, sampai di mana media memberikan peran besar bagi para teroris ini?" tanya Tantan Hermansah di milis Jurnalisme. Milis ini diikuti sejumlah aktivis media, jurnalis, dan mahasiswa. Diskusi-diskusinya membahas beragam isu seputar jurnalisme dan media.
Pertanyaan Tantan dilatarbelakangi oleh pemberitaan aksi teror yang kerap dikaitkan dengan agama dan intoleransi antar pemeluk agama yang banyak terjadi belakangan ini. Isu-isu ini menjejali halaman-halaman depan media cetak, maya hingga tayangan berita televisi. Sebut saja aksi perampokan Bank CIMB Niaga Medan, Sumatera Utara belum lama ini yang menurut kepolisian diduga terkait jaringan terorisme. Belum lama ini media juga diramaikan dengan berita aksi penganiayaan terhadap jamaah Huria Kristen Batak Protestan di Bekasi, Jawa Barat.
Tak cuma di Indonesia, isu kekerasan dan intoleransi ini juga terjadi di luar negeri dan kerap menghiasi media. Misalnya, berita tentang rencana pembangunan pusat ibadah dan Islam yang diajukan Faisal Abdul Rauf dan warga muslim di New York, Amerika Serikat, telah menyulut reaksi pro dan kontra di negara tersebut. Pasalnya, lokasi pembangunan hanya beberapa blok dari monumen Ground Zero, tempat menara kembar World Trade Center hancur setelah serangan 11 September 2001. Presiden Barack Obama dan Walikota Michael Bloomberg mendukung keinginan Abdul Rauf. Namun, televisi Indonesia hanya mengekspos berita-berita protes dari kelompok konservatif Amerika terhadap rencana Rauf.
Berita tentang berbagai kalangan yang terdiri dari bermacam agama—Hindu, Sikh, Kristen, Islam—dan bahkan kaum atheis, anarkis dan komunis, yang turun ke jalan dan menggelar aksi untuk mendukung pendirian pusat komunitas Islam tersebut sama sekali tidak ditayangkan televisi kita.
Pemberitaan yang menonjolkan satu sisi ini menyulut emosi sebagian orang Indonesia, yang tidak memiliki akses luas terhadap berita. Sentimen keislaman pun dikobarkan pihak tertentu dan memperkeruh situasi.
Reaksi warga Amerika yang menolak pembangunan itu sebenarnya bersumber dari kemarahan mereka terhadap serangan pesawat bunuh diri yang mengguncang negeri itu sembilan tahun lalu. Mayoritas para peneror dan terlibat dalam aksi tersebut adalah warganegara Arab Saudi. Sekitar tiga ribu orang dari berbagai bangsa dan agama—mengingat Amerika adalah sebuah negara multiras dan multiagama—terjebak dan meninggal dunia di menara kembar yang terbakar. Ulah orang-orang Arab yang sering diidentikkan dengan Islam ini kelak memicu pula kebencian kaum konsevatif Kristen di Amerika terhadap Islam.
Di negara bagian Florida, Pastor Terry Jones berencana menggelar aksi pembakaran Alquran untuk memperingati tragedi 11 September. Ketika media eletronik maupun cetak di Indonesia memberitakan rencana Pastor Jones, kontan sebagian orang yang menyebut dirinya muslim di Indonesia, Pakistan, Iran, Afghanistan dan sejumlah negara lain melancarkan protes. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpaksa mengirim surat kepada Presiden Barack Obama, mendesak agar Presiden Obama turun tangan dan mencegah rencana Pastor Jones. Tindakan presiden juga terpicu oleh berita.
Media massa ternyata menjadi sumber utama bagi khalayak dalam membuat keputusan. Kualitas keputusan ditentukan mutu informasi yang disajikan, seperti akurasi berita, proporsional, keseimbangan, dan sebagainya. Namun, alih-alih menyajikan berita yang akurat dan mendalam, media kerap kali larut, terjebak dalam jargon dan sensasionalisme.
BERITA yang keliru berpotensi menyulut kebencian dan konflik baru. Berita-berita semacam itu juga memicu ketidakpercayaan warga terhadap jurnalis dan media.
TVOne misalnya pernah ceroboh dalam memberitakan pengejaran Noordin M. Top, salah satu pemimpin aksi pengboman di Indonesia. Televisi ini berkali-kali memberitakan kematian Noordin, tapi ternyata yang ditemukan tewas itu adalah Ibrohim, salah satu anggota kelompoknya.
Kecerobohan media yang semacam ini juga terjadi dalam kasus "penurunan bendera merah putih" di beberapa wilayah di Aceh, dua tahun setelah Perjanjian Helsinki. Media lokal dan nasional hanya mengutip keterangan kepolisian dan militer yang menyebutkan adanya penurunan bendera merah putih oleh sekelompok orang menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Berita tadi mengundang reaksi legislator di Senayan, petinggi militer di Jakarta dan berbagai politis, termasuk almarhum Gus Dur yang menilai Aceh masih belum aman dari "kelompok separatis".
Akibat isu ini pula sejumlah polisi datang ke Tanjong Beuridi, Bireun. Meskipun warga memprotes adanya isu tersebut, aparat malah menembak Ahmad Kumis, mantan Gerakan Aceh Merdeka, dan mencederai sejumlah orang.
Media pun lebih banyak mengutip keterangan dari kepolisian atau militer ketimbang korban dan warga yang menjadi saksi kekerasan tersebut. Pemberitaan itu merugikan desa Tanjong Beuridi. Warga pun enggan percaya pada wartawan.
AKURASI berita diperoleh dari verifikasi. Penggunaan kata-kata seperti "kelompok teroris Aceh" misalnya menunjukkan kemalasan media dan wartawan dalam melakukan verifikasi. Sebab kelak terbukti bahwa sebagian besar anggota kelompok yang berlatih kemiliteran di Jantho, Aceh Besar, dan disergap polisi pada Januari 2010 itu ternyata orang Jawa dan Sunda. Salah seorang pemimpinnya, Dulmatin, yang keturunan Arab, bahkan ditembak polisi antiteror di Tangerang, Jawa Barat.
Melihat banyaknya konflik yang dikaitkan dengan agama di berbagai negara pasca penabrakan menara kembar World Trade Center di Amerika, International Federation for Journalists menerbitkan buku berjudul Fighting Words; How Arab and American Journalists Can Break Through to Better Coverage.
Buku ini menyodorkan tiga langkah penting bagi wartawan dalam meliput dan menulis soal konflik atau teror yang berkaitan dengan agama.
Pertama, selain tetap memegang teguh dan mengamalkan prinsip-prinsip jurnalisme, wartawan perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang keragaman agama dan perbedaan budaya.
Kedua, bersikap terbuka terhadap perbedaan, menghindari stereotipe dan tujuan sensasional dengan melakukan verifikasi.
Ketiga, ruang redaksi perlu merumuskan kata yang tidak bias terhadap masing-masing kelompok atau golongan. Pelaku pengeboman, perampokan, maupun pembunuhan, semestinya tetap dilaporkan sebagai penjahat atau pelaku kejahatan, ketika belum ada bukti dan vonis pengadilan.
*) Linda Christanty adalah pemimpin redaksi Aceh Feature di Banda Aceh. Samiaji Bintang adalah kontributor Aceh Feature di Jakarta.
