• Pendidikan di Lamteuba
    Pendidikan - 2010-02-15 | 2030 Kata | 1206 Hits
    Oleh : Mellyan
    Shutterstock

    HARI masih gelap, bahkan ayam jantan pun belum berkokok. Fauziah sudah bangun dan menyiapkan bekal untuk tiga hari, termasuk makanan dan baju ganti. Saat azan subuh berkumandang, ia shalat dan berdoa agar perjalanannya nanti membawa berkah.

    Setelah itu ia meninggalkan rumahnya, menyusuri jalan kecil sepanjang tiga kilometer ke tempat angkutan umum lewat. Hawa dingin menusuk tulangnya. Ia terkadang mempercepat langkah. Napasnya tersengal-sengal. Rumah Fauziah berada di desa Blang Gire, kecamatan Darul Kamal, Montasik, Aceh Besar. Saat matahari terbit, ia baru tiba di simpang Aneuk Galong.

    Dari Aneuk Galong, Fauziah menumpang angkutan umum ke Pasar Atjeh, di Banda Aceh, tempat ia naik kendaraan umum lain menuju Simpang Ie Suum, Krueng Raya. Waktu tempuh Banda Aceh-Krueng Raya satu jam. Andai ada kendaraan langsung dari Banda Aceh, waktu tempuh ke Lamteuba sekitar tiga jam.

    Fauziah mulai berdoa lagi agar ada kendaraan menuju Lamteuba. Karena dari Simpang Ie Suum ke Lamteuba tak ada angkutan umum. Hanya keberuntungan yang membuatnya bisa sampai di sekolah tepat waktu.

    Fauziah biasa menumpang truk pengangkut kayu. Seragam dinasnya seringkali tersangkut dan robek saat melompat ke truk itu. Beruntung jika si sopir mau memberinya tempat duduk di depan.  Hal itu berlangsung sejak 12 tahun lalu, ketika ia jadi guru di desa Lamteuba.

    “Padahal nggak enak juga menumpang terus, tapi mau bagaimana,” ujarnya.

    Jalan menuju Lamteuba berhias jurang dan pegunungan di satu sisi, sedang hutan dan semak di sisi lain. Kondisi jalan berlubang, dengan puluhan tanjakan. Salah satu tanjakan bahkan dekat jurang, di bagian jalan yang rusak. Jembatan rusak. Susunan kayunya berderak dan bergoyang tiap kali mobil atau motor lewat. Rumah warga sebagian besar berdinding papan, hanya beberapa yang terbuat dari semen atau batubata. Mata pencarian warga umumnya bertani.

    Fauziah tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 atau 11.00 dan bersyukur jadwal mengajarnya pada jam kedua, dimulai pukul 10.30. Ia mengajar ekonomi akuntansi. Itu resminya. Tapi ia harus mengajar sejarah juga. Sekolah itu kekurangan tenaga pengajar.

    Setiap Senin hingga Rabu ia tinggal di Lamteuba, karena tersedia mess atau penginapan khusus untuk guru di situ. Rabu sore ia pulang dengan rute yang sama, dan baru tiba di rumah saat azan maghrib terdengar.

    “Untungnya suami mau mengerti, meskipun saya tidak pulang sampai berhari-hari,” ujar Fauziah. Ia menikah di awal 2009.

    Pada 1996 Fauziah mulai jadi guru honor, sementara itu surat keputusan kerjanya  baru keluar pada 1 Januari 2008. Penyerahannya bahkan menunggu setahun kemudian. Gaji pertamanya di sekolah menengah pertama (SMP) di Lamteuba Rp 400 ribu per bulan. “Hanya ada delapan guru saat itu,” katanya.

    Tapi ia tetap bertahan.

    “Lagipula saya kasihan… tempat itu kekurangan guru,” ujarnya.

    Setelah itu Fauziah mengajar di sekolah menengah atas (SMA) yang kemudian didirikan di desa itu. Ketika sekolah tersebut dibuka, murid angkatan pertamanya rata-rata sudah lima tahun tamat SMP. Mereka kebanyakan bekerja mencari kayu di hutan atau berkebun. Para siswa laki-laki hampir semuanya berperawakan kekar, hitam dan brewokan.

    “Saya sempat terkejut juga mereka masih mau sekolah walaupun sudah tidak muda lagi. Lucunya ada guru yang sampai menangis melihat keadaan muridnya, bukan karena mereka nakal, mungkin terkejut lihat siswanya seperti itu,” ujarnya, seraya tersenyum.

