• Pengrajin Rapai dan Seurunekale
    Budaya - 2010-03-15 | 994 Kata | 1079 Hits
    Oleh : Baihaki M Yahya


    KRET... Kreet... kreeet.....  Suara itu terdengar keras. Dari arah rumah biru itu, salah satu rumah bantuan International Organization for Migration di desa Peuyeurat, kecamatan Mueraxa. Para penghuninya adalah mereka yang selamat dari tsunami.

    Lelaki itu berkaos putih kusam lengan panjang. Bersandal jepit. Tangan kanannya yang berbalut sarung tangan merah menoreh besi di mesin bubut, sedang tangan kirinya menekan kuat besi berujung runcing itu agar tak mencelat saat mesin bekerja. Kret... kreeet....

    Ruang kerjanya mulai digenangi air hujan. Ada sebuah meja persegi di situ, tanpa kursi atau sofa. Di atasnya ada bungkus kopi dan botol air mineral.

    Namanya, Fajar. Nama yang pendek. Ia kelahiran tahun 1974. Pekerjaannya sehari-hari membuat alat musik tradisional Aceh. Bakatnya sebagai pengrajin mulai tampak ketika ia masih belajar di sekolah dasar. Semula ia cuma melihat-lihat seorang pengrajin bekerja, lalu iseng-iseng ia mempraktikkan hal serupa. Ia tidak mengerti teori. Saat seorang teman datang memintanya membuat seurunekale, nama alat musik tiup itu, ia nekad saja mengerjakannya. Dua bulan waktu yang dihabiskan Fajar untuk menghasilkan benda itu. Maklumlah, ia hanya mengandalkan sebilah pisau dapur dan parang sebagai pengganti mesin bor listrik.
    Seurunekale pertamanya bercat kuning, sepanjang 30 sentimeter, dan berlambang naga. Selain membuat seurunekale, waktu itu ia juga membuat genderang dengan mengandalkan pahat, pisau dapur dan parang tadi.

    Kini ia sudah punya peralatan yang lebih memadai. Alat-alat ini ia rakit sendiri dan menghabiskan biaya sekitar Rp 8 juta.

    Dua hari tiga malam ia pun rampung membuat genderang. Satu genderang dari kayu mane, sedang yang satu lagi dari kayu jatho. Dua-duanya dibeli orang. Genderang kayu mane dibeli
    Joel,  personil Kande band, sedang genderang kayu jatho dibeli Jamal dari Komunitas Taloe.

    Kebanyakan pembeli alat musiknya berasal dari sanggar tari di Banda Aceh atau kabupaten Aceh Besar. Beberapa bahkan pesanan dari Jakarta.

    Fajar juga membuat rapa’i, gendang tradisional Aceh. Bahannya dari kayu nangka, merbau, mane, jatho atau tualang,  dan kulit lembu atau kambing.

    Bahan-bahan ini dipesannya dari Meulaboh dan Aceh Besar.  Harga kayu tak sebanding dengan ongkos membelah kayu itu. Andai sebatang kayu seharga Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu, maka ongkos membelah kayu bisa mencapai Rp 1,5 juta atau Rp 2 juta. Pasalnya, pohon yang dibelah itu berukuran besar dan cukup tua.

    Pohon-pohon yang telah dibelah tadi dipahat membentuk silinder. Diameternya 35 sentimeter. Kedalaman baloh atau rangka rapa’i sekitar tujuh hingga delapan sentimeter untuk jenis rapa’i geleng, gendang pengiring tarian yang jumlah penarinya minimal tujuh orang. Rapa’i geleng berukuran lebih kecil dibanding rapai pasee, yang baloh-nya bisa mencapai 15 atau 20 sentimeter.

    Makin kecil bentuk bukan berarti makin kecil pula suara. Ukuran itu hanya membedakan tinggi rendah nada. Rapa’i geleng sengaja dibuat lebih kecil untuk memudahkan para penari bergerak. Sungguh tak terbayangkan jika rapa’i dabus atau pasee dipakai untuk memainkan tarian rapa’i geleng. Pasalnya diameter dan berat kedua rapa’i tersebut lebih besar dari tubuh penabuhnya sendiri.

    Rapa’i pasee misalnya, memerlukan dua bilah kayu penyangga dan beberapa untai tali tambang kecil sebagai pelengkap. Tali tambang digunakan untuk menggantung rapa’i pasee tadi di kayu-kayu penyangganya. Setelah itu ia baru bisa ditabuh dan terdengar lebih nyaring.

