AROMA rempah berpadu santan menguar dari dapur kediaman Fajar dan Ilham. Beberapa tempayan tergeletak di dapur. Dua kompor Hock besar dan baru telah menyala. Apinya yang biru menjilat-jilat wajan besar.
Tangan ibu mereka tengah mengaduk-aduk bumbu rendang yang dimasak santan. Hari itu keluarga ini masak cukup banyak. Semuanya bersantan, berbahan dasar daging.
Tak ada rencana pesta perkawinan di rumah ini atau acara-acara pesta lainnya. Mereka menyiapkan semua hidangan itu untuk sebuah perayaan yang disebut mauled. Tradisi ini sudah mendarah daging di kalangan orang Aceh dan keturunan mereka jika bulan Maulid tiba.
Sejak 9 Maret 2009 lalu sudah masuk bulan Maulid. Dalam kalender hijriah, terhitung sejak 12 Rabiul Awal. Di sana tercantum keterangan “Maulid Nabi Muhammad SAW”. Maulid artinya kelahiran.
Ini hari peringatan kelahiran Rasulullah, junjungan umat Islam. Khususnya di Aceh, Maulid merupakan hari yang sangat diagungkan dengan perayaan yang luar biasa meriahnya. Khususnya di pelosok-pelosok kampung. Perayaan kelahiran Nabi tersebut dinamakan khanduri mauled atau kenduri maulid. Selama dua bulan ke depan terhitung dari 12 Rabiul Awal sampai 12 Rabiul Akhir, masyarakat Aceh akan menghadiri beberapa undangan makan.
Beberapa hidangan seperti rendang, sie puteh (daging masak bumbu putih), udang masak santan, tongkol balado, telur asin, telur rebus, soto ayam dan beberapa masakan lain telah disiapkan sejak sehari sebelum kenduri. Orang-orang masak sampai larut malam diiringi likee (dzikir) dari masjid-masjid.
Suara likee dari meunasah (surau atau mushola) dari dusun seberang terbawa angin hingga ke dusun Lam Seunong, Kajhu. Alunan-alunan irama dzikir menambah khidmat suasana.
Di pagi Minggu yang panas itu lagu-lagu nasyid terdengar dari masjid setempat. Alunan lagu ini pun mengiringi para ibu yang tengah menyiapkan masakan untuk dibawa ke masjid.
“Saya lupa mengundang Rika,” kata Fajar, sambil meraih telepon selulernya yang terletak di atas lemari pendingin. Padahal ia tahu orang yang disebutnya tadi tak akan datang karena sedang berada di luar Aceh.
“Yang penting kita undang. Kasih tahu kalau kita juga ada buat mauled sedikit di rumah,” lanjutnya, menjawab keheranan saya.
Sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat Aceh, jika ada hajatan maka semua kerabat jauh maupun dekat akan dipanggil atau diundang. Andaikata para undangan tak bisa hadir, itu soal lain. Yang penting, pihak pengundang sudah memberitahu. Itu salah satu cara untuk tetap menjalin silaturrahmi dengan sesama.
Tak berapa lama azan terdengar dari masjid. Wajah Fajar memucat. Ia mengira sudah dzuhur dan khawatir belum semua masakan matang. Nasi juga baru dipanaskan dalam dandang besar.
Namun kekhawatiran itu cepat sirna. Di menit berikutnya, ucapan salam terdengar dari pengeras suara masjid. Ternyata pengurus masjid menyalakan kaset ceramah agama.
Isi dakwah hari itu bertema tentang Maulid, kelahiran, juga puji-pujian terhadap Rasulullah dan ahlul baitnya. Penceramah lantas menggambarkan gejala pelanggaran syariat Islam dan tata pergaulan anak-anak muda Aceh saat ini. Si penceramah ini bahkan mengatakan bahwa Aceh sudah kembali ke masa jahiliyah. Setahu saya, masa jahiliyah dalam sejarah Islam adalah masa kegelapan sebelum Nabi Muhammad menyebarkan ajarannya. Di masa itu bayi-bayi perempuan dibunuh, kaum perempuan dinista dan jadi pemuas nafsu dalam harem-harem, bahkan kaum lelaki masa itu terhadap binatang pun tak punya belas kasihan (sehingga Islam bahkan harus mengajarkan tata cara menyembelih binatang yang membuat kambing mati seketika tanpa harus menanggung sakit berkepanjangan).
Di akhir ceramahnya, sang penceramah berharap peringatan Maulid Nabi ini akan mengubah Aceh jadi lebih baik.
Usai ceramah agama itu, suara pengurus masjid terdengar lagi. Kali ini ia menguji kualitas suara mikrofon.
