• Bertarung dengan Gajah
    Ekonomi - 2008-12-28 | 1317 Kata | 1845 Hits
    Oleh : Samiaji Bintang
    Samiaji Bintang

    HASANNUDDIN dan istrinya, Marlina, nyaris putus harapan. Malam itu, 23 Agustus 2008, sekitar jam 10 malam, seekor gajah jantan masuk ke kebun coklat dan pisang yang ada di belakang rumah mereka. Binatang raksasa itu menerobos pagar kawat-duri yang mengelilingi kebun. Lantas mencabut dan melahap bonggol-bonggol pisang muda. Tanaman ini salah satu makanan favorit hewan ini.

    Melihat hewan besar itu nyali Hasanuddin ciut. Ia segera lari menuju rumah para tetangganya untuk mengusir binatang liar itu. Begitu kembali, Hasanuddin dan keempat tetangganya lekas-lekas menghalau gajah dari jarak sekitar lima meter.

    “Pergi… pergi…” ujar mereka bergantian dengan suara datar. Warga sudah paham tabiat hewan liar ini. Jika diusir dengan cara yang kasar, apalagi dimaki-maki, binatang itu akan semakin ganas. Salah-salah, si gajah malah balik menyerang.

    “Jangan ganggu kebun kami…,” kata Hasanuddin sambil menggerakkan tangan agar si gajah segera meninggalkan kebun. Tapi gajah itu seakan tak peduli.

    Hasanuddin dibantu para tetangganya lantas mengumpulkan kayu kering. Mereka lekas-lekas membuat api unggun. Api itu berhasil membuat si gajah mundur beberapa langkah ke luar setelah menjebol pagar kawat berduri. Belalainya menyeret sisa bonggol yang berhasil ditumbangkan. Tiba-tiba gajah itu berhenti. Dan kembali melahap bonggol dengan rakus.

    Hasanuddin memutuskan menjaga kebunnya bersama empat tetangganya. Marlina ikut menemani. Api unggun masih menyala. Sekitar jam 2 dinihari, setelah selesai makan, gajah itu kemudian meninggalkan kebun. Namun Hasanuddin terus berjaga-jaga. Ia khawatir kalau-kalau si gajah datang lagi.

    “Pohon coklat itu andalan kami untuk biaya sekolah anak-anak,” ujarnya kepada saya. Saya mengunjungi rumahnya dua hari setelah gajah itu datang dan merusak kebun. Masih ada jejak-jejak kaki binatang raksasa, diameternya sekitar 35 centimeter. Tak jauh dari pagar kebun, hewan itu juga meninggalkan kotoran-kotoran seukuran bola basket.

    Hasanuddin adalah keuchik desa Cot Punti, Sampoinet, kabupaten Aceh Jaya. Tapi pendapatan utama untuk menghidupi istri dan keempat anaknya berasal dari hasil ladang. Ia memiliki lahan seluas dua hektar. Itu sebabnya, saat mengetahui gajah masuk ke kebunnya, ia amat cemas. Apalagi, di situ baru saja ia tanami bibit pohon coklat. Di antara pohon-pohon coklat itu ia tanam pohon pisang sebagai pelindung.

    Menurut perkiraan Hasanuddin, bibit-bibit coklat di kebunnya baru mulai panen sekitar tiga tahun lagi. Harga coklat sekali panen jauh melampaui bertandan-tandan pisang. Kecenderungan harga coklat di pasaran juga terus melambung. Tanaman itu jadi investasi masa depan keluarganya setelah lepas dari konflik.

    “Sehabis konflik kami memulai semua dari nol lagi,” Marlina, istrinya, menambahkan.

    DI awal
    1990-an warga desa yang ada di kecamatan Sampoinet, Aceh Jaya, hidup makmur dari hasil kebun dan pertanian. Wilayah kecamatan ini cukup luas. Di sini terdapat sekitar 30- an desa. Beberapa desa di wilayah ini dialokasikan untuk program transmigrasi dalam pulau dan antar pulau. Ratusan transmigran asal pulau Jawa ditempatkan di desa Cot Punti, Krueng Ayon, Ranto Sabon, dan Ie Jeurenge.

