• Menanam untuk Laut
    Lingkungan - 2010-09-03 | 800 Kata | 749 Hits
    Oleh : Linda Christanty dan Khiththati


    PESAWAT yang menerbangkan saya ke George Town, Pulau Pinang, penuh orang Aceh. Rata-rata mereka hendak berobat. Pulau ini terkenal dengan pelayanan rumah sakit yang baik, murah dan cepat. Tapi pria yang duduk di sebelah saya ini pergi ke George Town untuk menamatkan kuliah doktornya di Universiti Sains Malaysia. Ia menekuni terumbu karang. Namanya, Zulfikar.

    “Waktu S2, tesis saya juga terumbu karang,” katanya, bersemangat.
    Sudah dua tahun ia kuliah. Dulu ia mengajar di Universitas Malikul Saleh, Lhokseumawe. Istri dan empat anaknya tak ikut serta, karena itu ia sering bolak-balik ke Aceh untuk menengok keluarga.

    Sepanjang penerbangan ia melulu bercerita soal karang dan kecemasannya terhadap dampak pemanasan global.


    “Orang-orang selalu mengaitkan dampak global warming dengan hutan. Tapi yang nyata sekarang laut yang justru terkena akibat yang bisa merusak biotanya,” katanya, lagi. Bulan-bulan lalu karang memutih. Penyebabnya, suhu yang terlalu panas itu.

    “Kalau putihnya tidak sampai ke bawah, hanya di pucuk-pucuknya, mungkin masih bisa tumbuh lagi. Karang itu pertumbuhannya ada yang cuma satu sentimeter per tahun, tapi ada juga yang cuma  dua milimeter per tahun. Bayangkan kalau karang rusak. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkannya. Karang itu tempat tinggal ikan-ikan karang, yang jadi tangkapan nelayan-nelayan kecil. Kalau karang rusak, dampaknya bisa mengganggu ekonomi mereka,” tuturnya, tanpa lelah.

    Iseng-iseng ia menulis keresahannya tadi di Facebook. Ternyata karang memutih tak cuma di Sabang, Aceh. Teman-temannya di Puket, Thailand, di Bali, di Malaysia, mengomentari keluhannya dan mengeluhkan hal serupa.

    Tak berapa lama ia beralih topik ke soal gletser seluas Pulau Sumatra yang mencair di Antartika. Es seluas itu pasti menurunkan suhu air laut.

    “Meski hanya lima derajat, tapi ikan atau penghuni laut yang biasa hidup dalam suhu sebelumnya akan musnah,” lanjutnya, seraya menyebut pendapat orang bahwa 30 tahun lagi penyu laut tak ada lagi gara-gara pemanasan global.

    Setelah pramugari mengantar minuman dan makanan ringan untuk kami, ia beralih ke pengetahuan orang yang terbatas tentang karang. Ketika masih mahasiswa di Aceh, ia memperoleh pengetahuan keliru dari dosennya.

    “Dosen saya bilang, terumbu karang itu tumbuhan. Padahal itu hewan. Apa ciri-cirinya ia hewan?”

    Belum sempat saya menjawab, ia sudah berkata, “Di dalam pori-porinya itulah hidup hewan terumbu. Makanya kalau terumbu karang mati, bau busuknya melebihi bau bangkai ikan.”

    Ia merasa beruntung akhirnya mengetahui kebenaran, meski setelah bertahun-tahun. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan fatal dosennya dulu.

    “Karena itu tiap kali awal mengajar, saya selalu menanyakan hal sederhana itu pada mahasiswa, supaya mereka tidak salah sedari dini,” ujarnya.

    Zulfikar punya cita-cita mulia. Ia ingin menjadikan satu Pulau Weh sebagai laboratorium penelitian dan memimpin laboratorium tersebut. Siapa pun yang ingin tahu soal karang bisa datang ke sana. Tidak banyak orang yang menyerahkan hidupnya untuk mengurus terumbu karang. Banyak temannya semata-mata bekerja untuk uang atau proyek tertentu.

    “Bagi saya, uang perlu. Tapi ada hal penting yang saya lakukan selain untuk mendapat uang.” Ia tiba-tiba ingin mengenalkan saya pada profesor di kampusnya agar saya bisa mengetahui lebih dalam seluk-beluk terumbu. Nama dosennya mirip namanya, Zulfigar.

    Di pantai Lampuuk, Aceh, ada sejumlah orang yang juga peduli pada terumbu, seperti Zulfikar. Bedanya, mereka bukan ilmuwan dan peneliti.

    “Dulu di
    sini sangat indah, banyak kayu besar yang tumbuh, ada banyak ikan karena adanya karang laut, tapi habis tsunami banyak yang telah berubah,” kata Cut Muhammad Daot, panglima laot Lampuuk.

    Beberapa upaya dilakukan Daot bersama warga Lampuuk untuk mengembalikan keadaan laut yang berubah gara-gara tsunami. Salah satunya dengan membentuk Kawasan Bina Bahari atau disingkat Kabari, perkumpulan untuk menjaga kelestarian laut di kawasan mereka. Ia juga mengajak musyawarah nelayan dan pemerintah desa.

    “Jadi
    Kabari ini gerakan seluruh masyarakat, selain untuk menjaga kelestarian laut hal ini juga sangat berguna buat masyarakat di sini, sehingga penyelamatan harus kita lakukan dengan baik dalam proses pengembalian lingkungan yang dilakukan dalam bentuk pencegahan,katanya.

    Kerusakan terumbu sangat terasa dampaknya di Lampuuk.

    Dulu nelayan di sini tidak perlu jauh jauh mencari ikan  ke tengah laut. Di dekat dekat juga udah bisa membawa hasil yang lumayan,ujar Fitri Wahyudi, yang juga anggota Kabari.

    Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik pada suhu 21 sampai 25 derajat
    Celsius. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembusi cahaya matahari. Selain itu karang juga memerlukan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup.

    “Terumbu karang ini kiranya akan kami tanam di hulu karang, caranya ya bibitnya akan di tanam pada sungai yang dicor dan di bawa ke laut
    . Memang memerlukan waktu yang banyak karena secara alami ia akan tumbuh tidak lebih dari lima senti per tahun,tutur Daot.

    Selain sebagai rumah untuk beberapa ekosistem laut dan juga tempat ikan bermain. karang juga
    berfungsi menahan ombak besar dan dan mencegah abrasi. Selain itu karang juga banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan, objek wisata dan juga lahan penelitian.

    Sekarang Daot dan teman-temannya tengah giat menjaga terumbu karang dengan memberi peringatan pada penduduk sekitar bahwa ada beberapa tempat yang telah menjadi area konservasi. Mereka juga melarang pemakaian obat bius untuk menangkap ikan.***



    *) Linda Christanty adalah pemimpin redaksi Aceh Feature. Khiththati adalah kontributor Aceh Feature dan ia masih kuliah sebagai mahasiswa Institut Agama Negeri Ar Raniry, Banda Aceh.