“WAKTU tentara datang (ke rumah), saya hanya bisa melihat bapak diambil tentara. Senjatanya lengkap. Kalau mendengar tembakan, (kami) disuruh tiarap,” kenang Fahrul Razi.
Trauma konflik membuatnya tak mudah percaya dan bergaul dengan orang yang baru ia kenal. Ia lahir dua tahun sebelum status Daerah Operasi Militer untuk Aceh dihapus oleh presiden BJ. Habibie pada 1998.
“Anak itu (Fahrul) dulunya pendiam. Jarang bicara sama orang,” kata Abdullah Nyak Neh, ayahnya.
Fahrul pernah melihat empat jenazah pemuda yang dituduh terlibat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di desa tetangga.
“Saya takut melihatnya,” tutur Fahrul.
Pada masa itu Nyak Neh, ayah Fahrul, menjabat sekretaris desa. Tak jauh dari rumahnya berdiri pos tentara Indonesia. Ia pun tak luput dari pertanyaan aparat soal keberadaan anggota GAM di kampungnya.
“Siang malam tidak bisa tidur. Tiap dua jam ada Brimob (Brigadir Mobil) datang. Tiap dua jam ada TNI (Tentara Nasional Indonesia) datang,” ujar Nyak Neh, yang kini menjabat geuchik Lamkunyet.
Kontak senjata antara tentara dan gerilyawan GAM sering terjadi di sini. Jarak Lamkunyet sekitar delapan kilometer dari Banda Aceh, terletak dalam wilayah kabupaten Aceh Besar.
Mata pencarian warga Lamkunyet umumnya bertani. Tapi konflik membuat banyak warga meninggalkan kebun, ladang dan sawah mereka untuk menyelamatkan diri. Akibatnya, ekonomi warga terpuruk. Pendidikan anak terbengkalai. Anak-anak juga tak bebas bermain di luar rumah.
Ketika konflik usai, upaya pemulihan kehidupan anak-anak tersebut membutuhkan partisipasi dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah, termasuk lembaga-lembaga non-pemerintah. Beberapa lembaga yang memiliki perhatian terhadap persoalan anak-anak adalah Traditional Arts Lecture of Aceh (TALOE) dan Pulih.
Fokus kerja TALOE adalah pada pengajaran seni tradisional Aceh untuk anak-anak dan remaja. Lewat pengajaran seni tradisi, mereka membantu memulihkan anak-anak dan remaja dari trauma konflik, terutama bagi generasi muda yang tinggal di pelosok, jauh dari akses informasi dan transportasi.
Tim Pulih melatih para pengajar TALOE dalam membimbing dan mendampingi anak-anak dan remaja itu. Pulih merupakan lembaga yang berkecimpung di bidang penanganan psikologis korban trauma.
Selama hampir setahun ini, kedua lembaga tersebut bekerja sama dalam menyelenggarakan pendidikan alternatif untuk anak-anak Aceh. Inisiatif kedua lembaga tadi mendapat tanggapan serius dari Caritas Republik Ceko. Lembaga internasional yang kemudian mendanai program mereka.
Tim TALOE lantas melakukan survei lapangan, mencari anak-anak di desa yang terimbas konflik. Tugas ini menjadi tanggung jawab Khairul Anwar, program manajer TALOE. Ia dibantu Darmansyah, koordinator lapangan TALOE.
Sebelum akhir 2007, tim TALOE sudah berkeliling ke 13 desa yang tersebar di beberapa kecamatan di Aceh Besar. Mereka menemui kepala-kepala desa, ketua pemuda, ulama, dan tokoh masyarakat untuk menawarkan program pengajaran kesenian untuk anak-anak. Namun, dari 13 desa yang mereka datangi, separuhnya menolak program pengajaran gratis ini.
“Tanpa basa-basi, geuchik mengatakan, ‘Oh, kami tidak butuh. Kami tidak setuju program ini...’,” kenang Khairul.
Dari warga setempat, ia dan teman-temannya akhirnya tahu bahwa desa-desa yang mereka datangi itu pernah dikecewakan oleh janji-janji palsu bantuan.
“Yang paling berat adalah daerah Lamkunyet. Karena ini memang daerah basis (GAM) dulunya,” ujar Khairul.
Saat ia dan Darmansyah datang ke kedai kopi, orang-orang di situ menyambut mereka dengan tatapan curiga. Tak berapa lama, orang-orang itu pergi satu-satu. Mereka berdua rupanya disangka aparat.
“Rambut cepak masa’ menari?” Khairul meniru ucapan seseorang di kedai itu.
Tapi ada pula warga yang menyangka Khairul bekerja di lembaga bantuan kemanusiaan. Mereka butuh bantuan yang nyata, seperti perbaikan sekolah, jalan, atau bantuan rumah bagi korban konflik, bukan pengajaran kesenian.