Tak lama kemudian, suara seseorang dari masjid kembali terdengar. Kali ini bukan suara dari rekaman kaset lagi, melainkan pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Setelah itu alunan likee kembali terdengar. Likee berhenti menjelang dzuhur. Pengurus masjid mengeluarkan pengumuman, “Kepada warga masyarakat, agar segera datang ke mesjid untuk mengambil kuah.” Kemudian alunan azan mulai berkumandang.
Tiap perayaan Maulid, biasanya ada penyembelihan kambing di meunasah atau masjid. Dagingnya dimasak bersama-sama lalu dibagikan pada warga.
Siang itu semua masakan telah siap dihidang di atas meja, ditata ala Perancis, sehingga para tamu tinggal mengambil sendiri apa yang mereka suka. Kuah yang dibagikan di masjid sebanyak satu wajan kecil pun turut dihidangkan di meja.
Tamu-tamu mulai berdatangan menuju ke rumah acara. Layaknya kenduri, mereka akan datang dan langsung menuju hidangan setelah berbasa-basi beberapa saat.
Para tamu tak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa bungkusan yang berisi gula pasir atau biskuit, lalu menyerahkannya pada tuan rumah.
Tamu datang silih berganti hingga menjelang ashar. Ketika tamu-tamu mulai sepi, tuan rumah membagi masakan-masakan ke dalam cupee (piring kecil). Makanan itu kemudian dibawa ke masjid untuk disantap bersama.
Fajar menyediakan 25 piring kecil dan sebuah nampan sedang. Ibunda Fajar membantu anaknya mengisi piring dengan makanan-makanan yang tersedia. Perempuan tua itu menaruh tiga sampai lima potong lauk untuk tiap piring. Pembagiannya tergantung besar kecil potongan lauknya.
“Saya tadi sudah mengantar idang (hidangan) ke mesjid. Dua puluh empat cupee,” ujar sang ibunda. Ibu dan anak ini tak tinggal serumah.
Idang berisi bermacam lauk-pauk dan kue-kue yang disusun bertingkat-tingkat. Di atasnya ditutup kain beludru bermotif khas Aceh, lalu diikat dengan kain kuning agar hidangan tak tumpah.
Satu per satu piring yang sudah diisi lauk ditaruh di nampan. Piring-piring diatur bertingkat, lalu diikat dengan kain panjang agar mudah membawanya ke masjid.
“Kalau di Meulaboh meriah sekali maulidnya. Meuidang (berhidang),” tutur Fajar yang berasal dari Meulaboh.
Kebiasaan ini umumnya masih berjalan di kampung-kampung. Kalau di perkotaan perlahan-lahan tradisi Maulid tadi mulai terkikis dan ditinggalkan orang.
Usai ashar, peringatan Maulid Nabi dimulai di Lam Seunong. Warga mulai mengantar idang ke masjid. Ukurannya macam-macam. Ada yang besar, ada yang kecil, tergantung pada kemampuan masing-masing keluarga.
Bukan hanya idang yang diantar ke masjid, tetapi juga nasi. Jika sebuah keluarga menyediakan 25 piring lauk-pauk, maka nasi putih yang disediakan juga sebanyak 25 bungkus. Setiap keluarga juga mengantar air minum, tikar dan cambung kuah ke masjid.
Sementara itu likee terus berkumandang dari pengeras suara. Jika menyimak lebih seksama, maka siapapun akan terhanyut dalam pujian-pujian yang dilantunkan.
Para anggota likee memakai celana hitam dan baju teluk belanga warna putih serta peci hitam. Mereka duduk melingkar. Pemimpinnya memakai baju teluk belanga warna krem dengan bordiran seputar kerah warna jingga.
Pelantun likee juga melakukan gerakan secara bersama-sama dan kompak. Tangan kanan di pinggang, lalu kepala bergerak ke kiri dan ke kanan. Lalu berganti lagi dengan tangan kanan, begitu seterusnya. Para pelantun likee ini cukup terlatih.
“Kalau didengar dari iramanya, mereka dari Tarekat Rifa’yah,” ucap Sabir. Ia juga pernah menjadi anggota Dalail Khairat di kampungnya, di Meurudu, Pidie Jaya.
Tarekat artinya, Jalan. Pengertian tarekat dalam tasawuf adalah Jalan menuju Zat yang Maha Mutlak, melalui serangkaian latihan dan ritual tertentu dengan dipimpin seorang guru atau mursyid. Banyak aliran tarekat di dunia ini. Sekurang-kurangnya ada tujuh tarekat yang cukup terkenal dan memiliki banyak pengikut, khususnya di Aceh, yaitu Tarekat Khalawatiyah, Tarekat Naksyabandiyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Rafi’yah, Tarekat Sammaniyah, Tarekat Syazilliyah, dan Tarekat Tijaniyah.