    Bagi Fauziah pekerjaan yang dilakoni saban hari tersebut amat menyenangkan. “Melihat murid-murid bisa berhasil adalah kebahagiaan tak terkira bagi saya, nggak ada yang nggak enak, semua menyenangkan asal dinikmati dan diterima dengan ikhlas. Yang ada kesulitan hanya masalah transpor,” ucapnya.

    Di masa konflik ia juga punya pengalaman menegangkan. Setiap kali mengajar ia sering dirazia baik oleh pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ataupun Tentara Nasional Indonesia (TNI), “Namun saya punya tekad nggak akan absen kalau tidak ada alasan mendesak, dan prinsip itu masih berjalan hingga kini, waktu itu yang perang, perang terus, yang ngajar ya ngajar terus,” kenangnya.

    Ia berharap pemerintah memperhatikan guru seperti dirinya, “Setidaknya sediakan angkutan umum hingga ke Lamteuba, jalan yang rusak juga diperbaiki untuk menunjang proses belajar-mengajar.”

    Hal serupa juga dialami Agustina. Hari itu ia mengenakan setelan jas coklat dipadu jilbab warna senada. Agustina harus berjalan kaki 2,5 kilometer dari rumah untuk menemukan angkutan umum. Rumahnya terletak di kampung Kleng Manyang, kecamatan Suka Makmur, Sibreh, Aceh Besar. Sebelum pergi mengajar ia harus menyiapkan kebutuhan anaknya yang belajar di kelas dua sekolah dasar. Ia harus meninggalkan buah hatinya itu selama tiga hari tiap minggu untuk mengajar di Lamteuba. Seperti Fauziah, ia memilih menginap di mess guru. Tak mungkin pulang ke rumah tiap hari dengan kondisi jalan dan transportasi yang buruk.

    “Anak saya titip sama ibu. Kalau nggak sakit, dia nggak apa-apa ditinggal,” katanya.

    Agustina mengajar agama di SMA Lamteuba. Begitu lulus kuliah di tahun 2004, ia langsung ditempatkan di desa itu. Ia sempat ketakutan.

    ”Gimana nggak takut, jauh dan terpencil,” ujarnya.

    Tapi suaminya cukup pengertian dan ia bersyukur memiliki pasangan seperti ini.

    ”Saya sampai ke rumah maghrib. Kalau hujan biasanya dijemput sama suami di Pasar Aceh, walaupun nggak dijemput sampai ke Lamteuba saya udah bersyukur, kasihan juga suami kalau jemput ke sana,” ujarnya.

    Walaupun tempat mengajarnya jauh, Agustina jarang absen. “Saya bertahan karena murid dan kepala sekolah yang kreatif. Kalau mengharap pemerintah, bisa-bisa saya nggak ngajar. Pemerintah memang enak kita dengar janji-janjinya. Kalau peduli pada rakyatnya, mereka akan turun ke daerah dan mencari guru yang mengajar di daerah terpencil untuk disejahterakan.”

    Kepala sekolah kreatif yang dimaksud Agustina tak lain dari Hamdani, yang merintis pendirian SMA di Lamteuba. Hamdani sudah 15 tahun jadi guru di daerah terpencil. Ia pernah mengajar di Pulau Aceh sebelum pindah ke Lamteuba. Pada awalnya ia  kepala sekolah SMP di Lamteuba. Karena perhatiannya yang besar terhadap pendidikan di desa itu, pada awal 2003 Hasyim, sang kepala mukim, meminta Hamdani mendirikan SMA di daerahnya. Banyak anak tidak melanjutkan sekolah, karena SMA terdekat berjarak 40 kilometer dari situ. Hasyim juga ingin anak-anak desa terdidik dan maju.

    Hamdani menyambut permintaan Hasyim. Penduduk kampung pun mengumpulkan dana untuk membeli lahan seluas 14 ribu meter persegi untuk membangun gedung sekolah. Di awal berdirinya, sekolah itu hanya memiliki empat kelas, tapi setahun kemudian ada penambahan dua kelas, perpustakaan dan laboratorium dari dana Dinas Pendidikan Aceh Besar. Tenaga pengajarnya 13 orang, enam di antaranya PNS, dan dibantu empat tenaga tata usaha.