    Transmigran asal Jawa membawa bibit jeruk. Berhektar-hektar lahan hasil perambahan diubah menjadi perkebunan jeruk. Panen jeruk yang menguntungkan pada masa itu membuat warga setempat ikut membuka lahan perkebunan jeruk. Berton-ton jeruk dari desa dikirim dan dijual hingga ke Medan dan Jakarta. Jeruk Sampoinet amat populer saat itu. Hasanuddin adalah salah satu warga setempat yang ikut menanam ratusan batang pohon jeruk.

    Tahun 2000-an, konflik bersenjata antara militer Indonesia dan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka pecah lagi. Ratusan transmigran asal Jawa memilih eksodus dari Aceh, kembali ke Jawa. Mereka meninggalkan rumah dan kebun-kebun jeruk.

    “Tetangga saya yang orang Jawa menitipkan sertifikat tanahnya pada saya. Sampai sekarang masih saya simpan di lemari,” ujar Hasanuddin.

    Konflik bersenjata juga membuat ia dan sejumlah warga setempat kehilangan pendapatan. Warga tidak berani pergi ke ladang atau kebun. Akibatnya ratusan hektar kebun yang tidak terurus kembali menjadi semak dan rimba. Akses transportasi keluar-masuk desa rusak, sebagian lainnya tertutup semak. Jaringan listrik tidak berfungsi. Gedung Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) berubah jadi pos militer. Sebagian rumah warga dibakar.

    Konflik menelan banyak korban. Tapi penduduk di desa-desa yang paling terjepit. Mereka ibarat pelanduk di antara dua gajah yang tengah adu kekuatan.


    WALAU membawa angin perubahan,  perjanjian damai tak segera mengubah nasib masyarakat di desa-desa. Ribuan warga desa yang terkena imbas konflik masih hidup dalam belitan kemiskinan dan kekurangan. Warga tak punya banyak pilihan. Sebagian warga di kecamatan Sampoinet, memiliki niat kembali berkebun. Tapi ini juga tidak gampang.

    “Modalnya besar. Kalau beli bibit sendiri, mana mampu,” ujar Awaluddin. Ia warga desa Ligan.

    Sebelum konflik pecah tahun 2000, Awaluddin memiliki kebun jeruk. Begitu konflik meluas hingga pelosok Sampoinet, ia terpaksa merantau dan berdagang di Banda Aceh. Ia baru pulang kampung setelah tsunami.

    Di kampung, ia bekerja sebagai sopir truk yang mengangkut kayu-kayu hasil penebangan ilegal di hutan. Kayu-kayu itu dibawa ke Banda Aceh. Selepas bencana, kebutuhan material bangunan melonjak. Dalam sebulan Awaluddin bisa pendapatan bersih hampir dua juta. Meski ilegal dan membahayakan lingkungan, baginya bisnis kayu ini mendatangkan keuntungan dalam tempo cepat.

    Yayat, petugas lapangan Caritas Republik Ceko, yang melakukan survei ke desa-desa di Sampoinet menyatakan pekerjaan sebagian warga di bekas wilayah konflik ini juga dipicu konsentrasi kerja lembaga-lembaga bantuan yang mengutamakan daerah-daerah pesisir yang terkena tsunami.

    “Sementara warga di bekas wilayah konflik hanya menonton. Tiap hari jalan utama desa dilewati truk-truk yang bawa barang bantuan dan material untuk wilayah yang kena tsunami,” ujarnya.

    Awal 2008, Caritas mengadakan program peningkatan mata pencarian warga di wilayah bekas konflik, terutama yang ada di kecamatan Sampoinet. Petugas lapangan organisasi ini melakukan survei, menggali kebutuhan dan potensi warga.

