• Saya, Hasan Tiro, dan Aceh
    Politik - 2008-10-14 | 1961 Kata | 3830 Hits
    Oleh : Novia Liza
    Foto : Samiaji Bintang

    SAYA mengenal nama Hasan Tiro ketika saya duduk di sekolah menengah atas sekitar tahun 2000,  dua tahun setelah konflik kembali memuncak di Aceh. Sebagian orang yang saya kenal menyebutnya pahlawan dan pejuang. Tapi ada juga yang menyebutnya sebagai pemberontak atau separatis.

    Abang saya sering membandingkan Tiro dengan Daud Beureuh, pemimpin pemberontakan Darul Islam di Aceh. Ia menganggap Beureuh lebih hebat, karena berjuang di Aceh, di negerinya sendiri, tidak mengasingkan diri ke luar negeri. Tapi bagi saya, Tiro tak kalah hebat. Ia memiliki karisma,  pengetahuan politik, dan strategi perjuangan yang baik, yang membuatnya bisa memimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan mengatur para pengikutnya dari luar negeri. Ia membuat mereka tetap setia kepadanya. Beureuh akhirnya menyerah kepada pemerintah Sukarno dan bahkan, sempat ditahan. Tiro tidak pernah menyerah. Ia kembali ke Aceh, setelah pemerintah Indonesia dan GAM menandatangani perjanjian damai. Ia pulang secara terhormat. Orang-orang GAM menyebutnya “wali” atau pemimpin besar.

    Saya bukan orang GAM dan juga tidak tertarik pada politik, tapi saya menghargai pengorbanan Tiro untuk rela berpisah dari keluarganya, orang dicintainya dan tanah kelahirannya sebagai konsekuensi perlawanan itu.

    Mendengar ia akan pulang pada tanggal 11 Oktober 2008, saya pun ingin menyaksikan kepulangannya dan melihat pesawatnya mendarat di bandar udara Sultan Iskandar Muda. Hampir tiga puluh tahun ia tak menginjak tanah Aceh.

    Saya pernah mendengar bahwa Tiro berjanji tak akan pulang sebelum Aceh merdeka. Meski Aceh telah damai, tapi ia tetap bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah ia sudah lupa pada ikrarnya?

    “Yang jelas, beliau ingin pulang sendiri karena rindu pada Aceh, keluarga, dan ingin melihat langsung situasi tsunami yang telah menghantam Aceh. Dan yang paling penting, melihat langsung perjalanan dari isi MoU (Perjanjian Helsinki) yang telah disepakati bersama,” kata  Adnan.Beuransyah dari Komite Peralihan Aceh, organisasi mantan gerilyawan GAM.
    Menurut Adnan, seharusnya pesawat yang membawa Tiro sudah mendarat pada pukul 09.30.

    Di area pendaratan, 60 pria berseragam serba hitam dengan selempang bercorak garis merah-putih-hitam-merah-putih berbaris memanjang. Tubuh mereka tinggi besar. Mereka adalah mantan pasukan khusus GAM yang disiapkan untuk menyambut Tiro dengan azan begitu ia turun dari pesawat.

    Siang ini sekitar seribu massa telah memenuhi bandara. Mereka terdiri dari tua-muda, besar-kecil, laki-laki-perempuan. Ada yang berdiri di atas truk, ada yang berteduh di bawah payung, ada yang menggendong anak, ada yang berseliweran di tempat parkir.  Di ruang dalam tak kurang dari 200 orang telah berkumpul. Mereka dan saya menunggu Tiro.

    Seorang laki-laki berjas abu-abu tua menghampiri saya. Ia langsung mengeritik penampilan saya, yang dianggapnya kurang pantas untuk menjemput Wali. Hari ini saya mengenakan atasan tunik coklat longgar yang panjangnya kira-kira dua jengkal di bawah pinggang, dipadu celana jins. Saya juga menutupi kepala saya dengan jilbab.  Saya tak terima disebut “berpakaian kurang pantas”. Saya mendebat laki-laki itu, dengan mengatakan bahwa pekerjaan wartawan mengharuskan saya bergerak terus. Rok panjang bisa membuat saya tersandung atau jatuh ketika terburu-buru, atau sedang berdesakan seperti hari ini.

    Seorang wartawan televisi nasional juga ditegur laki-laki itu, karena busananya. Ia mengenakan atasan yang lebih pendek lagi dan menutup kepalanya dengan selendang yang lazim digunakan perempuan Aceh.