    Hamdani langsung diangkat sebagai kepala sekolah baru tersebut. Selama enam tahun ia memimpin dua sekolah sekaligus, SMP dan SMA. Untuk operasional sekolah ia masih dibantu warga setempat, Rp15 ribu untuk satu anak. Saat sekolah tersebut resmi menjadi sekolah negeri dengan nama SMAN 2 Seulimum di tahun 2008 lalu, iuran tersebut dihapuskan. Untuk bekal rohani mereka, Hamdani mewajibkan setiap murid SMP dan SMA untuk mengaji di dayah Darun Nahli yang tak jauh dari sekolah tersebut.

    Menyaksikan kesulitan dan perjuangan guru-guru untuk datang ke sekolah, Hamdani akhirnya coba-coba mengajukan permohonan kepada pemerintah setempat untuk menyediakan kendaraan bagi mereka yang bertugas di Lamteuba. Permohonannya ternyata diterima. Setidaknya Fauziah dan Agustina tidak perlu menunggu truk kayu lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Lamteuba.

    “Walaupun satu kendaraan, itu juga sudah lumayan membantu,” ujar Hamdani.

    Untuk membantu operasional sekolah dan meningkatkan keterampilan siswa, Hamdani menerapkan Program Siswa Vokasional (PSV), yaitu kegiatan ekstrakurikuler yang berorientasi pada pembekalan kecakapan hidup. Hal ini tak lain dari penggabungan antara teori dan praktik dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya.

    Ia menyeleksi siswa kelas satu untuk dapat mengikuti PSV di kelas dua. Penyeleksian siswa tersebut berdasarkan tingkat kecerdasan, kerajinan, dan ekonomi keluarga para siswa. Bagi siswa yang tidak terpilih, ia tidak diwajibkan masuk kelas PSV, kecuali atas dasar kerelaan pribadi.

    “Mereka kita bina untuk bisa memanfaatkan hasil alam yang melimpah, sekaligus mengajarkan kalau pekerjaan itu bukan hanya pegawai negeri sipil,” ujar Hamdani.

    Pelaksanaan program PVS tersebut pertama kali di awal 2008, dengan memanfaatkan lahan kosong di pekarangan sekolah untuk berkebun jagung. Pemanfaatan area seluas setengah hektar tersebut sepenuhnya dibantu Pioner Mae Fah Luang Fundation, satu lembaga dari Thailand. Hasil panennya digunakan untuk biaya operasional sekolah dan sebesar 20 persen untuk para siswa. Hamdani juga menjanjikan kepada siswanya walaupun panen mereka gagal, mereka tetap mendapat jatah untuk jerih payah sebesar Rp 500 ribu.

    Selain jagung, Hamdani juga sedang mengupayakan berbagai program untuk kegiatan vokasional lainnya, seperti budidaya dan pembenihan ikan air tawar, peternakan, dasar-dasar pertukangan serta usaha perabot, perbengkelan dan otomotif, pelajaran menjahit dan bordir, juga pelatihan jurnalistik berbasis lingkungan.

    “Saya akan mengupayakannya demi kemajuan siswa dan daerah Lamteuba,” kata laki-laki berusia 49 tahun ini.

    Muhammad Nur, salah seorang warga,  merasakan benar manfaat sekolah di desanya.

    Alhamdulillah that kana sikula nyan, meuhan aneuk-aneuk kamoe menganggur, meunyoe jak sikula SMA di Seulimum that jioh, (Alhamdulillah udah ada sekolah ini, kalau nggak anak-anak kami menganggur, kalau untuk pergi ke sekolah Seulimum sangat jauh),” ujarnya sambil memanggul sekarung gabah yang baru dipanen.

    Menurutnya, sekolah tersebut juga berusaha untuk menambah keterampilan anak-anak, “Kami penduduk kampung juga ikut menanam jagung setelah anak-anak di sekolah itu melakukannya. Makanya kami baru bisa panen padi sekarang, karena lebih dulu panen jagung,” ujarnya dalam Bahasa Aceh.

    “Sekolah itu ada dari hasil bantuan masyarakat dan dukungan pak Hamdani. Semoga makin baik ke depannya. Cuma kekurangan di sini masalah transportasi. Karena transpor di sini sangat sulit, nanggroe maju tapi terisolir,” ujar ayah empat anak ini.

    “Kalau naik pesawat mudah,” candanya sambil tertawa.

    “Pendidikan bagi saya adalah hal yang penting, karena itu pula saya menyekolahkan dua anak saya hingga tingkat perguruan tinggi, di Fakultas Pertanian Unsyiah (Universitas Syiah Kuala) dan di Universitas Muhammadiyah,” ujarnya, lagi.

