SAYA melihatnya lagi. Ia memikul sekarung goni, lalu memasukkannya ke dalam truk.
Berulang kali saya memanggilnya, melambaikan tangan kepada pemuda yang mengenakan kaos iklan produk pencuci piring itu. Ia sama sekali tidak mendengar panggilan saya. Lingkaran kehitaman tercetak di punggungnya, karena peluh yang membanjir bercampur debu telah membasahi bajunya.
Tapi ketika saya hendak berbalik pergi, ia justru memanggil saya, "De Ai!" Itu nama kecil saya.
"Kamu yang ketemu di terminal bus Langsa itu kan? Yang ketinggalan bus?" Ia masih mengingat kejadian setahun silam.
Namanya, Nasiruddin. Kami bertemu tepat di hari peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketika itu saya terlambat tiba di terminal bus baru Simpang Leh, Seuriget. Bus yang seharusnya saya tumpangi sudah tidak ada. Bus berikutnya akan datang dua jam lagi, tepatnya pukul sebelas malam.
Di samping saya duduk seorang pemuda berambut cepak, berkaos putih. Celana jinsnya biru tua dan jaketnya tampak kumal. Sepintas lalu wajahnya pun jauh dari kesan menentramkan.
Tapi ia kemudian menyapa saya dengan sopan. Kami pun berkenalan. Nasiruddin ternyata pernah ikut Gerakan Aceh Merdeka atau GAM.
"Nyan masa lalu. Meunyo ureung tuha peugah, masa lalu nyan pelajaran (Itu masa lalu, kalau orang tua bilang, masa lalu itu pelajaran)," katanya. "Kita belajar dari pengalaman. Kalau pengalaman kita buruk, untuk ke depan jangan diikuti lagi pengalaman buruk itu. Iya kan?" tambahnya.
Ia hendak mencari kerja di Banda Aceh. Baginya, perdamaian yang disepakati pemerintah Indonesia dan GAM pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia, merupakan tonggak awal sejarah baru bagi Aceh.
"Pekerjaan apa saja asal halal. Kan saya tidak bersekolah. Tapi yang lebih enakan sedikit, apalagi yang jadi gubernur sekarang orang yang kita kenal," ujar Nasiruddin.
Irwandi Yusuf, gubernur Aceh sekarang, adalah bekas GAM, sama seperti dirinya.
Lagipula, pemerintah wajib memberi pekerjaan buat mantan GAM sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Helsinki: "Semua mantan anggota pasukan GAM akan menerima alokasi tanah pertanian, pekerjaan, atau jaminan sosial yang layak bila mereka tidak mampu bekerja".
Nasir, begitu ia biasa disapa, mengatakan bahwa ia tak bersekolah bukan karena rasa malas. Situasi konflik membuat ia khawatir untuk keluar rumah. Konflik pula yang membuatnya harus hidup berpindah-pindah agar selamat. Selain itu, biaya pendidikan sangat mahal untuk ukuran kemampuannya.
"InsyaAllah, sekarang tidak lagi seperti itu. Sekarang kan sudah damai. Semuanya sudah lebih enak. Biaya pendidikan murah. Cari rezeki juga mudah," katanya.
Saya bertanya, pekerjaan apa yang ingin dicarinya di Banda Aceh.
"Apapun. Asal jangan pekerjaan seperti sekarang. Walaupun jadi tukang bersih-bersih, tetapi meyakinkan. Boleh juga lah," jawab Nasir.
Ia pernah bekerja sebagai pekerja bangunan dan kuli angkut di truk barang.
"Saya punya banyak kenalan di Banda Aceh. Nanti teman saya itu yang akan memberi arahan untuk mendapatkan pekerjaan. Bapak Gubernur kita kan juga teman. Pasti lebih mudah," katanya semangat, dengan mata berbinar.
Tak berapa lama kami mengakhir percakapan.
"Saya ke Banda Aceh menumpang mobil teman," katanya. Seorang lelaki melambaikan tangan kepadanya, lalu ia pun berlari ke arah bus yang akan membawanya ke Banda Aceh.
Setahun kemudian ia ternyata kembali menekuni pekerjaan sebagai kuli angkut.
Meski sejumlah orang banyak diuntungkan dengan perdamaian, seperti memperoleh modal dan peluang usaha atau mendadak kaya-raya, tapi Nasiruddin tidak seberuntung mereka.
Saya juga masih ingat percakapan dengan perempuan bernama Mak Nu, yang berjualan di terminal tempat saya bertemu Nasiruddin setahun lalu.
Setelah bus ke Banda Aceh membawa Nasiruddin, saya pindah duduk ke dekat kamar mandi. Ada sepasang suami istri di situ. Mereka berjualan di atas becak. Beberapa makanan ringan dan permen tampak di antara jualan mereka. Sang suami tampak sudah kepayahan bergerak, karena usia tua. Istrinya yang kelak menyebut namanya sebagai "Mak Nu" baru saja membeli sebungkus nasi. Ia kemudian mencampur nasi itu dengan nasi dalam rantang, lalu membaginya dengan sang suami. Lauk mereka hanya beberapa potong ikan asin.
"Ayo kita makan," ajak mereka pada saya.
Mak Nu dan suaminya makan dalam diam.
Setelah makan, Mak Nu mulai berbagi cerita. Mak Nu dan suaminya bisa berdagang di malam hari setelah perdamaian di Aceh.
"Banyak juga gedung-gedung bagus," katanya.
Tsunami melanda Aceh sebelum perdamaian terjadi. Bencana ini mendatangkan banyak bantuan asing. Gedung-gedung baru pun dibangun. Tapi kebanyakan warga menganggap pembangunan ini adalah dampak Perjanjian Helsinki, bukan bagian dari pembangunan Aceh pascatsunami.
Di masa konflik, Mak Nu hidup dalam kekhawatiran.
"Saya khawatir sama suami saya. Takut kalau tiba-tiba suami saya tidak pulang lagi dan tiba-tiba ada orang ramai antar jenazahnya," tuturnya.
Dulu lembaga donor juga punya program cash for work. Setelah bekerja orang langsung dibayar. Macam-macam pekerjaan. Mulai dari pembangunan jalan sampai pembersihan kampung. Uang mudah didapat saat itu, menurut Mak Nu.
Setelah rekontruksi dan rehabilitasi Aceh pascatsunami selesai, lembaga-lembaga bantuan pergi, sehingga uang pun susah dicari.
Apa yang Mak Nu rasakan lima tahun setelah damai?
"Nggak tahu. Saya yang penting bisa makan satu hari sekali saja cukup. Tapi mudah-mudahan ada tanda tangan perdamaian lagi. Biar mudah cari rezeki," tuturnya.
Maksudnya, ia menginginkan masa awal perdamaian dulu, saat bantuan-bantuan masih banyak.
Tapi kalau ada konflik lagi, ia juga pasrah.
"Walaupun negeri tidak damai, yang penting damai hati dengan mengaji Alquran," ujarnya.
*) Ulfa Khairina adalah kontributor Aceh Feature di Aceh.