Ada enam desa di enam kecamatan di Aceh Besar yang akan menjadi sasaran kerja TALOE selama tahun 2008, antara lain Lamkunyet, Lambada Peukan, Lamklat, Lamtipeung, Lambroe Dayah, dan Gue. Tim survei memerlukan waktu lebih dari sebulan dan 12 kali pertemuan untuk meyakinkan tokoh masyarakat di tiap desa tentang pentingnya program mereka.
PADA awal Januari 2008, program TALOE dimulai di Lamkunyet. Latihan seni tari dan musik tradisi ini berlangsung tiap sore, tiga kali dalam sepekan. Tempat latihan berada di muka sebuah bangunan sekolah dasar darurat.
“Pertunjukan mereka sangat menghibur. Dan kami sangat senang,” kata Ma’assabirin said. Ia adalah wakil ketua organisasi pemuda desa Lamkunyet. Apalagi, lanjut dia, sebelumnya tidak pernah ada pertunjukan seperti yang dilakukan anak-anak ini. Warga juga senang karena seni yang dipentaskan adalah kesenian tradisional yang mereka rindukan.
“Kalau ikut latihan (seni), saya jadi lupa sama waktu-waktu konflik. Sebelumnya, tidak pernah ada kegiatan seperti ini. Cuma main bola sama teman,” ujar Fahrul.
Ia dan puluhan anak desa Lamkunyet kini punya kegiatan yang lebih menghibur dan membuat mereka kembali ceria.
”Sebelumnya saya tidak pernah main alat musik rapa’i (rebana), geundrang (gendang), apalagi serunee (seruling) ini. Sekarang sudah bisa,” ujar Dedy Marlansyah, salah seorang teman Fahrul, bangga.
Setelah latihan delapan bulan lebih, mereka sudah menguasai beberapa tarian seperti ranup lampuan, meusaree-saree, dan likat pulo. Mereka juga mampu memainkan gendang dan rapa’i. Tak hanya itu. Pada April 2008, Fahrul bersama teman-temannya berhasil meraih juara pertama dalam festival seni tradisi tingkat kecamatan Darul Kamal.
Nyak Neh, ayah Fahrul, dan para orangtua di Lamkunyet ikut bangga. Seni tradisi telah menumbuhkan percaya diri dan kreativitas anak-anak mereka.
“Dari nol, tidak bisa apa-apa, ternyata anak-anak kami sekarang sudah bisa tampil dan berani melihatkan mukanya di pentas. Kami sangat berterimakasih,” kata Nyak Neh.
PIPI Dedi menggembung dan mengempis. Jari-jarinya berpindah-pindah dari satu lubang ke lubang lain pada batang serunee kalee, jenis suling tradisional Aceh. Lengking sulingnya segera disambut bunyi rapa’i yang ditepuk Fahrul dan dua bocah lain. Mereka duduk bersila di atas kerikil yang ditutup kain terpal warna biru.
Tak lama kemudian, barisan bocah perempuan dari lima penjuru bergerak maju ke hadapan Dedi dan Fahrul. Mereka membentuk formasi huruf V. Tangan dan kaki mereka bergerak mengikuti irama rapa’i dan lengking suling. Maju. Mundur. Berputar. Duduk. Lalu berdiri lagi.
“Ulang…! Ulang…!” Yusfarli memberi komando saat lengking suling yang ditiup Dedi tiba-tiba sumbang. Ia akrab dipanggil “Bang Jawi”. Dalam bahasa Indonesia Jawi artinya kidal. Jawi adalah instruktur atau guru seni tari dan musik para bocah.
Sore itu Jawi ditemani Irma yang bernama lengkap Irma Hasanah. Keduanya berbagi tugas. Jawi melatih beberapa anak laki-laki memainkan alat musik tradisional, seperti suling dan rapa’i. Irma mengajar anak-anak perempuan menari.
Teeeettreett… teeett…
Dangg! Pak! Pak! Pak! … Pak! Dangg!
Anak-anak perempuan segera mengulangi gerakan mereka, diiringi lengking suling dan tepukan rapa’i.
Latihan sore itu adalah pertemuan terakhir sebelum para bocah itu tampil di panggung yang digelar tiap empat bulan sekali.
“Kami latihan sambil bermain, makanya anak-anak jadi senang,” kata Jawi kepada saya. Irma mengangguk. Jawi dan Irma adalah dua dari belasan pegiat kesenian yang bergabung di TALOE.
“Kalau kami tidak datang, Fahrul dan teman-temannya malah telepon kami. Kirim SMS (short message service). Tanya kenapa kami tak datang,” kata Irma.***
*) Samiaji Bintang adalah kontributor Aceh Feature Service di Banda Aceh
