• Rencong Pusaka
    Budaya - 2010-02-14 | 1080 Kata | 1810 Hits
    Oleh : Khiththati


    RIDWAN Aswad membaca cuplikan buku tentang Aceh yang ditulis sejarawan kolonial, H.C. Zantgraaff, “Tiba-tiba sang ulee balang mencabut rencongnya lalu menikam ke perut Scheepens. Sejenak keadaan menjadi panik.” Ulee balang adalah sebutan untuk kaum bangsawan Aceh.

    Rencong digunakan dalam perang Aceh, perang bangsa Aceh melawan Portugis.

    “Rencong dibuat dengan gagang berbentuk huruf ba (salah satu aksara Arab) agar tidak licin setelah menusuk musuh,” ujar Ridwan,  sekretaris Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA).

    “Tapi kapan awalnya rencong mulai dibuat dan di mana, tidak ada yang tahu,” lanjutnya.

    Reuncong atau rencong adalah senjata tradisional Aceh. Meski tidak ditemukan dalam catatan sejarah, asal-usul rencong terekam dalam legenda Aceh.

    “Dulu ada burung yang namanya geureda yang suka memangsa ternak warga. Karena ternaknya banyak yang mati, para penduduk meminta pendapat tengku-tengku (alim ulama). Oleh tengku mereka diminta shalat, maka jawaban dari shalat tadi adalah masyarakat harus membuat rencong untuk mengusir burung geureda,” tutur Ridwan.

    Marzuki, Acik, dan Muksin juga tidak tahu kapan pertama kali rencong dibuat dan untuk tujuan apa. Padahal ketiga pengrajin ini mewarisi ilmu membuat rencong secara turun-temurun.

    “Sembilan puluh persen masyarakat di desa ini membuat rencong,” ujar Marzuki. Ia adalah warga Baet, Sibreh.

    Ketika saya memasuki desa ini, tampak jalan aspal yang telah mengelupas, dengan hamparan sawah hijau di kanan-kirinya. Rumah penduduk terbuat dari kayu atau bata.
    Ada juga yang masih gubuk. Saya melihat sebuah pamflet bertulis “Sentra Kerajinan Rencong Aceh Pusat Baet”.

    “Dulu kami bekerja dalam gubuk beratap rumbia,” ujar Muzakir, seraya tersenyum.

    Setelah tsunami, Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh-Nias (BRR) memberi bantuan pendirian sejumlah bangunan permanen untuk para pengrajin di daerah ini.


    Ada
    tiga desa yang dibantu  BRR, yaitu Baet Mesjid, Baet Lampuot dan Baet Meusango.  Semua bangunan berjumlah 42. Uang bantuan yang diberikan BRR sebesar Rp 32 juta dengan rincian untuk bangunan dan alat usaha.

    Tempat Muhammad Acik bekerja tidak jauh dari Marzuki. Bangunan tanpa pintu itu bercat hijau muda, berada di samping rumahnya. Ia bekerja bersama
    lima rekannya. Ia belajar membuat rencong dari ayahnya.

    Acik lulusan Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry, Banda Aceh, pada 1988. Tapi ia lebih memilih membuat rencong ketimbang mencari kerja dengan mengandalkan ijazah sarjananya.

    “Sekarang bahannya agak mahal. Kalau dulu tanduk murah, kalau sekarang yang hitam Rp 30 ribu sepasang,” tutur Acik. “Miseu lungke kebeu jagat lebeh mehai lom, seretoh limong ploh saboh pasang (kalau tanduk kerbau putih lebih mahal lagi, seratus
    lima puluh sepasang),” lanjutnya.

    Mata rencong terbuat dari besi atau kuningan. Seperti halnya keris Jawa, rencong berujung lancip. Tanduk,  kayu, gading atau emas untuk gagangnya. Sarung rencong juga dari tanduk kerbau dan  gading, atau kayu pilihan seperti batang kapula, nangka, kemuning dan batang asam.

    Marzuki biasa membeli tanduk kerbau di rumah potong hewan atau yang didatangkan dari Meulaboh, Aceh Barat. Kayu batang kemuning didapatnya di gunung atau di kuburan. Kuningan dibelinya kiloan. Tapi tak semua tanduk dapat dibuat gagang atau sarung rencong. Tanduk sapi dan kambing cepat retak. Tanduk rusa tak masalah. Satu tanduk kerbau bisa untuk tiga rencong. Gagang atau sarung gading gajah  jarang dipesan orang. Selain mahal, susah dicari.

    Marzuki dan Acik punya pengalaman menarik di masa konflik pemerintah
    Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka memperoleh kuningan dari selongsong peluru bekas perang tentara Indonesia atau gerilyawan GAM.

