BAHASA sehari-hari warga di Peunaga Rayeuk disebut bahasa Aneuk Jame', yang dialek dan tata bahasanya mirip bahasa orang-orang Minang di Sumatra Barat. Barangkali dulu ada hubungan bilateral antarbangsa ini atau lebih jauh lagi, nenek moyang orang Peunaga berasal dari Minang, pikir saya, menduga-duga. Saya juga belum pernah membaca penelitian mendalam tentang migrasi orang-orang Minang dan pengaruhnya di Peunaga Rayeuk.
Gampong atau desa Peunaga Rayeuk terletak di selatan Meulaboh dan berjarak sekitar enam kilometer dari ibukota kabupaten Aceh Barat itu. Penghuninya dinamai suku Aneuk Jame’, sama seperti bahasa yang mereka gunakan. Gampong ini menghubungkan beberapa kabupaten kota di pantai barat Aceh dan juga berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
Rasa ingin tahu saya tentang bahasa Aneuk Jame’ terjawab saat bertemu dan berbincang dengan Muhammad Hamzah. Ia berusia 70 tahun dan salah seorang yang dihormati di Peunaga.
Menurut Hamzah, satu-satunya ciri suku Aneuk Jame’ yang masih melekat hingga ini tak lain dari bahasa. Ciri-ciri budaya mereka yang lain telah hilang, atau disebut Hamzah, melesap dan menyatu dengan budaya Aceh dalam proses yang panjang. Tapi tak ada pemaksaan dalam proses ini.
“Kita sudah sejak lama tidak lagi menggunakan adat-istiadat suku Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Hamzah, dalam bahasa Aceh yang terbata-bata. Ia sendiri pernah jadi ketua Majelis Adat Aceh di kecamatan Meureubo.
Di sisi lain, keadaan ini menunjukkan sikap terbuka suku Aneuk Jame’ terhadap budaya setempat, sesuai filosofi para perantau: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
Suku Aneuk Jame’ tak hanya di Peunaga Rayeuk. Mereka tersebar di beberapa gampong di kecamatan Meurebo, seperti di Langung, Peunaga Paya, Peunaga Cut Ujong, Peunaga Pasie, Meureubo, Ujong Tanjong, Ranto Panyang timur dan barat, Ranubdong, Ujong Tanoh Darat dan dan Ujong Drien. Selain itu, mereka juga menghuni beberapa tempat di kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan. Di Aceh Selatan, terutama, populasi mereka cukup banyak, seperti di kecamatan Labuhan Haji (barat, tengah, timur), Sama Dua, Meukek, Sawang, Tapak Tuan, Kluet (selatan,utara), Kuta Fajar dan Bakongan.
Suku ini merupakan satu dari sekian banyak suku dan bangsa yang mendiami Aceh sejak dulu. Ratusan tahun lalu Aceh dikenal sebagai salah satu pusat budaya di Asia dan jalur perdagangan internasional. Tak hanya suku-suku di Sumatra yang merantau, berniaga, belajar, atau bermukim di negeri ini, melainkan juga suku dari lain pulau (Jawa, Bugis) dan lain negeri (Arab, Turki, Cina, India, Portugis).
Namun, hubungan sesama suku Aneuk Jame’ tak terjalin baik. Mereka tak punya wadah atau semacam ikatan keluarga besar suku Aneuk Jame’ misalnya, berbeda dengan orang Aceh atau orang Jawa yang begitu erat ikatan kesukuan dan kekerabatannya. Ketika pengguna bahasa Aneuk Jame’ bertemu dengan mereka yang menggunakan bahasa yang sama, baru ikatan itu terlihat. Mereka jadi cepat akrab dan hangat satu sama lain, kendati tak saling kenal sebelumnya.***
*) Kontributor Aceh Feature Service di Meulaboh, Aceh Barat.