    “Saya juga dari Eropa, sering lihat yang terbuka. Tapi ini di Aceh dan yang kita sambut Wali jadi tolong pakaiannya lebih sopan lagi. Kita minta maaf juga karena tidak mengkoordinasikan hal ini dengan wartawan sebelumnya. Jangan tersinggung ya,” ujarnya. Ia meminta kami tak berada di barisan depan para penyambut.

    Belum ada qanun tentang jilbab bagi perempuan muslim di Aceh, meski syariat Islam telah diterapkan dan diperkuat dengan Undang-Undang Otonomi Khusus Aceh tahun 2001. Baru tiga qanun ditetapkan, yaitu tentang khalwat, maisir (judi) dan minuman keras. Tapi dalam pelaksanaannya, busana kaum perempuanlah yang sering dipermasalahkan. Tanpa jilbab, polisi syariat akan memperlakukan kami seperti penjahat agama.


    HARI sungguh panas terik.  Saya melihat seorang perempuan tua, kecil, kurus, berkebaya putih melangkah pelan. Ia bersama seorang laki-laki dan beberapa perempuan yang menuntunnya ke mobil Landrover. Dari seorang perempuan yang menemaninya,  saya mengetahui nama perempuan tua tersebut. Ia adalah Aisyah binti Muhammad, adik kandung Hasan Tiro.

    Tak jauh dari tempat Aisyah berdiri terlihat dua perempuan, Athiah dan Hamamah. Athiah adalah salah satu keponakan Tiro, sedang Hamamah adalah istri salah satu keponakannya.

    Hamamah penuh senyum. Ia mengatakan bahwa suaminya sering ditelepon Tiro untuk sekedar melepas kangen dan menanyakan kabar Aceh serta keluarga besar mereka.

    Sementara itu Aisyah tampak bingung dengan serbuan pertanyaan wartawan. Ia kemudian mengatakan bahwa kalau bisa, ia ingin berkumpul lagi dengan abangnya.

    Masih berdiri di samping saya, Hamamah berteriak kepada seorang lelaki separuh baya yang bersama Aisyah, “Bang, bilang Mamak kurang bisa dengar,”

    Aisyah berusaha menyimak pertanyaan wartawan. Murthada, putranya, ikut membantu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan itu pada ibunya.

    “Pakiban umi, na seunang (gimana umi, apa senang)?”
    “Seunang, hahahahah….,” Aisyah tersenyum lepas, kemudian tertawa.
    “Berapa lama Wali di kampung?”

    Aisyah menjawab bahwa ia  tidak tahu dan mengatakan semuanya tergantung dan terserah keinginan abangnya.

    “Biasa Cut bang galak masakan peu (biasanya Cut bang suka masakan apa)?”
    “Hana keuteuoh ka treb that hana meurempok. Singoh ka tanyong peu galak (tidak tahu sudah lama tidak jumpa. Besok kita tanya saja apa yang dia suka),” jawab Aisyah, lalu tertawa. Dan kami pun ikut tertawa.


    HAMAMAH mengajak saya ke belakang bus di dekat kami. Ia ingin mengenalkan saya kepada orang pilihan yang akan mengalungkan bunga ke Hasan Tiro.

    Orang yang dimaksud ternyata seorang perempuan paruh baya. Namanya, Pocut Sari.

    “Hai nyak, lakoe lon baroe kenduri tujoh, keu bela cit keujak keuno untuk peukalong bungong wali tapi ban 15 minet take off di peubatai  (Hai nak, suami saya lagi kenduri tujuh, saya bela-belain datang untuk mengalungi bunga hasan tapi 15 menit take off dibatalkan),” katanya, seraya menggenggam tangan saya.

    Suaminya, Tengku Usman Lampoh Awe, meninggal pada tanggal 3 Oktober lalu.  Sari terpaksa tak mengindahkan adat Aceh agar dapat mengalungkan bunga pada  orang yang merupakan sahabat dekat dan kawan seperjuangan suaminya.

    Dalam adat Aceh, seorang perempuan tidak boleh keluar dari lingkungan tempat tinggalnya selama 44 hari setelah kematian suaminya. Hari ketujuh merupakah salah satu hari penting dalam prosesi itu.

    Semula panitia penyambutan dari KPA memilih Aisyah dan seorang perempuan lagi untuk menabur padi di peusijuk penyambutan Hasan Tiro yang akan dilakukan langsung di depan tangga turun pesawat.  Sari diminta panitia mengalungkan bunga di leher Tiro. Tapi tiba-tiba keputusan itu berubah. Ia mendengar bahwa  panitia dari Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh akan mengambil alih peran tadi. Kabarnya, wakil gubernur Muhammad Nazar akan menggantikannya mengalungkan bunga. Sari tampak sedih dan kecewa.