    “Waktu itu ada selosong yang dijual per kilo,” kata Acik, terkekeh. Ia mulai membuat rencong di usia 12 tahun.

    Tak jauh dari Acik dan Marzuki terlihat Muksin sedang menggosok-gosok siwah. Seperti halnya rencong, siwah senjata tradisional yang sering dipakai para raja, panglima perang, dan pejuang Aceh di masa lalu. Bagi orang Aceh, rencong sudah jadi bagian adat dan budaya, bahkan dianggap senjata pusaka.

    Sejak usia 10 tahun, Muksin sudah bekerja mengilapkan senjata-senjata tajam ini.

    “Saya senang kerja seperti ini. Walaupun penghasilannya tidak banyak, tapi saya sudah ikut menjaga tradisi dan adat daerah saya,” ujar Muksin yang sekarang sudah berumur 22 tahun.

    Muge atau pedagang  membeli rencong dari desa Baet  untuk dijual di toko cinderamata. Harga rencong ukuran kecil yang mereka beli dari pengrajin dengan harga Rp 11 ribu akan jadi Rp 20 ribu. Rencong besar yang tadinya seharga Rp 82 ribu akan naik jadi Rp 150 ribu di toko. Motif rencong juga menentukan harga. Rencong dari kuningan lebih mahal dari rencong besi. Namun, omset penjualan rencong menurun sejak lembaga-lembaga bantuan asing meninggalkan Aceh.

    “Saat habis tsunami banyak bule-bule (orang asing) yang datang kemari. Tapi kalau sekarang sudah kurang,” ujar Muksin, sambil membetulkan letak duduknya. “Kalau mereka yang beli, bisa dihargai sedikit mahal,” tambahnya.

    Gelembung ekonomi dan bisnis di masa awal pascatsunami dan pascakonflik kini terus mengempis. Pengangguran di Aceh meningkat, karena program rekonstruksi dan rehabilitasi telah selesai. Pengunjung rumah-rumah makan tidak sebanyak dulu. Tamu-tamu hotel menyusut. Situasi ini harus segera digantikan dengan peningkatan ekonomi yang bersandar pada potensi Aceh sendiri, seperti wisata, budaya, dan mineral. Namun, penerapan syariah Islam yang mendatangkan berbagai masalah baru dalam kehidupan orang Aceh justru membuat was was para pemodal yang hendak membuka bisnis mereka.

    Di Pasar Atjeh, dua kakak beradik Ahmad dan  Usman Arif  juga mencari nafkah dengan berjualan rencong. Mereka tidak menjual rencong buatan pengrajin Baet, melainkan rencong tua.

    Rencong-rencong itu mereka beli dari warga. “Saya mendapatkanya dari Pribu, Aceh Barat sebelum konflik (antara pemerintah
    Indonesia dan GAM) dulu,  sebelum tahun 1989,” ujar Usman. Selain itu, ia juga memperoleh rencong tua dari Lhong, Lamno dan Aceh Selatan.

    Pembeli rencong kakak-beradik ini rata-rata kolektor. Harga sebilah rencong kecil antik berkisar Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu. Ukiran pada rencong itu macam-macam motif, ada yang berupa kalimat “bismillah” atau ayat dalam Alquran seperti Al Ikhlas.

    Ahmad dan Usman menggelar dagangan mereka di emperan toko, disusun di atas meja kecil. Dulu mereka pernah punya toko sendiri. Ketika tsunami melanda Aceh, ada orang mengambil kesempatan ini untuk membongkar toko mereka dan membawa lari semua barang di dalamnya. Mereka juga menjual siwah dan berbagai jenis barang antik, selain rencong.

    “Ini dinamakan siwah, karena di gagangnya ada pahatan kepala burung siwah dan di sarungnya ada ukiran bulunya. Siwah ini adalah nama burung yang sangat ditakuti oleh burung lain, makanya ini sering dipakai oleh raja Aceh dulu,” kata Ahmad, sambil memegang siwah.

    Di meja mereka ada pedang bergagang kepala rajawali, peninggalan Belanda, pedang Istanbul yang berukir kaligrafi, pedang Cina, samurai Jepang berangka tahun 1718 dan 1024, madam berukir dan pistol kemurah dari Kerajaan Aceh, keris Jawa dan Melayu. Benda-benda itu sebagian sudah berkarat.

    Menjual barang antik dan langka bisa terjerat pasal hukum pidana. Benda-benda itu termasuk artefak budaya yang dilindungi negara.


    “Kami semua perlu makan. Anak saya dan istri saya juga begitu,” jawab Usman, memberi alasan atas tindakannya.***