Sabir juga bercerita tentang pengalamannya selama menjadi anggota. Mereka terus meulikee (berzikir) sampai selesai dan biasanya seharian. Sedikitpun ia tak merasa lelah karena kekhusyukan itu.
“Kita sudah hanyut dalam suasana itu,” katanya.
Sorenya, satu jam sebelum maghrib, warga kembali berbondong-bondong menuju masjid. Hampir semuanya lelaki. Kami pun kembali ke masjid untuk mengambil piring-piring dan tikar.
Orang-orang ternyata belum selesai makan, sehingga kami harus menunggu dekat masjid itu.
Ketika para lelaki itu selesai makan, kami langsung mendekati hidangan yang telah dibuka dan sisa-sisa makanan. Piring-piring berserak. Masing-masing orang mencari barang miliknya untuk dibawa pulang.
Seorang laki-laki berkulit hitam menatap tajam. Matanya melotot dan suaranya agak keras memberi komando pada para warga yang mencari piring di situ. Ia melihat saya dan berbicara dalam bahasa yang saya tak mengerti, dengan nada tinggi dan cepat.
“Rumoh asing nyan sit hantem roh saho. Ka bunoe ulon hei. Bit nan ureung... (Rumah asing itu memang tak pernah tergabung kemanapun. Sudah dari tadi saya panggil. Segitunya orang...)” Matanya melotot. Ternyata tadi dia menanyakan apakah saya tinggal di rumah yang agak terasing dengan rumah-rumah lainnya atau bukan.
“Ken, Bang. Lon rumoh jeh (Bukan, Bang. Saya rumah itu),” kata saya, seraya menunjuk ke arah rumah paman dan bibi saya yang berselang tanah kosong dengan masjid.
Rupanya tradisi berkumpul tak bisa dilepaskan dari tradisi kenduri ini. Kenduri menjadi ajang orang bersosialisasi, menghargai kebersamaan. Ketika ada yang tak hadir, ia akan dipandang aneh atau tak mengerti tata pergaulan.
Lelaki itu lantas tak peduli lagi. Ia sibuk mengumpulkan lauk-pauk sisa ke dalam plastik dan membantu warga mengumpulkan piring-piring kecil.
Ia juga membantu saya mencari piring-piring. Saat hendak pulang saya baru melihat senyumnya.
“Terimonggeunaseh, beh. Nyoe ulon puwo mandum (Terimakasih ya. Ini saya bawa pulang semua).” Ia menunjuk satu plastik hitam besar berisi lauk-pauk.
SELAIN di Lam Seunong, saya juga menghadiri undangan Maulid di Aceh Besar. Seorang teman meminta saya hadir dalam kenduri di rumahnya di Sibreh. Ia tidak tinggal di kotanya, melainkan agak ke pedalaman.
Jalan menuju kampung teman ini terbuat dari tanah dan pasti becek di musim hujan. Batang rumbia, sawah, kebun kapuk, kebun kelapa, silih berganti tampak di kanan-kiri jalan. Sepanjang jalanan sapi-sapi melenggang, memenuhi jalan.
Tapi rasa lelah segera terobati menjelang rumah teman yang menyelenggarakan Maulid ini. Alunan likee yang mendayu-dayu di balee depan meunasah menambah semangat para penumpang. Rumah tujuan tak jauh dari meunasah.
Tikar terbentang di ruang tamu dan ruang keluarga. Para tamu dipersilakan duduk dan makan di situ. Tanpa basa-basi, tuan rumah memandu tamu-tamunya ke ruang tengah lebih dulu.
Dua meja tertata rapi di sana. Satu meja berisi minuman seperti teh, kopi, air putih, air buah dan dua macam kue bolu. Satu meja lagi jadi tempat nasi beserta lauk-pauk, setoples kerupuk mulieng (melinjo) serta macam-macam kue, seperti agar-agar yang dibuat aneka olahan, bakwan, tahu isi dan pisang goreng dengan taburan susu dan butir-butir coklat di atasnya.
Sementara di lantai, masih ada hidangan lain yang tak mungkin dilewatkan. Ada tapai dan ketan yang dibuat berlapis dua, putih dan coklat. Bentuknya menarik, bentuk hati. Teman-teman menyebutnya berbentuk “I love you”.
Ada pula semangkok besar kuah santan beraroma daun pandan di situ. Di dalamnya ada pisang yang masih utuh, hanya dikupas kulitnya saja. Di samping mangkok itu juga tersaji selai sarikaya dalam piring putih bening, sehingga beberapa buah nangka yang mengendap di permukaannya kelihatan. Kelompok makanan ini dinamakan pengat.