    Tiba-tiba tiga lelaki berseragam hitam datang menenangkan Sari dan menyatakan akan segera melobi Pemda agar dirinya dapat ikut prosedur semula.

    “Teunang, droe neuh teutap peukalong bungong, nyoe kan aturan awai jih (tenang, anda tetap mengalungkan bunga, itu kan aturan pada awalnya,” ujar salah seorang dari mereka.  Seorang yang lain meminta saya menghentikan wawancara dan tidak berada di situ.

    Tak berapa lama, seseorang memegang sebentar pundak saya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia adalah Aisyah. Ia meminta saya tidak memotretnya dan juga tidak memotretnya saat ia bertemu dengan abangnya. Ia tak menjelaskan alasannya. Bukankah pertemuan dengan abangnya nanti merupakan peristiwa bersejarah dan berharga? Barangkali, ia termasuk golongan kaum tua yang masih percaya bahwa usia seseorang akan berkurang kalau dipotret.


    DI kejauhan iring-iringan dua truk berisi belasan lelaki separuh baya berkostum serba putih dengan ikat kepala kuning tampak memasuki area pendaratan. Belasan lelaki tersebut berdiri sambil memukul rapai-rapai (gendang) besar yang digantung di palang kayu, sehingga mirip jemuran pakaian.

    Pukul 11.05 pesawat carteran FireFly dari Malaysia tiba. Raungannya membuat para wartawan seperti tersengat dan bersiaga. Bagian keamanan dari KPA dengan sigap membentuk pagar betis sehingga para wartawan tak dapat mendekat. Saya sempat melihat Athiah, Sari, dan Aisyah berdiri berjajar dikawal pasukan azan. Saya sedikit lega melihat Sari. Sepertinya sudah ada titik temu yang membuat ia kembali menjalankan tugasnya sebagai pengalung bunga.

    Di ujung landasan telah siap tiga Landrover hitam. Satu per satu rombongan turun dari pesawat tersebut, namun tak tampak Hasan Tiro. Seorang fotografer berusaha menembus batas jarak wartawan untuk mendekat ke pesawat, tapi ia ditegur bagian keamanan.

    Selang beberapa detik beberapa wartawan lainnya nekad melewati batas yang ditentukan. Jarak yang diberikan kepada kami terlalu jauh dan tidak mungkin mendapatkan foto bagus. Apalagi barisan pengamanan mengelilingi objek target. Seorang lelaki tua berkepala nyaris botak keluar pesawat dipapah seseorang. Wartawan panik. Mendorong. Berusaha menerobos batas. Menghambur. Klik, klik, klik suara rana kamera terdengar di sana-sini. Sebagian berusaha mengejar lelaki itu.

    Saya tak mau kalah, ikut lari ke dekat mobil jemputan di area pendaratan. Ternyata  ia bukan Hasan Tiro. Lelaki itu abang kandung Malik Mahmud. Banyak wartawan yang kecele, seperti saya. Saat itulah Hasan Tiro turun dari tangga pesawat.

    Ia bersujud di tanah Aceh, lalu menjalani peusijuk. Tapi tak ada yang bisa mengabadikan peristiwa ini. Tiro lebih tua dari yang saya bayangkan dan tampak sehat. Ada juru kamera yang ditendang kepalanya, ada pula yang diangkat dan dijauhkan dari sasaran kameranya. Tiro dibentengi orang-orang yang menjaga jalur keluar. Tujuh penjaga khususnya merupakan mantan pasukan khusus GAM yang pernah memperoleh latihan militer di Libya. Mereka bertujuh berjalan mengelilingi Tiro. Setelah itu Tiro langsung dibawa sebuah Landrover untuk meninggalkan area pendaratan, yang akan membawanya ke Masjid Raya Baiturrahman.

    Setelah riuh dan ramai tadi, bandara Sultan Iskandar Muda mulai sepi. Mobil yang membawa Tiro telah menjauh dari gerbang keluar, diiringi mobil lain dan dua truk penabuh rapai.

    Saya melihat Pocut Sari melangkah ke arah saya. Senyum mengembang di wajahnya.

