“INI senjata jenis Browing, buatan Amerika tahun 1953. Dan ini senjata milik tentara Kodam (Komando Daerah Militer) VI Tanjung Pura yang rusak saat perang dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tahun 2003,” kata Kapten Sartono, kepala Museum Tanjungpura.
Museum ini terletak di Kampung Baru, Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia milik Kodam VI Tanjungpura.
Ada delapan ruangan di sini. Masing-masing menyimpan berjenis senjata, peralatan medis, dan radio komunikasi. Menurut Sartono, benda-benda itu berasal dari perang di tahun 1950-an, operasi Seroja di Timor Leste, dan perang melawan pemberontak GAM di Aceh.
Saat meresmikan museum ini pada 22 September 2008 lalu, Pangdam VI Tanjung Pura Mayor Jenderal Tono Suratman mengatakan bahwa pendirian museum ini untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menghormati jasa pahlawan, khususnya di kalangan kawula muda.
"Penghormatan semacam itu yang saat ini mulai terkikis,” katanya.
Di ruang utama museum terpampang nama-nama jenderal yang pernah menjabat Pangdam VI Tanjungpura. Mereka itu antara lain Jenderal Feisal Tanjung dan Mayor Jenderal Muchdi Prandjono. Feisal Tanjung dianggap bertanggung jawab terhadap penyerbuan markas Partai Demokrasi Indonesia pada 27 Juli 1996. Berdasarkan data resmi Komisi Hak Asasi Manusia Nasional, 26 orang tewas dalam peristiwa itu. Sedangkan Muhdi Prandjono kini menjadi tersangka kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir Thalib. Munir meninggal di atas pesawat yang membawanya menuju Amsterdam pada tanggal 7 September 2004 akibat racun arsenik.
"Nah, di ruangan inilah kita pamerkan senjata bekas dipakai prajurit Kodam waktu bertempur melawan GAM. Bisa kita lihat senjata ini rusak akibat terkena peluru GAM. Beruntung prajuritnya selamat," kisah Sartono, bersemangat.
"Semua barang-barang ini kita kumpulkan dari berbagai kesatuan dalam waktu tiga minggu sampai diresmikan," katanya.
Selain memamerkan benda bersejarah, para pengunjung juga dapat menonton film dokumenter dari berbagai perang. Seusai menonton film, Anda boleh latihan menembak di ruang belakang museum.
Seorang pengunjung museum, Amir namanya, mengatakan bahwa penjelasan tentang perang yang didengarnya di museum ini berbeda dengan apa yang diketahuinya dari cerita atau berita.
"Misalnya tentang Timtim yang saya tahu cuma ada masalah, kemudian membentuk negara sendiri, begitu juga Aceh tahu-tahu udah damai," katanya.
Bagi Amir melihat foto-foto perang, bekas senjata yang digunakan pejuang, bisa mendekatkannya dengan realita perang sebenarnya.
Sartono menyatakan bahwa koleksi benda bersejarah akan ditambah perlahan-lahan.
"Khususnya yang di kalimantan, kita yakin masih banyak yang belum ditemukan,” katanya.
Karena menurut catatan sejarah, pulau Kalimantan juga memiliki jejak perjuangan yang penting.
Pada Maret 1942, Jepang menyerbu Asia Tenggara. Pada 1944, Jepang curiga ada upaya melawan pemerintahan militernya di Pontianak. Tentara Jepang kemudian mengumpulkan lebih dari seribu orang berpendidikan. Sultan, dokter, guru, saudagar. Cina, Arab. Melayu, Dayak. Mereka dibunuh di Mandor, dekat Pontianak, pada 28 Juni 1944.
Tak hanya Pontianak, kota Balikpapan juga jadi saksi sejarah perang. Ratusan tentara Australia tewas di sini pada Perang Dunia II, sehingga dibangun tugu peringatan untuk mengenang mereka.
Tapi dari apa yang diabadikan di museum militer Tanjung Pura menunjukkan bahwa perang tidak hanya terjadi dengan negara lain atau bangsa asing, tapi juga dengan sesama saudara dan sebangsa.***
*) Musthofa Bisri adalah kontributor Aceh Feature Service di Kalimantan.