Macam-macam penganan penutup disajikan di lantai, kue-kue dengan berbagai warna dan bentuk yang menggoda mata siap dipilih dan dikunyah tamu-tamu.
Namun, saking banyaknya hidangan, saya bingung memilih makanan apa. Setelah makan sepiring nasi, rasanya saya tak sanggup lagi bergerak, apalagi menambah makanan lain.
“Kalau pergi khanduri mauled tidak sah kalau tidak mencicipi semua makanan yang terhidang. Makanan yang terhidang ini wajib dihabiskan. Kalau tidak, mubazir,” ujar seorang teman. Namanya, Zulkarnaini. Sambil berbicara dia terus mencomot makanan di semua piring. Mencicipi semua hidangan dengan semangat.
Saya masih tak berkutik. Beberapa teman telah mengambil piring kecil dan mencomot satu sampai dua tapai-ketan berbentuk hati itu.
“Ini yang wajib kalau makan jamuan di Aceh Rayeuk. Bulukat I Love you,” ujar teman yang lain lagi. Ia mengambil dua buah. Menuang kuah dan mengambil sebuah pisang. Lalu ditambahkannya selai sarikaya dan tapai ke piring itu. Ia pun menyantap penganan tersebut sampai piringnya bersih.
Didorong rasa penasaran saya ikut mengambil ketan.
“Meunyoe i gampong tanyoe nan jih kuah tuhe. Trok ku no ka peungat. (Kalau di kampung kita namanya kuah tuhe. Sampai kemari sudah bernama peungat),” kata Zulkarnaini sambil menambah kuah tuhe.
Di daerah Pidie, kuah santan dengan pisang dan kadang-kadang ada nangkanya dinamakan kuah tuhe. Petani-petani di sana membawa kuah tuhe ke sawah untuk disantap ketika melepas lelah.
Di pesisir lain Aceh Besar, saya juga sempat bertandang ke desa Layeun. Kampung ini terletak di kaki gunung, melewati Lhok Nga.
Jika bulan Maulid tiba, satu kilometer dari masjid, jalanan sempit itu mulai dipenuhi mobil-mobil. Terkadang orang harus berjalan kaki ke masjid. Lebih cepat ketimbang naik mobil yang bergerak pelan.
Seperti kebiasaan Maulid di berbagai tempat di Aceh, di sana juga ada likee yang dipanggil dari kampung lain atau kelompok yang dibentuk orang kampung setempat untuk merayakan Maulid ini.
Begitu tiba, saya dan teman-teman langsung disambut teungku imum (imam) dan geuchik (kepala desa) di sana.
Tak ada yang berpengalaman dalam menghadiri kenduri Maulid selain Zulfikar, lelaki muda asal Sigli. Ia membuka perlahan tutup saji idang.
Satu per satu piring kecil dikeluarkannya dari dalam sana. Kehidupan di tepi laut jelas tergambar dari hidangan ini. Macam-macam masakan berbahan hewan laut berpadu dengan gulai kambing.
Beberapa bu kulah diedarkan pada kami. Bu kulah adalah nasi yang dibungkus daun pisang layu (diapi-api) berbentuk limas. Nasi yang disajikan bukan nasi biasa, tetapi bu minyuek. Bu minyeuk artinya nasi minyak. Sebelum dibungkus, nasi digoreng dulu dengan sedikit minyak, sehingga menimbulkan rasa yang unik.
Seperti di kenduri-kenduri Maulid lain, kami bingung memilih menu apa yang akan dicicipi pertama kali.
“Acara besar seperti ini bisa buat pesta kawinan dua orang anak,” Kata Ziaul Haqh, yang berasal dari Aceh Selatan. Menurut cerita Ziaul, di kampungnya tak ada kenduri Maulid sebesar dan semewah ini.
Saat akan pulang, kami disodori cukup banyak bungkusan makanan. Saya mengambilnya satu, tapi sebenarnya tidak tahu untuk apa.
“Bawa saja apa yang mau dibawa pulang. Yang suka-suka saja, biar nggak mubazir di sini,” kata Zulfikar. Ia mengambil sebungkus nasi dan beberapa lauk yang ia sukai.
Saya ikut mengambil satu bu kulah dan beberapa lauk kesukaan.
Acara terus berlanjut sampai malam, diramaikan likee dan ditutup dengan dakwah atau ceramah agama. Mereka telah mendatangkan teungku kondang untuk memberi siraman rohani malam itu, berbeda dengan di Lam Seunong, yang warganya tak mendatangkan teungku penceramah tahun ini.***
*) Kontributor Aceh Feature. Ia adalah mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry, Banda Aceh.
