Langit agak mendung sejak pagi, namun hujan ternyata tidak turun di hari Minggu itu. Di beberapa jalur jalan protokol, warna merah putih mulai terlihat mewarnai jalan raya. Tapi belum terlihat umbul-umbul warna-warni menghiasi jalan raya, halaman rumah warga atau perkantoran. Tak hanya umbul-umbul, bendera seperti layar membentang menjuntai sepanjang pertokoan itu pun tak ada. Belum ada pula lampu kelap-kelip yang menghias pertokoan atau perkantoran, atau memang sama sekali tak dipasang.
Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih sangat kecil, belum memahami arti merdeka yang sebenarnya, dua hari sebelum 17 Agustus, tanggal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan hari bermakna. Saat itu pemerintahan Indonesia masih dipimpin Soeharto.
Di tanah saya dibesarkan, dataran tinggi Gayo atau sekarang disebut kabupaten Aceh Tengah, masa pemerintahan Soeharto merupakan masa tenteram. Tak ada penculikan-penculikan seperti di daerah lain di wilayah Aceh. Malah saya dapat menikmati masa bermain di malam hari menjelang hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia itu.
Kelak ada yang mengatakan di daerah kami juga ada rakyat yang dipersenjatai dan mendukung tentara Indonesia. Mereka ini disebut milisi. Di tanah Gayo juga banyak transmigran dari Jawa yang dikirim Soeharto dalam menerapkan politik kependudukannya, juga orang-orang Jawa yang berasal dari keturunan buruh-buruh perkebunan pemerintah kolonial Belanda. Ketika konflik di Aceh terjadi, dampaknya juga berimbas ke wilayah Aceh Tengah. Orang Gayo, Aceh dan Jawa terpecah-belah. Orang Jawa dianggap mendukung pemerintah Indonesia, orang Aceh dituduh mendukung Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Orang Gayo disebut mendukung Jawa, meski dalam praktiknya ada orang-orang Gayo yang juga bergabung dengan GAM.
Sebagai anak-anak, dua hari menjelang 17 Agustus adalah hari paling penting bagi saya dan anak lain yang sebaya saya. Saya mengikuti aneka lomba yang diselenggarakan pemerintah desa. Terkadang saya juga ikut menonton layar tancap atau acara yang digelar malam hari.
Saya memiliki seorang teman yang ayahnya tentara. Ia suka mengajak saya ke asrama Kodim (Komando Distrik Militer). Letaknya tak jauh dari rumah saya. Di malam menyambut tujuh belasan saya akan sangat bahagia jika Ratna Yunita, teman saya itu, menjemput saya. Saya diajak ke rumahnya dan menonton goyang dangdut para tentara.
Beberapa tentara mengikuti irama lagu yang menghentak-hentak hingga tengah malam. Mereka ikut bernyanyi ke atas panggung bersama para biduan. Para biduan ini merupakan penyanyi di kelompok keyboard yang disewa tuan rumah hajatan.
Di Takengon, ibukota Aceh Tengah, music keyboard merupakan pertunjukan khas dalam acara-acara hajatan, baik itu pesta perkawinan, sunatan atau turun mandi. Acara-acara tujuh belasan juga ikut andil dalam menambah pemasukan kelompok keyboard yang harga sewanya mencapai Rp 300 ribu untuk sekali tampil.
Selain di lingkungan masyarakat, saya juga suka mengikuti acara yang diadakan antar sekolah. Lombanya beraneka macam, seperti lomba tarian tradisional, karnaval baju daerah dan budaya Indonesia, lomba baca puisi, menulis surat untuk presiden, melukis, kaligrafi dan menyanyi. Suasana ramai dan meriah mewarnai dua hari sebelum hari kemerdekaan, puncaknya pada 17 Agustus, karena di hari itu diumumkan pemenang untuk setiap kategori lomba.
Ketika duduk di bangku sekolah menengah, peraturan baru mulai berlaku di daerah saya. Setiap tanggal 17 tiap bulan diadakan apel rutin yang diikuti lembaga pendidikan dan instansi pemerintahan. Tiap sekolah mengirim sekitar seratus orang perwakilannya untuk mengikuti upacara. Dua kelas yang terpilih akan terbebas dari jam pelajaran pertama dan kedua karena menghadiri upacara tersebut.
Sebagai remaja yang masih berpikiran bebas, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Sementara orang dewasa sedikit berbeda.
Dua hari sebelum kemerdekaan merupakan hari terpenting bagi warga di tanah tempat saya dibesarkan. Dua hari sebelum tanggal 17 Agustus, umbul-umbul sudah harus dipasang di depan halaman rumah masing-masing. Di toko-toko sudah harus dipasang lampu-lampu berwarna-warni, minimal dua warna. Satu deretan ruko biasanya akan bersaing memasang lampu yang cantik, yang berkelap-kelip dan memilih tiga sampai empat warna. Mewah atau tidaknya lampu yang dipasang tergantung pada mapannya ekonomi keluarga tersebut.
Menjelang hari-hari terakhir seperti itu, para pemilik toko akan sibuk mencari lampu-lampu dan memasang umbul-umbul. Toko-toko elektronik yang menjual lampu-lampu akan sangat sibuk melayani para pelanggan. Biasanya harga pun akan melonjak beberapa persen.
Tapi kami memiliki tontonan yang tak akan pernah terlupakan. Setiap hari peringatan kemerdekaan jalanan di kota, di depan pendopo bupati ramai. Sepanjang jalanan orang-orang berbaris memadati jalan. Kendaraan umum tidak mencari penumpang selama setengah hari. Semua berkumpul menonton karnaval yang bergerak dari muka kantor bupati, masjid raya, pendopo bupati sampai ke terminal, lalu kembali lagi ke kantor bupati. Bermacam-macam pertunjukan dapat disaksikan warga.