    Preung dan bum adalah nada dasar yang dihasilkan rapa’i. Untuk menghasilkan suara bum, saat menabuh rapa’i, seluruh jari harus dirapatkan dan dihentak mendekati garis tengah lingkaran.

    Bunyi preung, memerlukan tindakan sebaliknya. Jari-jemari musti direnggangkan, dihentak sedikit di luar baloh, hingga menyentuk kulit rapa’i, dengan  jari jempol di luar lingkaran.


    Selain Fajar, ada pengrajin rapa’i lain yang mewarisi kemahiran membuat alat musik ini dari keluarganya. Ia adalah Ismail Sarong, tapi orang-orang biasa memanggilnya ”Ayah Ismail”. Sarong adalah nama ayahnya. Pria kelahiran 10 Juni 1940 itu tumbuh dalam lingkungan keluarga pekerja seni tradisional. Ayah Ismail juga pembuat rapa’i, sedang kakeknya Sulaiman tak lain dari peniup seurunekale tersohor di masanya.

    Ismail hanya tinggal berdua dengan Rusdian, putranya. Perkawinannya dengan Rosnidar dikaruniai enam anak. Namun, tsunami telah merenggut istri dan lima anak yang dikasihinya itu.

    Menurut Fajar, Isma’il kerap memintanya membuat baloh rapa’i sedang pemasangan kulit dikerjakannya sendiri. Karena itu ada rasa bangga dalam diri Fajar, ”Sekarang ini mungkin saya yang terlengkap yang memproduksi alat musik tradisional Aceh, pun orang yang termuda bergelut dalam bidang ini.” Ia kemudian tertawa.

    Di tempat lain, seperti Lhokseumawe, para pengrajin rata-rata hanya membuat rapa’i. Tapi Fajar berseloroh menyebut dirinya termuda. Di kartu tanda penduduknya tercantum tahun 1977 sebagai tahun lahirnya, padahal ia lahir tahun 1974.

    Selain sebagai pengrajin, Fajar juga seniman. Ia dan teman-temannya telah merilis album perdana Raket I.

    ”Bang Fajar itu mampu menguasai seluruh alat musik. Padahal kalau kita tanya kunci nada apa yang ia mainkan, dia tidak tahu, tapi iramanya masuk sinkron, padu dengan yang lain,” tutur Badri, rekan bermusik Fajar yang masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry, Banda Aceh.

    ”Asesoris Bang Fajar selalu lengkap jika lagi mentas. Selembar kain sarung, kadang ia lilit di pinggang, kadang pula hanya diselempangkan di bahu, balkon cuak Belanda terpasang di kepala, celana kain terlipat beberapa lipatan, lipatan celana yang kanan lebih tinggi dari sebelah kiri. Alasannya simpel, tradisi katanya,” tutur Joel Pasee.

    Joel Pasee adalah vokalis Cupa Band. Nama lahirnya, Zul Afrizal. Dalam beberapa pentas, Joel pernah dipertemukan dengan Fajar. Menurut Joel, nama Fajar melejit saat album lagu-lagu Aceh Kapa dirilis. Vokalis album itu, Sayed Jaya. Fajar mengisi suara seurunekale dan melantunkan syair Aceh di dalamnya.

    Fajar biasa memainkan tiga alat musik secara bergantian: biola, seruling bambu, seurunekale. Ia sama sekali tidak tampak kerepotan. Ia begitu luwes memainkan ketiganya.

    Suatu kali ia bertemu orang Malaysia bernama Datuk Latif, yang menawarinya pentas di negeri jiran itu dan memintanya mendidik pekerja-pekerja seni di Malaysia dengan gaji lumayan. Namun, ia menolak, karena karya-karya tradisional Aceh yang diajarkannya nanti tak dijamin hak patennya.

    Kalau saya mau mungkin saya sudah kaya, tapi aset budaya kita sudah dibeli oleh mereka. Kaset Ranup Lampuan saja hak patennya punya orang Medan iya kan?” katanya. Ranup lampuan merupakan tarian tradisional Aceh.

    Saya maunya hak paten alat musik tradisional itu harus disegerakan, nyan menyoe ka dicue baroe karu lage Indonesia. Oh jinoe han meutan so pakoe. (nah kalau sudah dicuri sibuk dan ribut seperti Indonesia),” katanya, lagi.***


    *) Kontributor Aceh Feature. Ia adalah mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry, Banda Aceh.