    Tarmizi, sekretaris Dinas Pendidikan Aceh Besar, menyatakan pihaknya memang ingin meningkatkan mutu sekolah di daerah yang sulit dijangkau ini dan memperhatikan kesejahteraan guru.

    Dinas ini sudah melakukan perekrutan guru untuk daerah seperti Lamteuba, Lampanah, dan Pulau Aceh. Dinas Pendidikan juga sudah membuat program menyekolahkan putra daerah untuk  bisa berbakti di daerah masing-masing. Namun, mereka tidak lulus tes guru setelah tamat kuliah, karena kelulusan ditentukan di tingkat pusat.

    “Jadi kita punya keinginan, tapi nggak punya kemampuan,” ujar Tarmizi.

    Baginya, Aceh Besar bukan lagi daerah terpencil. “Karena daerah terpencil itu ciri-cirinya nggak ada listrik dan tidak ada jalan aspal, hanya jalan setapak., di Aceh Besar sudah tidak ada lagi, hanya transportasinya yang masih sulit,” kilahnya.

    Anggaran pendidikan di daerah Aceh Besar cukup besar, mencapai Rp 22 miliar untuk dana pembangunan dan Rp 128 miliar untuk gaji guru. Besarnya anggaran untuk guru berhubungan dengan jumlah tenaga pengajar di Aceh Besar. Kalau untuk pengadaan buku serta transportasi sudah masuk dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), yang disalurkan melalui rekening kepala sekolah. Tapi jumlahnya ditentukan banyaknya murid di sekolah tersebut.

    ADITIYA  dan Multazam duduk di sebuah warung tidak jauh dari sekolah mereka. Keduanya murid kelas dua dan masuk kelas vokasional. Karena sedang libur, mereka bisa sedikit santai. Namun bahan pembicaraan dua remaja ini tidak jauh dari persoalan sekolah.

    Aditiya berkulit hitam, hidung mancung dan beralis tebal, cita-citanya ingin jadi ahli hukum, ia suka bermain bola, dan mengeluhkan sekolah mereka yang tidak ada lapangan sepak bola.

    “Susah juga nggak ada lapangan, harus main di kampung, apalagi kami jajannya di luar sekolah karena nggak ada kantin di sekolah, kami jadi sering terlambat masuk setelah jam istirahat, nggak enak juga sama guru,” tuturnya.

    “Pak Hamdani memang sedang mengupayakan kantin, tapi syaratnya harus higienis dan sehat,” tambahnya lagi.

    Sedangkan Multazam mengeluhkan sekolah mereka yang belum ada pagarnya. “Kalau lagi musim tanam padi, pemandangannnya lumayan. Tapi kalau setelah panen, banyak kerbau dan sapi berkeliaran di area sawah bahkan masuk pekarangan sekolah. Program penghijauan sekolah tidak bisa dilakukan karena nggak ada pagar, bisa habis dimakan sama hewan-hewan itu,” keluhnya.

    Menurut Multazam, kepala sekolah mereka sudah melakukan yang terbaik, tetapi itu juga harus didukung oleh pemerintah. Seperti pengadaan buku pelajaran, yang selama ini sudah diusahakan Hamdani.

    “Pemerintah patut membantu. Kita masih kekurangan buku, apalagi buku pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Laboratorium juga kosong, nggak bisa dipakai,” ujar Multazam.

    Multazam kelahiran 1992. Kulitnya putih, berbeda dengan Aditiya yang hitam legam. Ia bercita-cita  ingin jadi ahli ekonomi.

    Mereka juga berharap guru di sekolah tersebut mengajar sesuai dengan keahlian masing-masing.

    “Memang kami bisa maklum dengan kondisi ini. Tapi pemerintah harusnya memperhatikan, agar pertanyaan yang kami ajukan, nggak sering pending (ditunda) jawabannya,” ujar Multazam yang diiyakan Aditiya.

    Mata pelajaran yang belum diajarkan guru berdasarkan bidang ilmunya, antara lain Bahasa Indonesia dan Matematika. Bahasa Inggris diajarkan langsung oleh Hamdani, yang memang guru Bahasa Inggris.

    “Maunya ada satu orang lagi, untuk menggantikan pak Hamdani kalau beliau sedang tugas keluar,” kata mereka, hampir bersamaan.

    Cara Hamdani mendidik mereka pun membuat kedua murid ini terkesan.

    “Kalau kami ada kesalahan, nggak main pukul. Tapi Pak Hamdani memberikan hukuman untuk membersihkan pekarangan sekolah ataupun mencangkul lahan untuk menanam jagung,” ujar Aditiya.***