    “Kalau disuruh memilih bantuan uang atau bibit, ya pilih bibit. Kalau pilih uang bisa cepat habis, ada saja kebutuhannya,” ujar Musdar, warga desa Ie Jeureunge.

    Setelah melalui aneka dialog, bantuan bibit yang disepakati adalah pohon coklat. Ribuan bibit pohon ini segera didistribusikan kepada warga yang menjadi korban konflik di 21 desa di kecamatan Sampoinet. Jumlah penerima bantuan ini lebih dari 1.110 keluarga. Mereka terbagi dalam kelompok yang dipimpin seorang ketua. Selain bibit, mereka mendapat bantuan kawat berduri untuk melindungi kebun dari gangguan babi.

    Hasanuddin dan Musdar juga mendapat bantuan ini. Mereka punya harapan untuk memiliki pendapatan dari pertanian yang lestari.

    Begitu mengetahui hasil yang dijanjikan, Awaluddin ikut tertarik. Ia pun berhenti sebagai sopir. Ia memutuskan kembali menggarap kebun yang ditinggalkan orangtuanya ketimbang mengangkut kayu-kayu hasil penebangan yang justru merusak hutan di dekat desanya.

    “Mengapa tidak kembali menanam jeruk?” Saya bertanya kepada Awaluddin saat mengunjungi kebunnya di Ligan.

    “Perawatannya mahal. Saya tidak punya modal,” balasnya.

    Dari pengalaman sebelumnya, Hasanuddin mengetahui bahwa perawatan kebun jeruk banyak menggunakan pupuk non-organik dan pembasmi hama kimia. Penggunaan bahan-bahan ini berdampak buruk pada tanah dan lingkungan. Namun ini akibat kurangnya pengetahuan dan pemahaman petani soal pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.


    SEKARANG di desa kami hama yang paling besar adalah tengku rayeuk,” ujar Hasanuddin. Tengku rayeuk adalah sebutan warga atas gajah ini. Dalam bahasa Indonesia, rayeuk artinya besar.

    Dua hari setelah kebunnya diinjak-injak gajah, Hasanuddin mengikuti pertemuan bersama keuchik Ranto Saboon, Ie Jeureunge, dan Krueng Ayon lainnya dan membahas cara mengusir gajah dari perkebunan coklat. Rapat penting ini diadakan di meunasah desa Ie Jeureunge.

    “Kalau babi lebih mudah. Kebun tinggal dikasih pagar, dia tak bisa masuk ke kebun dan merusak tanaman,” ujar Musdar.

    Sejak kebun-kebun coklat mulai terancam oleh gajah yang masuk kebun, persoalan ini menjadi pembicaraan warga di kedai kopi hingga meunasah.

    “Kalau konflik dulu, mau ke kebun tinggal izin danton (komandan pleton) langsung dikasih. Sekarang konfliknya sama gajah, mana bisa?” ujar Hasanuddin.

    Konflik penduduk dengan hewan-hewan liar itu sudah berlangsung lama. Namun lebih dari setahun belakangan ini hewan-hewan ini kian sering turung gunung. Entah siapa yang salah, gajah yang turun gunung atau warga yang membuka lahan hingga ke kawasan hutan.

    Beberapa hari setelah rapat di meunasah itu, gajah jantan yang melahap bonggol-bonggol pisang di kebun Hasanuddin masuk ke kebun warga desa Ie Jeureunge. Warga berusaha mengusirnya dengan meriam bambu. Suara meriam ini berhasil membuat gajah pergi dari kebun. Tapi ini hanya sementara.

    Baru-baru ini amuk gajah mulai memakan korban di Sampoinet. Senin, 24 November 2008 lalu, seperti diberitakan harian Serambi Indonesia, seorang warga di desa Cot Pange tewas dibanting gajah. Kerugian warga juga tak sedikit. Bila konflik dengan gajah ini tak kunjung berakhir, kebun-kebun milik warga juga bisa musnah dirusak gajah. ***


    *) Samiaji Bintang adalah Kontributor Aceh Feature Service di Banda Aceh.