Etnis Tionghoa yang tinggal di dataran Gayo akan mempertunjukkan Barongsai, tarian unik boneka berbentuk naga yang di dalamnya dikendalikan dua orang. Tarian adat Gayo pun dipertontonkan. Orang-orang Padang akan menarikan Tari Piring, yang membuat saya selalu terkagum-kagum ketika tangan mereka meliuk-liuk tetapi piring yang dipegang tak jatuh-jatuh. Remaja-remaja pilihan mewakili setiap sekolah memakai pakaian adat dari Sabang sampai Meurauke.
Masa itu belum ada perdamaian. Daerah pesisir Aceh masih mengalami konflik hebat, berbeda dengan kami di pedalaman.
“Kami tak mengenal 17 Agustus,” ujar Hamzah, pemuda asal Pidie. 17 Agustus tak terlalu berarti baginya. Hari itu sama saja dengan hari-hari lain baginya. Hari istimewanya adalah 4 Desember, hari ulang tahun GAM. Hari itu tampaknya membuat Hamzah bersemangat.
“Saya masuk hutan setiap tanggal 4,” katanya lagi. Tapi saya tak pernah bertanya mengapa ia masuk ke hutan.
“Sekarang 17 Agustus dan 4 Desember itu sama saja,” tuturnya, datar.
Sejak lima tahun lalu, dua hari sebelum kemerdekaan benar-benar jadi hari bersejarah bagi rakyat Aceh. Pada 15 Agustus 2005 lalu dicanangkan hari perdamaian Aceh. Pada tanggal bersejarah tersebut konflik Aceh berakhir setelah pemerintah pusat dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangani kesepakatan damai di Helsinki, Finlandia.
Setahun kemudian, satu minggu sebelum hari perdamaian Aceh berulang tahun, Banda Aceh ramai. Penuh orang dari daerah luar Banda Aceh. Mereka datang dari kampung-kampung di Aceh Besar, Pidie, Aceh Jaya, Aceh Utara dan berbagai tempat dengan membawa serta anak-cucu, menginap di kampus-kampus dan tanah kosong untuk merayakan hari perdamaian. Suasana meriah dan hiruk-pikuk terasa seperti pasar malam. Banda Aceh jadi kota yang padat.
“Kampus kita jadi jorok karena kedatangan orang-orang dari kampung,” kata seorang teman. Ia merasa tak nyaman melihat beberapa pemuda membuang sampah sembarangan.
Tahun kedua dan ketiga perayaan perdamaian suasananya tak jauh beda. Hanya saja jumlah orang yang datang dari daerah tak sebanyak dibanding tahun pertama. Di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, masih diadakan doa bersama dan ceramah agama tentang perdamaian.
Di tahun keempat, saya merasakan sedikit perbedaan. Partai Aceh, partai bentukan mantan GAM, meraih kemenangan di parlemen Aceh. Kota Banda Aceh kembali ramai. Lapangan Tugu kembali penuh dengan truk-truk orang-orang dari daerah.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi jalan masih ramai. Bendera merah dengan garis putih bertuliskan ACEH mulai memadati seputaran Darussalam. Saya bersama seorang teman terjebak macet di persimpangan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti dekat sepeda motor teman saya.
“Mau kemana? Ikut pawai bersama mereka?” tanya laki-laki di dalam mobil itu.
Kami menggeleng. “Mau pulang,” sahut teman saya.
“Jangan ikut-ikutan ya. Apalagi kalian perempuan, ini sudah malam. Nggak benar itu,” kata laki-laki itu melanjutkan ucapannya, lalu berlalu. Entah siapa orang itu dan entah apa maksudnya berkata demikian.
Saya ingat kejadian setahun yang lalu. Sebelum sampai di rumah pun, lorong rumah penuh dengan kendaraan bermotor, mobil dan dan sepeda motor. Salah satu di antaranya terpasang bendera Partai Aceh.
“Mereka tak menginap di sini,” Kata Boyhaqi, pemuda kampung kami.
Mereka, para pemilik kendaraan tersebut, hanya mengunjungi teman lama saja yang kebetulan rumahnya bertetangga dengan saya. Mereka berasal dari Aceh Utara. Untuk urusan penginapan, mereka bermalam di Lapangan Tugu.
Tahun ini, dua hari sebelum hari kemerdekaan Indonesia jatuh di bulan Ramadhan. Suasana tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya hanya melihat spanduk yang terpasang di sepanjang pagar kantor gubernur, satu bendera merah-putih berkibar di atas balon udara yang terus melayang-layang di udara.
Di Masjid Raya dipasang teratak dan beberapa kursi disusun di halaman. Beberapa bendera juga terpasang di pagar masjid, juga spanduk.
Tahun ini tidak semeriah tahun yang lalu. Tak ada pawai hingga tengah malam yang membuat kota Banda Aceh jadi padat dan macet. Sebagian kelesuan ini mungkin karena puasa.
“Mestinya dibuat acara yang bisa membuat semua orang tetap gembira pada malam hari. Seperti lomba makan kerupuk dan joget dangdut. Acaranya bisa dilakukan setelah tarawih sampai menjelang sahur,” ujar Rita Arianti, salah satu warga Banda Aceh. Ia ternyata sangat menyukai lomba-lomba ini.***
*) Ulfa Khairina adalah kontributor Aceh Feature dan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry, Banda Aceh.