    “Dua boh bungong lon peusok (dua buah bunga yang saya kalungkan),” katanya, bangga.  Ia mengatakan bahwa sebenarnya rangkaian bunga yang satu lagi akan dikalungkan oleh pihak Pemda, tapi ia akhirnya mengalungkan dua-duanya.

    “Kan programnya saya, makanya saya pakaikan semua,” ujarnya. Ia menyatakan bahwa ia sangat bahagia bertemu Wali dan mendapat kehormatan sebagai satu-satunya orang yang mengalungkan bunga di lehernya.

    Tak berapa lama, saya melihat Aisyah binti Muhammad dipapah putranya dan seorang perempuan ikut mendampinginya. Sari maupun Aisyah kemudian pergi dibawa mobil yang berbeda.

    Tiba-tiba saya merasakan cuaca berubah mendadak, dari panas terik jadi dingin. Gerimis telah turun.


    DI Masjid Raya Bairurrahman, puluhan ribu massa berkumpul. “Assalamualaikom,” ujar Tiro. Suaranya parau, mirip orang yang hendak menangis.

    “Waalaikum salam warahmatullahibarakatuh….” jawab massa yang memenuhi halaman masjid serentak.

    “Allahuakbar!”

    “Uroe nyoe… (hari ini)”

    “Lon (saya)”

    “Woe (pulang)”

    “Ke…Aceh,”

    “Tempat Lon…(tempat saya),” suaranya, mendadak sangat parau, lalu ia pun langsung duduk.

    Naskah pidatonya dibacakan Malik Mahmud, mantan perdana menteri GAM. Isinya  menyebutkan ia ingin agar Aceh damai, sejahtera, dan bermartabat. Ia juga meminta agar pejuang Aceh tidak disebut lagi dengan kata “separatis”. Ia  meminta agar Aceh memperoleh kebebasan hak-hak sipil, ekonomi, dan budaya sebagaimana yang telah diatur dalam Perjanjian Helsinki.


    SELAMA lebih dari  30 tahun kami hidup dalam suasana konflik. Meskipun tempat tinggal saya tak terletak di zona konflik, tapi saya bisa mendengar letusan bom, desing peluru, yang tak kenal waktu. Berita pembakaran rumah dan sekolah merupakan santapan rutin orang Aceh ketika itu.

    Saya sendiri pernah terjebak dalam kontak senjata ketika pulang dari kegiatan belajar ekstrakulikuler di Simpang Tiga, Banda Aceh. Pengalaman tersebut membekas cukup lama dan menghantui hidup saya, sehingga saya bisa membayangkan bagaimana rasa takut dan trauma tetap tinggal di benak mereka yang menghuni di zona-zona perang GAM dan tentara Indonesia, yang biasanya di pedalaman.

    Sebuah film dokumenter berjudul The Black Road karya William Nessen menunjukkan kepada saya betapa peliknya kehidupan warga di desa-desa Aceh. Janda, yatim, mayat mudah ditemui di sana. Kaum laki-laki jadi sasaran pembunuhan atau penangkapan. Perempuan ikut ditangkap, dianiaya, atau diperkosa. Anak-anak tak bisa bersekolah, sedangkan makanan sulit didapat. Kebun-kebun tak terurus. Keluar desa, artinya sama dengan terjebak dalam baku-tembak atau kontak senjata.

    Hari itu, ketika  menyaksikan Tiro pulang ke Aceh, membuat saya yakin bahwa ia dan para pengikutnya benar-benar menginginkan perdamaian di sini. Saya masih ingat pernah membaca sepotong berita tentang orang GAM yang ditangkap dan akan dipenjarakan di luar Aceh. Mereka tak membawa apa pun, selain segenggam tanah Aceh. Apakah semua tahanan itu telah bebas dan menikmati perdamaian ini? Saya tidak tahu. Tapi bagi kami orang Aceh, ke mana pun kami pergi, Aceh adalah rumah kami untuk kembali. Melihat segenggam tanah itu, akan membuat semua kenangan, aroma, dan suasana kampung halaman seperti nyata.

    Malam itu, sebuah jamuan makan diselenggarakan di rumah gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Di situ pula Malik Mahmud menyatakan permohonan maaf atas sikap tak bersahabat beberapa pengawal Hasan Tiro di bandara tadi. Rupanya beberapa wartawan melapor ke Irwandi.

    “Saya mewakili Hasan Tiro dan seluruh anggota delegasi meminta maaf sebesar-besarnya,” ujarnya.


    *)Novia Liza adalah kontributor Aceh Feature Service di Aceh. Ia juga mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry.