KRET... Kreet... kreeet.....Suara itu terdengar keras. Dari arah rumah biru itu, salah satu rumah
bantuan International Organization for Migration di desa Peuyeurat, kecamatan Mueraxa. Para penghuninya adalah mereka yang
selamat dari tsunami.
Lelaki itu berkaos putih kusam lengan panjang.
Bersandal jepit. Tangan kanannya yang berbalut sarung tangan merah menoreh besi
di mesin bubut, sedang tangan kirinya menekan kuat besi berujung runcing itu
agar tak mencelat saat mesin bekerja. Kret... kreeet....
Ruang kerjanya mulai digenangi air hujan. Ada sebuah
meja persegi di situ, tanpa kursi atau sofa. Di atasnya ada bungkus kopi dan
botol air mineral.
Namanya, Fajar. Nama yang pendek. Ia kelahiran tahun 1974. Pekerjaannya
sehari-hari membuat alat musik tradisional Aceh. Bakatnya sebagai pengrajin
mulai tampak ketika ia masih belajar di sekolah dasar. Semula ia cuma
melihat-lihat seorang pengrajin bekerja, lalu iseng-iseng ia mempraktikkan hal
serupa. Ia tidak mengerti teori. Saat seorang teman datang memintanya membuat
seurunekale, nama alat musik tiup itu, ia nekad saja mengerjakannya. Dua bulan
waktu yang dihabiskan Fajar untuk menghasilkan benda itu. Maklumlah, ia hanya
mengandalkan sebilah pisau dapur dan parang sebagai pengganti mesin bor
listrik. Seurunekale pertamanya bercat kuning,
sepanjang 30 sentimeter, dan berlambang naga. Selain membuat seurunekale, waktu itu ia juga membuat genderang dengan
mengandalkan pahat, pisau dapur dan parang tadi.
Kini ia sudah punya peralatan yang lebih memadai. Alat-alat
ini ia rakit sendiri dan menghabiskan biaya sekitar Rp 8 juta.
Dua hari tiga malam ia pun rampung membuat genderang.
Satu genderang dari kayu mane, sedang yang satu lagi dari kayu jatho.
Dua-duanya dibeli orang. Genderang kayu mane dibeli Joel, personil Kande band, sedang genderang kayu
jatho dibeli Jamal dari Komunitas Taloe.
Kebanyakan pembeli alat musiknya berasal dari sanggar tari di Banda Aceh
atau kabupaten Aceh Besar. Beberapa bahkan pesanan dari Jakarta.
Fajar juga membuat rapa’i, gendang tradisional Aceh.
Bahannya dari kayu nangka, merbau, mane, jatho atau tualang,dan kulit lembu atau kambing.
Bahan-bahan ini dipesannya dari Meulaboh dan Aceh
Besar. Harga kayu tak sebanding dengan
ongkos membelah kayu itu. Andai sebatang kayu seharga Rp 200 ribu sampai Rp 400
ribu, maka ongkos membelah kayu bisa mencapai Rp 1,5 juta atau Rp 2 juta.
Pasalnya, pohon yang dibelah itu berukuran besar dan cukup tua.
Pohon-pohon yang
telah dibelah tadi dipahat membentuk silinder. Diameternya 35 sentimeter.
Kedalaman baloh atau rangka rapa’i sekitar tujuh hingga delapan sentimeter
untuk jenis rapa’i geleng, gendang pengiring tarian yang jumlah penarinya
minimal tujuh orang. Rapa’i geleng berukuran lebih kecil dibanding rapai pasee,
yang baloh-nya bisa mencapai 15 atau
20 sentimeter.
Makin kecil
bentuk bukan berarti makin kecil pula suara. Ukuran itu hanya membedakan tinggi
rendah nada. Rapa’i geleng sengaja dibuat lebih kecil untuk memudahkan para
penari bergerak. Sungguh tak terbayangkan jika rapa’i dabus atau pasee dipakai
untuk memainkan tarian rapa’i geleng. Pasalnya diameter dan berat kedua rapa’i
tersebut lebih besar dari tubuh penabuhnya sendiri.
Rapa’i pasee
misalnya, memerlukan dua bilah kayu penyangga dan beberapa untai tali tambang
kecil sebagai pelengkap. Tali tambang digunakan untuk menggantung rapa’i pasee
tadi di kayu-kayu penyangganya. Setelah itu ia baru bisa ditabuh dan terdengar
lebih nyaring.
Preung dan bum adalah
nada dasar yang dihasilkan rapa’i. Untuk menghasilkan suara bum, saat menabuh rapa’i, seluruh jari
harus dirapatkan dan dihentak mendekati garis tengah lingkaran.
Bunyi preung,
memerlukan tindakan sebaliknya. Jari-jemari musti direnggangkan, dihentak
sedikit di luar baloh, hingga
menyentuk kulit rapa’i, denganjari
jempol di luar lingkaran.
Selain Fajar, ada pengrajin rapa’i
lain yang mewarisi kemahiran membuat alat musik ini dari keluarganya. Ia adalah
Ismail Sarong, tapi orang-orang biasa memanggilnya ”Ayah Ismail”. Sarong adalah nama ayahnya. Pria kelahiran 10 Juni 1940 itu tumbuh
dalam lingkungan keluarga pekerja seni tradisional. Ayah Ismail juga pembuat
rapa’i, sedang kakeknya Sulaiman tak lain dari peniup seurunekale tersohor di
masanya.
Ismail hanya tinggal berdua dengan Rusdian, putranya.
Perkawinannya dengan Rosnidar dikaruniai enam anak. Namun, tsunami telah merenggut
istri dan lima anak yang dikasihinya itu.
Menurut Fajar, Isma’il kerap memintanya membuat baloh rapa’i sedang pemasangan kulit
dikerjakannya sendiri. Karena itu ada rasa bangga dalam diri Fajar, ”Sekarang
ini mungkin saya yang terlengkap yang memproduksi alat musik tradisional Aceh,
pun orang yang termuda bergelut dalam bidang ini.” Ia kemudian tertawa.
Di tempat lain, seperti Lhokseumawe, para pengrajin rata-rata
hanya membuat rapa’i. Tapi Fajar berseloroh menyebut dirinya termuda. Di kartu
tanda penduduknya tercantum tahun 1977 sebagai tahun lahirnya, padahal ia lahir
tahun 1974.
Selain sebagai pengrajin, Fajar juga seniman. Ia dan teman-temannya telah
merilis album perdana Raket I.
”Bang Fajar itu mampu menguasai seluruh alat musik. Padahal kalau kita
tanya kunci nada apa yang ia mainkan, dia tidak tahu, tapi iramanya masuk sinkron,
padu dengan yang lain,” tutur Badri, rekan bermusik Fajar yang masih kuliah di
Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry, Banda Aceh.
”Asesoris Bang Fajar selalu lengkap jika lagi
mentas. Selembar kain sarung, kadang ia lilit di pinggang, kadang pula hanya diselempangkan
di bahu, balkon cuak Belanda terpasang di kepala, celana kain terlipat beberapa
lipatan, lipatan celana yang kanan lebih tinggi dari sebelah kiri. Alasannya
simpel, tradisi katanya,” tutur Joel Pasee.
Joel Pasee adalah vokalis Cupa Band.
Nama lahirnya, Zul Afrizal. Dalam
beberapa pentas, Joel pernah dipertemukan dengan Fajar. Menurut Joel, nama
Fajar melejit saat album lagu-lagu Aceh Kapa
dirilis. Vokalis album itu, Sayed Jaya. Fajar mengisi suara seurunekale dan
melantunkan syair Aceh di dalamnya.
Fajar biasa memainkan tiga alat musik
secara bergantian: biola, seruling bambu, seurunekale. Ia sama sekali tidak tampak
kerepotan. Ia begitu luwes memainkan ketiganya.
Suatu kali ia bertemu orang Malaysia bernama Datuk
Latif, yang menawarinya pentas di negeri jiran itu dan memintanya mendidik
pekerja-pekerja seni di Malaysia dengan gaji lumayan. Namun, ia menolak, karena
karya-karya tradisional Aceh yang diajarkannya nanti tak dijamin hak patennya.
“Kalau saya mau mungkin saya sudah kaya,
tapi aset budaya kita sudah dibeli oleh mereka. Kaset Ranup Lampuan saja hak
patennya punya orang Medan iya kan?” katanya. Ranup lampuan merupakan tarian tradisional
Aceh.
“Saya maunya hak paten alat musik
tradisional itu harus disegerakan, nyan menyoe ka dicue baroe karu lage Indonesia.
Oh jinoe han meutan so pakoe. (nah kalau sudah dicuri sibuk dan ribut
seperti Indonesia),” katanya, lagi.***
*) Kontributor Aceh Feature. Ia adalah
mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry, Banda Aceh.